Senin, 12 Oktober 2009

Pameran Pendidikan 2009


Dimeriahkan Lomba Konstruksi Jembata dan Warung Alumni

Seperti yang dikatakan Kepala Satuan Pendidikan, Ir. Marceline Prophylia mengatakan pameran pendidikan ini, salah satu kegiatan rutin yang diadakan setahun sekali di SMA Santa Maria. Dan, kegiatan ini tidak kali pertama diselenggarakan oleh panitia. Tetapi kegiatan ini telah terselenggara enam kali sampai tahun 2009 ini, kata Kepala Satuan Pendidikan.


Kegiatan ini bertajuk ”Membangun Profesionalisme Generasi Muda”. Dan, setiap tahun kegiatan ini berbeda-beda. Tahun 2008, Panitia menyelenggarakan lomba robot Lego di ruang Romana untuk tingkat SMP se-Surabaya. Ketuanya Drs. I Ketut Samudra.


Untuk kali ini dimeriahkan dengan lomba kontruksi jembatan dan warung alumni. Sebelumnya melangkah keselanjutnya, pameran pendidikan ini bertujuan untuk memberikan kesempatan pada siswa-siswi dalam menggali informasi terkini tentang pendidikan lanjut. Sehingga siswa-siswi tidak gegabah dalam menentukan masa depan, terang Prophylia.


Tidak hanya itu, sebelum pameran pendidikan. Panitia menyelenggarakan presentasi untuk universitas atau institut yang telah mendaftarkan diri kepada panitia, Jumat (9/10). Diantaranya Widya Mandala, Maranatha Bandung, Duta Wacana Jogya, UPH, Ciputra, London School, Ubaya, UK Petra, dan Parahyangan.


A.F. Yoke Aprilina W., S.Pd, Koordinator Bimbingan Konseling mengungkapkan masing-masing universitas atau institut menjelaskan keberadaan dan keunggulannya selama empat puluh menit.


Keesokkan harinya, Sabtu (10/10) masing-masing peserta memamerkan produk unggulannya dihadapan siswa-siswi, orang tua atau wali, dan alumni, ungkap Yoke.


Sekitar pukul 08.00 wib, pameran pendidikan diawali dengan karawitan kontemporer, modern dance, tari tradisional-lenggang Surabaya, pelepasan burung, dan penguntingan pita.


Pelepasan burung dan penguntingan pita, masing-masing dilakukan oleh Bagus Novianto W, S.Pd. selaku ketua panitia. Dan, penguntingan pita dilakukan oleh M. Prophylia di bawah tangga menuju ruang guru.


Pertanda pameran pendidikan pun dimulai. Menuju ruang Romana terdapat warung alumni. Menurut FX. Rudy Prasetya S.S. mengatakan warung alumni ini menyediakan berbagai pengalaman dalam dunia kampus mulai dari jurusan teknik pertanian, kedokteran umum, psikologi, teknik informatika, ekonomi manajemen, perhotelan, desain komunikasi visual, dan fotografi.


Bentuk dari warung alumni didesain persegi. Hingga siswa-siswi SMA Santa Maria dengan bebas bertanya sesuai minat dan bakatnya. Nantinya pilihan, siswa-siswi tidak keliru jurusan. Karena sudah mempunyai bayangan ke depannya untuk memilih jurusan dan fakultas yang tepat, kata Pras, Humas SMA Santa Maria


Seperti yang dituturkan Petrina Joyowiguna, siswi kelas XII IPA 2 bahwa dia menginginkan untuk memilih kuliah di fakultas kedokteran. Maka, sejak kelas X dia memilih program IPA dan menyukai mata pelajaran Biologi, tutur Petrina.


Lanjut, menuju bangsal pameran pendidikan diwarnai dengan buku murah. Buku murah dijual 5.000 rupiah untuk buku tipis dan 10.000 rupiah untuk buku tebal. Di sampingnya buku murah ada lomba konstruksi jembatan.


Ketua Panitia selaku guru Fisika ini menuturkan lomba konstruksi jembatan bagian dari mata pelajaran Fisika, yakni vektor. Untuk mengetahui vektor harus diketahui terlebih dahulu masa beban dan jembatan itu sendiri.


Pengetesan konstruksi jembatan ini, awal mula dilakukan penimbangan konstruksi jembatan itu sendiri. Setelah diketahui berat, beberapa siswa mulai mencobanya dengan memberikan beban kepada jembatan tersebut. Dengan paving mulai dari 2 kg sampai 80 kg. Sampai berapa kuatnya konstruksi jembatan tersebut. Untuk menyagahnya, panitia menyediakan penyagah untuk meletak jembatan, tutur ketua panitia.


Ketua Panitia menambahkan konstruksi jembatan ini tidak menggunakan paku, melainkan lem. Dan, bahan kayunya sederhana. Kalau kita benar-benar membuat konstruksi jembatan, bahan kayunya memakai kayu Balsa. Kayu Balsa ini terdapat di Amerika. Harganya lebih mahal.


"Informasi ini didapatkan dari UK Petra pada saat studi banding. Tapi sebenarnya bahan kayunya tidak harus dari negara adhi kuasa. Kita bisa mencari kayu selevel dengan jenis kayu Balsa,” terang Bagus.


Selepas menuju bangsal, di setiap ruang kelas mulai dari kelas X dan kelas XII terdapat 26 stan dari perguruan tinggi. Dan, dipendopo terdapat bazar aneka makanan dan minum. Mulai dari soto, bakso, sate, nasi campur sampai air mineral. Alat pembayarannya tidak menggunakan uang, melainkan kupon menu. (asep)

Ilustrasi foto : suarasurabaya.net
Capation :
SEORANG siswa sedang menimbang masa jembatan.

Dies Natalis STIKOMP


SHISCO 2009, Aduh Kreatifitas dan Inovasi

STIKOMP, salah satunya sekolah tinggi komputer di Surabaya yang terletak di sebelah timur kota Surabaya. Kawasan perumahan pondok Nirvana-Wonorejo. Tepatnya di Kedung Baruk.

Menurut versi media-Tempo, STIKOMP merupakan 10 perguruan tinggi terbaik di Surabaya mapun Jawa Timur. Data tersebut, penulis dapatkan saat berada di kamar kecil. Tertempel di dinding dekat wastafel, lantai 9, Sabtu lalu (10/10).

“Menyambut 26 tahun, Dies Natalis STIKOMP. STIKOMP menggelar lomba besar-besaran. Lomba ini dikemas dalam Stikomp Surabaya High School Competition (SHISCO 2009).”

Berbagai jenis lomba diadakan di STIKOMP. Diantaranya English Rally, Film Indie, Aplikasi Akuntasi, Wiring, Desain Blog, Fashion, Desain Packaging, Desain Poster, Line Tracer, Robot Sumo, dan Logika & Pemrograman.

SHISCO 2009 tingkatannya tidak hanya Surabaya. Tetapi tingkatnya Jawa Timur. Menggundang peminat tersendiri, hingga membuat Sekolah Menengah Atas sangat antusias untuk mendaftarkan diri. Kurang lebih 30an peserta dari berbagai daerah berpartisipasi dalam SHISCO 2009. Diantaranya Mojokerto, Bangil, Gresik, Madiun, Malang, Jember, Lombang, dan Surabaya sendiri.

SHISCO 2009 ini mengawalinya dengan pembekalan peserta. Dengan dikemas dalam workshop sekaligus teknikel Meeting (TM) pertama. Workshop diadakan awal September mulai tanggal 8 September sampai 10 September 2009.

Lanjut, setelah workshop-lomba Film Indie, Desain Blog, Fashion, Desain Packaging, dan Desain Poster. Panitia meminta hasil karya yang dikonsep dan dibuat di rumah atau di sekolah. Dan, pengumpulannya tanggal 30 September 2009 dengan deadline paling lambat jam 12.00 waktu bagian STIKOM.

Setelah pengumpulan hasil karya, peserta SHISCO 2009 ini dikumpulkan dalam TM, tanggal 5 Oktober 2009 di lantai 9. Untuk persiapan babak penyisihan dan semi final. Babak penyisihan dan semifinal, panitia SHISCO melaksanakannya di area gedung STIKOM mulai dari lantai 1 sampai 9.

Hari terakhir, SHISCO 2009 digelar fashion di audit STIKOM. Dan, puncak acaranya berada di lantai 9 dengan menggelar robot SUMO dan Line Tracer. Usai, kedua jenis lomba tersebut, panitia dengan sigap memberikan semangat kepada para peserta. Sebentar lagi piala-piala ini akan mempunyai empunya, seru MC di mata para peserta.

Sebelum pengumuman pemenang, MC menyuguhkan Perkusi Dotnet. Perkusi ini tidak menggunakan alat yang begitu canggih. Tetapi mereka sangat kreatif dengan menggunakan peralatan bekas. Diantaranya tong sampah, panci, dan galon air mineral.

Tiba saatnya, pemenang diumumkan oleh panitia SHISCO 2009. Dan, pemenangnya mendominasi dari SMK Negeri 1, Surabaya. (asep)
Ilustrasi diambil dari images.google.co.id

Jumat, 09 Oktober 2009

Oase

Mendengarkan Cinta

Manusia memang makhluk rumit. Dan suka aneh sendiri. Hal-hal yang pingin kita omongin,
atau yang harus kita bilang, justru malah nggak pernah kita ungkap.
Parahnya lagi, kita terbiasa pake simbol-simbol atau kata-kata lain buat nunjukin arti sebenernya, seringnya maksud kita itu jadi nggak terkomunikasikan dan bikin orang lain ngerasa bete, nggak disayang, nggak dihargai.

Iya sih, ada saat-saat kita ngerasa nggak nyaman mengekspresikan cinta yang kita rasa. Karena takut mempermalukan orang lain, atau diri kita sendiri, kita ragu buat bilang, "I love you". Jadinya, kita menyampaikan perasaan itu lewat kata-kata yang lain; "jaga diri baik-baik", "belajar yang bener","hati-hati di jalan", "jangan ngebut", "jangan lupa makan".

Tapi sebenernya, itu cuma opsi-opsi lain dari perkataan yang sesungguhnya; "saya sayang kamu", "saya peduli sama kamu", "kamu sangat berarti buat saya", "saya nggak mau kamu terluka".

So, nggak ada salahnya kita coba MENDENGARKAN CINTA lewat kalimat-kalimat yang dikatakan orang lain. Ungkapan eksplisit itu penting, tapi bagaimana kita mengungkapkannya bisa jadi jauh lebih penting. Setiap pelukan bermakna cinta meski kata-kata yang keluar sangat berbeda. Setiap perhatian yang diberikan orang lain menyimpan cinta walau bentuknya kaku, atau mungkin kasar. Yang pasti, kita harus mencari dan mendengar cinta yang ada di baliknya.

Seorang ibu bisa ngomelin anaknya karena nilai rapot atau kamar yang berantakan. Si anak mungkin hanya mendengar omelannya. Tapi kalo dia bener-bener MENDENGAR, dia bakal mendapatkan cinta di sana. Kepedulian dan cinta ibunya muncul dalam bentuk omelan. Tapi gimana pun juga, itu adalah cinta.

Seorang gadis pulang larut malam, dan akhirnya dapet kuliah gratis dari bokapnya. Gadis itu cuma nangkep kemarahan sang bokap. Tapi kalo dia mencoba untuk MENDENGARKAN CINTA, dia bakal menemukannya. "Kamu gimana sih, Papa jadi khawatir sama kamu," kata bokapnya. Tau nggak, itu sama aja dengan "Papa sayang dan peduli sama kamu. Kamu sangat berarti buat Papa" yang sayangnya, nggak tersampaikan dengan lisan.

Kita mengungkapkan cinta dalam banyak cara - hadiah ulang tahun, pesan-pesan kecil, dengan senyuman, dengan air mata. Cinta nggak hanya ada dalam kata-kata, tapi juga dalam diam. Dan seringkali kita menunjukkan cinta dengan memaafkan orang yang nggak mau mendengar cinta yang kita sampaikan.

Masalah dalam "mendengarkan cinta" adalah kesulitan dan keterbatasan kita untuk mengerti bahasa cinta yang dipakai orang lain. Yang kerap terjadi, kita jarang mendengarkan orang lain. Kita mendengar kata-kata, tapi kita nggak mempertimbangkan ekspresi atau tindakan-tindakan yang mengiringi kata-kata itu. Sering juga kita cuma bisa mendengar hal-hal negatif, penolakan, kesalahpahaman, dan mengabaikan cinta yang menjadi dasarnya.

Dengerin deh, cinta-cinta yang ada di sekitar kita. Kalo kita bener-bener berusaha mendengarkan, kita bakal temui bahwa kita sebenarnya memang dicintai. Mendengarkan cinta bisa membuat kita sadar bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu indah.

Dan yang paling penting, membuat kita hidup.Bukanlah kehadiran atau ketidakhadiran yang penting; kita nggak perlu merasa kesepian meski kita sedang sendiri. Sendiri itu perlu, lho. Dan itu jangan sampe membuat kita jadi kesepian. Yang jadi masalah bukan berada bersama seseorang, tetapi berada untuk seseorang.

Jangan pernah ragu nyatakan cinta. Jujurlah dengan apa yang kita rasa dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri. Ambil kesempatan untuk mengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia buat kita. Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.

Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga, karena mereka udah berjasa membangun diri kita yang sekarang. Cinta memang ada untuk ditebarkan. Dan saat cinta yang kita berikan diterima, atau dibalas, itulah saat hidup menjadi penuh makna. (artikel ini dikirim oleh temanku "Lanny Septiana" star5lan@yahoo.com)


Senin, 28 September 2009

Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo-Garum



MENULIS DAN MEWARTAKAN

(Sebuah Pembelajaran untuk Calon Pewarta)
Oleh IL Parsudi


Dalam rangka menghidupi tema tahunan “Seminaris Insan Pembelajar”, Sabtu (19/9), Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menyelenggarakan seminar dengan tema “Budaya Menulis dan Meneliti: Apa dan bagaimana Menulis Opini?” Kegiatan ini berawal dari keprihatinan bahwa di era informasi ini masih dijumpai banyak calon imam yang kemampuan menulisnya masih rendah. Lebih lagi, bila kemampuan tersebut dipandang dari sudut pewartaan.

Oleh karena itu, tidak berlebihan bila Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menangkap dan memperhatikan adanya kebutuhan meningkatkan kemampuan menulis para siswanya itu. Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, yaitu Bapak St. Kartono, guru SMA Kolese De Brito, Yogyakarta. Berikut pembelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan seminar tersebut.

“Mengapa menulis?”

Demikian St. Kartono membuka seminar. Pertanyaan ini menggugah para peserta untuk menyadari makna kegiatan menulis. Sekian jawaban dapat segera dilontarkan. Ada yang menulis karena ingin terkenal. Ingin mencari nafkah tambahan. Ingin berkembang intelektualnya. Ingin mendiskusikan saja. Ingin ini itu dan sebagainya. Lebih dari itu semua, menulis karena ingin mengubah dunia.

Menurut penulis dan juga dosen itu, menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Lain kata, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup”. Dalam kerangka pandang tugas manusia, dapat dikatakan “Menulis itu mewartakan”.

Menulis membutuhkan keberanian karena tulisan harus membawa pencerahan. Berani menyatakan pendapat meski mungkin berseberangan dengan arus utama. Inilah spirit yang membangun keberanian baru yang membawa pencerahan untuk masyarakat dan sesama.

Pintu masuk untuk menulis dan pencerahan adalah dengan membaca realitas dan teks dengan mata, telinga, dan hati dengan kritis. Ide-ide segar dilatih dengan bertanya. “Mengapa begini? Mengapa begitu? Bagaimana seharusnya? Bagaimana kenyataannya? Solusi apa yang bisa ditawarkan? Inilah pintu menuju penemuan pengetahuan.

Memahami Konteks

Konteks adalah situasi atau lingkungan yang berhubungan dengan suatu kejadian atau kegiatan. Dalam menulis, konteks akan memberikan bobot makna dan pengaruh/efek sebuah tulisan. Tanpa konteks, sebuah tulisan akan menjadi kering, tidak membumi dan tidak mempunyai kekuatan mengubah. Oleh karena itu, memahami konteks adalah perlu. Konteks yang dimaksud adalah sebagai berikut.

Pertama, konteks penulis. Siapa pun ia penulis (pewarta) perlu menyadari siapa dirinya, di mana ia berada, sebagai apa ia di sana, dan bagaimana ia melibatkan diri di sana. Dalam dinamika reflektif, ia perlu berusaha memahami dan mengenal konteks latar belakang diri sendiri dan orang lain, peristiwa, atau tempat yang dihadapinya. Misalnya, seorang guru atau imam yang menulis (mewartakan) perlu mencoba mengenal konteks topik yang akan ditulisnya: lingkungan, kebiasaan, budaya, latar ekonomi, nilai-nilai tradisi yang dihidupi di tempat tertentu. Berusaha mengerti keprihatinan, masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat yang menjadi perhatiannya. Dengan demikian, penulis dapat menentukan dengan tepat apa yang harus dan dapat dikembangkan mengenai sebuah masyakarat atau komunitas.

Kedua, konteks wacana nilai. Konteks untuk menyampaikan tulisan adalah wacana tentang nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan. Maksudnya agar pembaca menyadari nilai-nilai kemanusiaan yang ingin diperjuangkan. Nilai-nilai yang mestinya diperjuangkan seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggung jawab, kerja keras, kasih sayang, ugahari, ketaatan, kerja sama, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup.

Ketiga, konteks lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat yang mengusahakan suasana yang menghargai setiap orang, ditunjukkan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar, yang baik, dan yang indah. Idealnya, masyarakat sebagai bentuk kehidupan bersama merupakan tempat orang dipuji dan dihormati, tempat saling membantu, bekerja sama dengan semangat dan murah hati untuk menyatakan secara konkret melalui perkataan dan perbuatan idealisme bersama.

Menemukan Bentuk

Suatu gagasan akan menjadi konkret dan dapat dipahami bila diberi bentuk dan dikemas dengan baik. Gagasan sebuah tulisan akan jelas bila ada bentuknya misalnya berita, feature, opini, kolom, atau bentuk tulisan yang lain. Bentuk itu bermacam-macam tetapi roh yang menggerakkan sama, yaitu gagasan atau ide tulisan.

Kadang bentuk merupakan kekhasan seseorang. Seseorang bisa mewujudkan kekuatan pada kolom, dan yang lain pada opini, artikel, atau berita. Ini berarti seseorang dapat menemukan dan mengembangkan ciri khasnya untuk menjadikannya kekuatan yang mampu mengubah dunia melalui sebuah karya tulis.

Lebih daripada bentuk, cara memberi-bentuk (baca: membahasakan) sebuah gagasan dapat menjadi cermin jiwa seorang penulis. Ada ungkapan: bahasa adalah pikiran. Bahasa adalah jiwa. Adanya manusia dapat dipahami melalui bahasa. Hal ini dapat kita lihat pada contoh kasus berikut. Ketika ada kecelakan pesawat jatuh, muncul ungkapan yang berbeda-beda bergantung siapa yang mengungkapkan itu. Seseorang yang perhatiannya pada hal-hal yang tragis akan mengungkapkan, misalnya “Pesawat Jatuh, 15 Tewas Mengenaskan”. Akan tetapi, ada pula yang mengungkapkan, “Pesawat Jatuh, 2 Anak Selamat”. Dua ungkapan tersebut menunjukkan betapa rasa kemanusiaan berbeda satu dengan yang lain. Tentu, menjadi penulis akan berhadapan dengan belajar mencari bentuk yang sesuai dengan ketajaman kemanusiaannya. Begitu juga dengan bahasa gambar. Gambar yang ditampilkan sebagai bentuk ungkap suatu peristiwa mempunyai kadar kulitas daya-ungkap yang berbeda-beda.

Pencarian berbagai bentuk wacana amat penting untuk mengasah kepekaan rasa dan budi seorang penulis. Maka dapat dikatakan pula, menulis berarti mengasah kepekaan rasa dan kemanusiaan yang menjadi dasar pewartaan.

Mengubah

Menulis itu mencerahkan, menggugah, dan mengubah bila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh kekuatannya. Menulis dapat mengantar seseorang pada penemuan yang terdalam akan diri, sesama dan dunia semesta. Untuk itu, “Menulislah, sebelum engkau ditulis orang!” -amdg-

Jumat, 25 September 2009

Gereja Katolik Paroki Ratu Pencinta Damai (RPD), Pogot-Surabaya


Rayakan Hari Jadi Paroki


Gedung gereja sendiri berdiri tanggal 25 Januari 1981, jadi usianya sudah 28 tahun. Gereja yang terletak di pesisir pantai telah menjadi paroki yang ke-38 di Keuskupan Surabaya.

Gereja Katolik RPD mempunyai perjuangan tersendiri untuk berani memutuskan menjadi paroki. Menjadi segalanya tidak lagi disubsidi oleh gereja lain. Melainkan gereja sendiri harus berani mengelola segala aset yang dipunyai oleh gereja.

”Tanpa banyak kata, sejak tanggal 25 Januari 2004 Paroki mengambil keputusan untuk menjadi gereja mandiri, Gereja Katolik Paroki RPD. Pada waktu itu dibawah pimpinan para gembala, yakni Romo Y. Gani Sukarsono, CM dan Rm. Th. Tandyasukmana CM.

Tahun 2009, akhirnya Paroki Ratu Pecinta Damai telah genap 5 tahun atau disebut Lustrum I. Alm. Romo Y. Haryanto CM selaku Administrator Keuskupan Surabaya meresmikan Paroki Ratu Pencinta Damai dengan menandatangani prasasti yang diletakkan di depan gereja.

Menyambut hari jadi paroki ini, ketua panitia-R. FX. Budi Satriawan mengungkapkan bahwa tema Lustrum I paroki ini, yakni ”Menumbuhkembangkan Iman Umat dan Persaudaraan Sejati”. Hari jadi paroki ini juga digelar beberapa kegiatan.

”Diantaranya lomba jasmani dan rohani, pertandingan olah raga, bazaar, serta bakti sosial dengan pengobatan gratis”, ungkap Budi.

Sesuai temanya, Rm. Th. Tandyasukmana CM, Pastor mengharapkan dengan HUT ini, umat kita semakin dewasa, pengurus lebih kompak. Umat kita lebih bersatu dengan semangat persaudaraan dalam memajukan paroki kita tercinta ini.

Begitu juga, Orang Muda Katolik (BIAK, REKAT, dan MUDIKA) harus selalu meningkatkan kemampuannya untuk dapat ambil bagian dalam pengembangan paroki, harap Pastor Kepala Paroki.

“Usia paroki kita masih muda. Untuk dapat berkembang dengan baik perlu meningkatkan kerja sama yang sudah ada, dedikasi yang tinggi, dan pengorbanan yang tulus ikhlas,” ungkap Tandya.
(asep)

Misdinar Paroki RPD

Misdinar Santo Tarsisius, Raih Prestasi

Kiprah Misdinar Santo Tarsisius Paroki Ratu Pecinta Damai, Pogot-Surabaya, semakin maju terbukti dengan banyaknya piala yang diraih. Di antaranya, Juara I Temu Krida dan JuaraIII Sepak Bola di Misdinar Cup. Dengan kiprah ini, Misdinar St. Tarsisius semakin mengembangkan sayapnya dengan membuat program pelatihan misdinar selama dua bulan untuk pendalaman materi. Dan, tetap konsisten dalam pelayanan di altar. Karena tugas utama menjadi laskar Kristus.
Jaimito Salvador S, ketua Misdinar St. Tarsisius Paroki Ratu Pecinta Damai, mengatakan bahwa pendalaman materi juga menanggapi atas usulan dari Pastor Paroki Romo Th. Tandyasukmana CM agar misdinar perlu mengerti seluk-beluk pakaian misdinar, perlengkapan misa, dan buku-buku pedoman misa. Misdinar St. Tarsisius Paroki Ratu Pecinta Damai juga menpunyai Putri Sakristi (PS) dan Putra Altar (PA). PS bertugas membantu misdinar dalam pelayanan umat dan romo, seperti mendampingi asisten imam pada saat pemberian komuni, pengantar persembahan, dan membentuk formasi pada saat Doa Syukur Agung, terutama hari raya besar. Seperti Paskah, HUT, dan Natal. Sedangkan PA atau misdinar bertugas melayani romo di atas altar.

“Pada era Konsili Vatikan I, PS tidak boleh naik di altar dikarenakan hanya putra saja yang boleh naik di altar. Gereja pada Dokumen Konsili Vatikan I masih “kolot”. Putra dianggap lebih layak daripada putri karena putra dipersiapkan untuk menjadi calon-calon imam,” jelas Jaimito.

Sejak Konsili Vatikan II (1965 sampai sekarang), Gereja Katolik mulai membuka diri terhadapsituasi dan perkembangan zaman. Kini, anggota misdinar lebih banyak putri (70 persen) daripada putra. Mereka berasal dari Mudika maupun Rekat. Karena itu, PS diperbolehkan naik di altar, sama dengan misdinar laki-laki.

Dengan perubahan kebijakkan. Kini, Misdinar Santo Tarsisius terus mencari dan merangkul para peminatnya untuk bergabung di PS dan PA. Mereka juga mengadakan program penyegaran rohani dan jasmani seperti doa rutin, Bible Camp, sepak bola, dan sebagainya. (asep)