Minggu, 05 April 2009

Sisi Religi



HidupKu Untuk UmatKu

Setelah melewati masa prapaskah, umat Katolik secara serentak pada hari Minggu (5/4) memasuki pekan suci ditandai dengan Minggu Palma.

Minggu Palma disebut juga Minggu mengenangkan Sengsara Tuhan, sebab pada hari itu kita mendengarkan Passio yaitu Kisah Sengsara Yesus.

Pada zaman ini rakyat sampai rela menghamparkan pakaiannya dan menyebarkan ranting-ranting hijau untuk menyambut raja dengan berseru ”Hosanna!, Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan! Diberkatilah kerajaan yang datang, kerajaan Bapa kita Daud! Hosanna di tempat yang mahatinggi!”

Yesus Kristus seorang Raja dieluk-elukkan rakyat sampai gerbang Yerusalem. Yesus bermaksud menyampaikan dua pesan yang jelas kepada rakyat Yerusalem. Yang pertama bahwa Ia adalah raja, yang kedua adalah bahwa Ia bermaksud membawa damai sejahtera.

Setelah memasuki gerbang Yerusalem (memasuki gereja), pada saat bacaan Injil melalui Passio. Yesus mulai dikianati oleh rakyat melalui hasutan para Imam Agung dan Ahli Taurat. Karena tidak mau memiliki raja, selain kaisar.

Satu sisi di Minggu Palma ini, kita sebagai umat Katolik untuk berefleksi atas tindakan kita selama ini kepada orang lain. Apakah sudah berkenan kepada mereka atau belum? Bila belum, apa yang kita lakukan untuk mereka supaya mereka juga merasakan kebahagiaan kita?

Mari kita tumbuhkembangkan semangat bela rasa kita kepada mereka. Tanpa mereka, kita juga tidak akan hidup. Maka pada pesan yang kedua dijelaskan bahwa Yesus menyuarakan kedamaian bagi semua orang.

Untuk mewujudnyatakan kedamaian ini, kita ungkapan dalam tobat kita melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2009.

”Tema APP 2009 kali ini menyuarakan kedamaian antar umat beragama, yakni Komunitas Dialogis Bersama Umat Beragama Lain Mewujudkan Kesejahteraan Umum.”

Sehingga yang diharapkan mempunyai nilai pembaharuan pribadi dan nilai solidaritas tingkat paroki, keuskupan dan nasional. Hendaknya di setiap paroki diadakan kegiatan sosial konkret yang membantu masyarakat umum, seperti misalnya mengadakan beasiswa, pengobatan untuk umum, donor darah, pasar murah dan lain-lain.

Mgr. Sutikno juga menyerukan bahwa hendaknya diusahakan agar masa tobat sungguh menjadi masa pembaharuan rohani umat di Lingkungan, Wilayah, Paroki dan kelompok-kelompok kategorial, rekoleksi, retret, ibadat Jalan Salib, meditasi dan sebagainya, serunya.

Setelah merayakan Minggu Palma, tiga hari lagi kita merayakan Tri Hari Suci dengan diawali dengan Kamis Putih. Setelah merayakan perjamuan terakhir dengan simbol pembasuhan kaki, kita diajak untuk berjaga-jaga bersama Yesus dalam tuguran.”

Keesokkan harinya, Jumat pagi Orang Muda Katolik menvisualisasi Jalan Salib dan jam tiga sore kita merayakan Jumat Agung. Hari Sabtu (11/4), kita akan merayakan malam Paskah diawali dengan pemberkatan lilin Paskah. (asep.)

Selamat Hari Raya Paskah!

Oase


Tumbuhkan Healing, Success, Happiness, dan Greatness

SMA Santa Maria akan mengelar pelatihan Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) pada hari Senin (13/4) di Aula Santa Maria, Jl. Raya Darmo No. 49, Surabaya.

”Pelatihan SEFT ini telah berkembang di beberapa kota di Indonesia, misalnya Jakarta dan Surabaya. Bukan hanya di Indonesia, SEFT ini telah mengembangkan sayap hingga Singapore, Hongkong, Australia, dan Saudi Arabia,” jabarnya.

”Kita juga patut berbangga hati, karena nantinya tanggal 13 April 2009 yang datang untuk memberikan pelatihan SEFT-Ahmad Faiz Zainuddin (Founder SEFT). Biasanya kalau ada pelatihan SEFT belum tentu yang hadir Bapak Ahmad Faiz Zainuddin sendiri, melainkan staf ahlinya.”

Ahmad Faiz Zainuddin yang akan memberikan sendiri di SMA Santa Maria, setelah memberikan pelatihan di Mercure-Graha Mirama, Jl. Raya Darmo. Tinggal menyebrang untuk singgah ke SMA Santa Maria, terang Dini Respati, S.Psi.

Pada saat preview SEFT di SMA Santa Maria yang memberikan presentasinya, yakni rekan Syarif Thayib. Syarif Thayib ini alumni UNAIR, berkarya di dunia pendidikan menjadi dosen di IAIN Sunan Ampel.

Syarif Thayib mengatakan pelatihan SEFT menawarkan proses dan hasil yang berbeda. Pelatihan SEFT menggunakan hasil strategi low intensity, high sustainability. Dengan fokus pada pemberdayaan (mengajarkan ketrampilan spesifik) dan menekankan hasil jangka panjang. Nantinya setiap peserta dapat langsung mempraktekkan SEFT untuk masalah masing-masing dengan cara memotok-motok di bagian peredaran darah.

“Harapnya setelah pelatihan ini peserta dapat menguasai teknik ini. Dan, peserta mempunyai goals ke depan, diantaranya Healing, Success, Happiness, dan Greatness,” jabarnya.

Lanjut, Syarif juga memperlihatkan hasil dari pelatihan melalui video yang ditampilkan lewat Liquid Crystal Display (LCD). Begitu juga Sang Motivator, Tung Desem Waringin mengakui “Jika ingin belajar teknik menyembuhkan diri dan trauma dengan teknik ‘tapping’ dan spiritualitas, belajarlah dari yang terbaik, penemunya, Ahmad Faiz Zainuddin, learn from the best ordie like the rest”. Nantikan kelanjutannya pada hari Senin! (asep.)
Ilustrasi diambil dari image.google.co.id

Minggu, 29 Maret 2009

Felis - The Cat


Laku Lagak Kucing Kampong

Bekerjasama dengan Petra Togamas-Toko Buku, Jl. Pucang Anom Timur No. 15, Romo Yohanes Gani Sukarsono, CM bersama rekan seprovesinya menjadi tukan foto, yakni B.G. Fabiola Natasha mengelar pameran foto di gedung Seruling Bambu Art Space.

Pameran foto yang bertajuk Felis-The Cat mengisahkan Laku Lagak Kucing Kampong. Pameran foto ini berjumlah 30 foto dipameran dengan gaya minimalis. Saat kita masuk ke dalam gedung tersebut melihat ucapan berupa karangan bunga.

“Setting tempat pun dibuat berbentuk huruf U, ditengah-tengah ada dua pilar yang dikombinasi dengan kain Bali dengan ciri khas, yakni hitam kotak-kotak.”

Berbagai ekspresi kucing kampung ini bergaya, bak model yang sedang bergaya di atas panggung. Bahkan setiap foto yang semuanya kucing ini diberikan judul dan nama fotografernya.

Seperti foto No. 13 yang berjudul “Tuan dan Hamba” hasil jepretan dari Romo Yohanes Gani Sukarsono, CM. Bahkan foto No. 14 berjudul “Pemilik Kost” hasil jepretan dari B.G. Fabiola Natasha.

Kucing ini seakan-akan pemilik kost, padahal fotografer ini mengambil gambarnya pas berada di bawah tulisan “Terima Kost”. Bahkan sorot matanya kucing ini tajam sekali.

“Dari sinilah mungkin, ide pemberian judul dilihat dari kesetiaan menunggu momen yang pas untuk menghasilkan yang terbaik.”

Seperti yang dikatakan oleh Media Harian di Surabaya mengatakan bahwa mengenai foto ini, salah satu dari hobbynya yang suka berkelana dalam memperjuangkan masyarakat kecil. (sep.)

Kamis, 26 Maret 2009

ITATS Berbenah


Bangun Taman Hotspot
Sejak pertengahan tahun 2008, ITATS mulai berbenah sarana prasarana di lingkup ITATS. Diantaranya di belakang gedung Pelayanan Satuan Atap, tetapi mahasiswa-mahasiswi lebih mengenalnya dengan PSA. Sarana di belakang PSA ini telah direhap menjadi taman hotspot.

Sebelum pembenahan, pertengahan tahun 2008, ITATS membentangkan spanduk yang bert
uliskan “Lahan akan dibangun taman hotpot”. Taman Hotspot menjadi gudangnya ilmu di dunia maya.

“Gaya taman hotspot ITATS ini lebih menonjolkan minimalis. Ada dua pendopo yang dibangun di samping kirinya dan disamping kanannya dibangun pendopo utama yang dibawahnya dikombinasi kolom mini. Lengkap dengan taman yang menghiasi suasana di sekitar gedung B ITATS.”

Mahasiswa-mahasiswi telah lama menanti keindahan taman hotspot ITATS ini. Karena selama ini mereka memakai fasilitas hotspot di depan ruang PSA. Bahkan sering berebut tempat duduk dan aliran listrik.

Untuk mengakomodir hal tersebut, ITATS membangun fasilitas taman hotspot. ”Gunakan fasilitas ini untuk kepenuhan wacana kita sebagai mahasiswa-mahasiswi ITATS.”

Taman menjadi hal terindah bagi manusia di kala mengalami kepenatan dalam menjalani rutinitas. Dengan taman ini, kita disegarkan pikiran layaknya hijaunya daun yang mewarnai keceriahan lingkungan ITATS ini.

Lebih jauh, Hotspot adalah lokasi dimana user dapat mengakses melalui mobile computer (seperti laptop atau PDA) tanpa mengguakan koneksi kabel dengan tujuan suatu jarigan seperti internet. Jaringan nirkabel menggunakan radio frekuensi untuk melakukan komunikasi antara perangkat komputer dengan akses point dimana pada dasarnya berupa penerima dua arah yang bekerja pada frekuensi.

”Jaga taman hotspot kita ini dengan iman dan harapan akan kesuksesan ITATS dan kita sebagai mahasiswa-mahasiswi ITATS.” Berikan yang terbaik untuk ITATS dan kepenuhan pribadi kita. (sep.)

Senin, 16 Maret 2009

Cermin


Jabatan dan Perilaku

Seorang berkata padaku sambil memuji-muji seseorang yang memangku jabatan tinggi di Gereja. Mendengar itu aku hanya tersenyum. Dia bertanya mengapa aku tersenyum sinis? Padahal aku tersenyum biasa saja. Dia berharap aku pun ikut memuji kehebatan bila orang mampu memangku jabatan tinggi di Gereja. Aku tanya apakah hebatnya sebuah jabatan? Dia lalu menjelaskan banyak hal tentang hebatnya sebuah jabatan. Gereja adalah kumpulan umat manusia yang beriman pada Yesus. Mereka adalah bagian dari dunia, yang berarti semua pola pikirnya tetap mengikuti pola pikir yang berkembang di dunia.

Bila umat manusia di dunia menganggungkan jabatan maka anggota Gereja pun menganggungkan jabatan. Memang banyak orang yang tahu dan pernah baca Injil dimana Yesus mengkritik para rasul yang berebut jabatan untuk duduk di sebelah kanan dan kiri atau mengklaim siapa yang terbesar diantara mereka. Tapi apa yang dibaca itu hanya sekedar pengetahuan. Masih jauh dari penghayatan. Bila Yesus menegaskan bahwa orang yang ingin menjadi besar harus melayani atau jabatan untuk melayani, namun kenyataannya jauh dari itu.

Tidak jarang jabatan itu menjadi ajang pamer kekuasaan, sebab memang dunia mengajarkan bahwa sebuah kedudukan terkait erat dengan kekuasaan dan kehormatan. Banyak umat yang jengkel dengan seorang romo yang sering menunjukkan kekuasaanya. Tidak jarang dia mengatakan saya ini romo kepala yang berkuasa atas paroki ini. Bila kebijakannya diserang maka dengan cepat dia mengatakan "Yang menjadi romo paroki itu kamu atau aku?" Aku yakin bahwa Yesus tidak mengajarkan hal itu, tapi pola pikir dunia yang sudah menancap dalam di dalam sanubarinya maka pola pikir dunialah yang muncul sedangkan ajaran Yesus hanyalah sebuah perkataan dan pengetahuan. Dalam budaya Jawa sering orang mengatakan "Wong jawa kok ora njawani."

Hal ini bila ada orang yang bersikap atau bertutur kata tidak sesuai dengan budaya dan adat Jawa. Dari kalimat ini tersirat arti bahwa kejawaan seseorang dilihat dan diukur dari cara dia bersikap dan bertutur kata. Bila dia tidak mampu bersikap atau bertutur selayaknya tata aturan budaya Jawa maka dia dianggap tidak njawani. Dia bukan orang Jawa. Dengan demikian kejawaan seseorang bukan karena dia dilahirkan sebagai orang Jawa atau di tanah Jawa tapi dari cara dia bersikap, bertindak dan bertutur kata. Sebetulnya prinsip ini juga dapat diterapkan pada jabatan. Jabatan adalah sebuah tempat dalam sebuah struktur yang dibuat dan disepakati oleh masyarakat atau sebuah komunitas. Dalam Gereja ada herarki yang sudah disepakati oleh umat Katolik dimana dalam herarki itu ada tempat-tempat yang diduduki oleh seseorang.

Bila prinsip orang Jawa itu diterapkan dalam Gereja maka seorang romo itu baru bisa disebut sebagai romo bila dia bersikap dan bertutur selayaknya seorang romo. Bukan karena dia menduduki jabatan atau ditahbiskan begitu saja. Yesus disebut Anak Allah bukan karena Dia dikandung oleh Maria dari Roh Kudus, melainkan karena Dia melakukan banyak karya bagi manusia. Dia mengajarkan agar manusia kembali kepada Allah. Keanakallahan Yesus terpancar dari sikap hidup, perkataan dan apa saja yang dilakukanNya. Maka ketika disalib seorang prajurit dengan melihat cara Yesus mati, dia menjadi percaya bahwa orang ini adalah sungguh Anak Allah.

Pertanyaan kecil apakah para romo sudah menunjukkan keromoannya dari tutur kata dan sikapnya? Bila dia sudah menunjukkan keromoannya dari perilakunya, maka dia tidak perlu mengatakan "saya ini romo paroki" atau "siapa yang menjadi romo, saya atau kamu?" Orang yang masih menyatakan jabatan apa yang disandangnya mungkin sebetulnya dia tidak mampu menunjukkan jabatan itu dari sikap hidupnya. Dia adalah seorang romo yang tidak ngromoi, maka perlu menyatakan diri siapa adanya. Bagiku orang seperti ini adalah orang yang patut dikasihani. Maka aku tersenyum. (Gani) Kiriman dari sahabat mailing listku. Hidup, ikan segar!.


Ilustrasi dari image.yahoo.co.id

Minggu, 01 Maret 2009

Pertanian Organik


Penyelamatan Tanah = Menyelamatkan Manusia


Dalam beberapa tahun terakhir ini, Keuskupan Surabaya melalui Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) menggencarkan gerakan pertanian organik. Secara geografis letak wilayah Keuskupan Surabaya memang sangat didominasi wilayah agraris, tentunya tidak sedikit pula umat yang menekuni bidang pertanian atau perkebunan.
Di beberapa vikep sudah ada gerakan pertanian organik, misalnya di Blitar ada Wahana Bina Patria di bawah naungan Yayasan Yosef, di Cepu sudah ada proyek percontohan pertanian organik, dan di Ngawi pertanian organik sudah berjalan cukup lama. Bupati setempat juga sangat mendukung gerakan pertanian organik ini.


Penggalakan pertanian organik menjadi prioritas program PSE tidak hanya di keuskupan semata, namun juga sebagai di tingkat Konfrensi Wali Gereja Indonesia (KWI). Bahkan, dalam medio Maret 2009 KPSE Keuskupan Surabaya berencana mengadakan Pelatihan Pertanian Organik se-Kevikepan Madiun dan Cepu.

Hal ini sebagai bentuk kepedulihan gereja terhadap keberadaan tanah sawah yang semakin lama semakin rusak akibat pemakaian pupuk kimia yang berlebihan dalam waktu yang panjang. Kalau tidak diubah dari pola tanam anorganik ke organik, niscaya tanah sawah tak akan lagi bisa berproduksi beras yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia.

Keuntungan dan Kesiapan
Perubahan pola tanam dari anorganik ke organik yang saat ini dicanangkan oleh gereja memang membawa dampak yang baik bagi tanah sawah, namun tidak dalam jangkah waktu yang pendek.
Dari berbagai wawancara yang dilakukan penulis pada orang yang sudah melakukan pola tanam organik, memang perubahan tersebut membawa dampak yang tidak menguntungkan bagi petani dalam jangka waktu satu sampai tiga tahun. Tetapi setelah tiga tahun, perubahan itu akan terus membaik seiring dengan membaiknya kondisi tanah tersebut.

Bahkan, di Ngawi para katalisator pertanian organik (Bambang Gunadi dkk) pada awalnya merangsang dengan cara membeli 10 persen lebih mahal dari harga pasaran.

Sedangkan dari beberapa petani yang berhasil ditemui di sekitar penulis bermukim menyatakan bahwa pertanian organik itu bagus, tetapi terlalu lama dan hasilnya sedikit, sehingga berpengaruh langsung terhadap penghasilan. Selain itu, "Kami belum tahu di mana mendapatkan benih organik beserta pembasmi hamanya. Sedangkan seandainya membuat pupuk sendiri, sawah kami tak tergarap."

Perubahan Pola Tanam
Dalam perubahan pastilah membawa dampak, entah itu menyenangkan atau tidak menyenangkan dari semua sisi kehidupan. Begitu pula dalam upaya penyehatan tanah kembali atau mengubah pola tanam dari anorganik yang selama ini dilakukan oleh petani, menjadi pola tanam organik supaya pada akhirnya tanah dapat terus berproduksi dan hasil panen petani dapat melebihi dari pada hasil anorganik bukanlah pekerjaan yang mudah.

Karena hal tersebut membawah perubahan terutama menyangkut ekonomi, bagi petani yang sudah lama melakukan perubahan pola tanam tentunya sudah melewati situasi penurunan produksi bahkan sudah mengalami peningkatan hasil panen, tetapi bagi yang baru atau akan melakukan perubahan tentu saja akan merasakan penurunan produksi selama satu sampai tiga tahun ke depan.

Penurunan tersebut merupakan situasi yang tidak menyenangkan bagi petani yang baru melakukan perubahan pola tanam, karena hal tersebut berdampak langsung terhadap perekonomian para petani. Sebagai dampak lain yang ditimbulkan dari penerimaan penghasilan yang mengalami kemerosotan yang tajam tentunya akan berdampak psikologis yang hasus ditanggung oleh petani.

Bagaimanakah gereja menyikapi hal ini? Apakah hanya cukup membeli 10 persen lebih mahal dari harga pasaran? Perlukah dilakukan penyadaran dan pendampingan untuk selalu memelihara motivasi petani, paling tidak sampai kondisi tanah kembali normal dan hasil panen mengalami peningkatan ? Tentunya hal tersebut di atas perlu dipikirkan bersama, sebab bagaimanapun juga upaya penyelamatan sawah yang saat ini digalakkan sama dengan penyelamatan manusia dalam jangka panjang. (Heri Risdianto)

ilustrasi diambil dari http://www.sragen.go.id/

Jumat, 27 Februari 2009

Gelar Konser Amal Kasih


The Almighty Has Done Great Things For Me

Semenjak tahun 1990 subsidi dari luar negeri berhenti, YLKD mulai berusaha mandiri dengan mengoptimalkan karya kesehatan dan menghimpun dana dari para dermawan kecil.

Melalui Direktur Lembaga Karya Dharma Keuskupan Surabaya, J. Chrys Wardjoko bersama Sr. Liduine Marie, SPM dari Sasana Widya Musik Gereja ’Magnificat’ Surabaya menyampaikan gagasannya kepada Ketua Yayasan Lembaga Karya Dharma, Romo Yosef Eko Budi Susilo dengan mengadakan malam dana. Dan rencana ini disambut baik oleh alumni Seminari.

”Akhirnya gagasan ini disampaikan kepada Bapak Uskup. Bapak Uskup menyetujui malam dana tersebut,” jelas Ketua Yayasan Lembaga Karya Dharma.

Melaui proses, kerjasama, dan perjuangan yang tidak mengenak lelah dari panitia, akhirnya terlaksana Konser Amal Kasih ini. Konser Amal Kasih ini diadakan di Ballroom Supermal Pakuwon Indah, Sabtu (21/2) lalu dalam rangka malam dana dan 45 tahun Lembaga Karya Dharma Keuskupan Surabaya. Konser Amal Kasih ini bertajuk ”The Almighty Has Done Great Things For Me”, Lukas 1:49.

Seperti yang dituturkan oleh Ketua Panitia, Anton Teguh bahwa rencana semula konser ini bagian ‘konser rutin’ Sasana Widya Musik Gereja ’Magnificat’ Surabaya yang diagendakan setiap dua tahun sekali, tutur Ketua Panitia.

Akhirnya Konser kali ketiga ’Maginificat’ dikemas dalam Konser Amal Kasih untuk menumbuhkembangkan karya karitatif Yayasan Lembaga Karya Dharma pengembangan musik liturgi ‘Magnificat’.

Dan Anton Teguh mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prio Oetomo yang telah mempertemukan YLKD dengan ”Maginificat ” sehingga dapat kerja bareng, terang Anton.

Tidak hanya itu, Sr. Liduine Marie dari tarekat Santa Perawan Maria juga menuturkan bahwa puji syukur kami ungkapan dalam tim paduan suara Konser Amal Kasih. Karena Tuhan jugalah yang memberikan kepada kami kurang lebih 100 orang penyanyi yang rela datang dari Surabaya dan Malang, tutur Sr. Liduine.

Sebelum konser dimulai, panitia menayangkan kilas balik sejarah Yayasan Lembaga Karya Dharma dan dilanjutkan dengan pemotongan kue tar oleh Bapak Uskup didampingi oleh Romo Yosef Eko Budi Susilo, J. Chrys Wardjoko, Anton Teguh, dan Sr. Liduine Marie, SPM.

Usai pemotongan kue tar, Bapak Uskup memberkati empat cewek dalam prosesi Bunda Maria. Prosesi diiiringi oleh Community Singing ‘Magnificat ’ karya Mgr. Marco Frisina dengan conductor Rudyanto Marcellino.

Tak lama kemudian konser pembuka dibuka dengan koor anak BIAK Redemptor Mundi dan SDK St. Yusuf Karangpilang yang dipimpin oleh Victor Helmy. Lagu yang mereka bawahkan diantaranya if you are happy, alle jahre wieder, dan you paidi, you paida.

Langsung dilanjutkan dengan pelelangan lukisan sosok Bapak Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wicaksono oleh Laurentius Liem. Laurentius mengatakan bahwa pelukisnya ada diantara kita semua yang hadirin pada waktu itu. Pelukis bernama Jaya Laksana dari Bali.

Dengan kepandaiannya melelang lukisan itu, Bapak Lauren akhir mengumpulkan dana sebesar empat puluh lima juta rupiah. Lukisan tersebut diberikan kepada Johan Tedja dan diberikan langsung oleh Bapak Uskup. Bapak Uskup juga menandatangani lukisan tersebut.

Tak lengkap bila tema ini hanya sekedar tema, tema ini mengandung arti yang mendalam. Tema yang diambil dari Injil Luk 1:49 ini dalam bahasa Latinnya : “quia fecit mihi magna qui potens est.” Tema ini merupakan bagian dari Kidung ‘Magnificat’ di atas tatkala Bunda Maria menyebut salah satu alasan mengapa ia akan disebut “berbahagia” oleh segala keturunan.

Perbuatan amal kasih tidak pernah menemukan asal muasalnya dari inisiatif atau dorongan manusiawi semata. Tetapi selalu merupakan manifestasi sebuah kesadaran bahwa Yang Mahaskuasa telah bermurah hati kepada kita. Tindakan amal kasih wujud syukur dn terima kasih kita kepada Tuhan. Syukur dan terima kasih itu merupakan motivasi religius di balik sebuah tindakan sosial.

Melalui tindakan sosial ini diwujudnyatakan ke dalam konser amal kasih ini. Berbagai lagu dinyanyikan dengan merdu oleh peserta konser amal kasih, diantaranya Paduan Suara ’Magnificat’ (Gabungan), Laetttia Iuventae, Sanggar Musica Sacra, Purissima, dan Supraba.

Dari kelima paduan suara tersebut menyanyikan lima lagu, diantaranya You Raise Me Up, Great Day, Kyrie, Gloria (Misa Brevis Mozart), dan Heaven and The Earth Display (F. Mendelssohn). Tidak hanya itu kelima paduan suara ini semakin lengkap dengan campur para conductor, yakni Ibu Indung Susilowati, Mateus Suprat, Sr. Liduine Marie, SPM.

Selain kelima paduan suara tersebut, beberapa penyanyi solo turut mendukung konser amal kasih, yakni Anna Erika Risti, Monica Ratna Irmawati, Theodora Amabel Beatrice, dan Redempta Kinanthi Suksma Putri.

Puncak dari Konser Amal Kasih menampilkan Paduan Suara ‘Magnificat’ (Gabungan) melantunkan lagu ‘Magnificat’ dari Franz Schubert yang diconductori oleh A. J. Tjahjoanggoro. Paduan Suara ‘Magnifiat’ (gabungan) ini berjumlah kurang lebih 100 anggota. Saat sang conductor memulai dengan memberikan tanda kepada organis. Mulai terasa gaungnya dari Kidung ‘Magnificat’ ini. Perpaduan suara mulai sopra sampai bass membuat paduan suara semakin kompak dan mengeluarkan suara emas yang sangat merdu. Penonton terbius oleh nada dan suara Paduan Suara ‘Maginificat’. (sep.)