Minggu, 04 April 2010

Sajian Unik


Sate Klopo Ondomohen

Melintasi jalan Walikota Mustajab dari arah Balai Kota menuju Genteng Kali, kita sebagai warga kota Surabaya setiap pagi pasti menghirup asap yang mempunyai rasa seger dan berbau daging ayam.

Asap tersebut bersumber dari perempatan jalan Walikota Mustajab di pojok warung kopi, kiri jalan. Asap tersebut ternyata dari penjual sate daging ayam. Dengan rasa penasaran, diriku setiap melintasi jalan Walikota Mustajab ingin mencobanya. Tetapi waktu pun kadang-kadang tidak ada untuk singgah menikmati sate daging ayam tersebut.

Akhirnya, sampai di rumah diriku curhat kepada istriku, istriku tertarik juga ingin mencobanya. Minggu merupakan hari keluarga yang tepat untuk mencoba menikmati sate daging ayam.

Ternyata, tiba di sana sudah penuh sesak dipadati penikmat sate daging ayam. Penjualnya pun sampai tidak terlihat karena dikerumuni penikmat sate.

Setelah antri satu setengah jam, diriku bersama istriku mendapatkan 2 porsi sate daging ayam. Pelan-pelan aku makan sate, satenya ternyata reyah dan gurih. Bumbunya pun terasa sampai di lidah. Tanpa kata, istriku pun dengan nikmati sate tersebut.

Dan, sate ini tidak seperti biasanya. Sate daging ayam ini terlapisi dengan bumbu kelapa berwarna kuning kecoklatan. Pas dimakan dengan minum teh atau jeruk hangat. Nikmat sekali. Sate daging ayam yang dilapisi kelapa berbumbu itu sangat laris dan lezat. Pas untuk sarapan pagi. "Sate ini dikenal dengan sebutan Sate Klopo Ondomohen yang didirikan oleh Ibu Asih, Hj. Zaenab tahun 1977. Ondomohen sendiri merupakan nama jalan pada zaman penjajahan Belanda. Sekarang berganti nama Jl. Walikota Mustajab."

Menu pagi spesial ini paling dikenal oleh masyarakat Surabaya di antara para penjual sate kelapa lainnya. Dan, para artis dan petinggi negara pun sering kali singgah untuk menikmati sajian unik. Setiap harinya Ibu Asih ini melayani sendiri pelanggannya sejak pukul 06.00 -16.00 WIB. (asep)
foto :image.google.co.id

Family


KEHARMONISAN KELUARGA
Sedikit Berkata, Banyak Berbuat

Kunci Keharmonisan Keluarga itu Komunikasi
Sejak menikah, 23 Juli 1983 di Stasi Tlagasari, Paroki Purworejo Kabupaten Malang, Yohanes Berchmans Yan Sastra (54) telah menerapkan kepada keluarganya untuk hidup secara harmonis sesuai dengan hukum kanonik 1057.

Demikian petikan dari hukum kanonik 1057 : “(1)Kesepakatan pihak-pihak yang dinyatakan secara legitim antara orang-orang yang menurut hukum mampu, membuat perkawinan; kesepakatan itu tidak dapat digantikan oleh kuasa manusiawi manapun. (2)Kesepakatan perkawinan adalah tindakan kehendak dengannnya seorang laki-laki dan seorang perempuan saling menyerahkan dan saling menerima untuk membentuk perkawinan dengan perjanjian yang tak dapat ditarik kembali.” Adapun tujuan sakramen perkawinan tersebut untuk mensejahterakan keluarga dan anak, agar tercipta keluarga Kudus seperti yang diajarkan Yesus didalam Alkitab.

Yan Sastra ini menjelaskan keluarga harmonis itu saling memahami peran masing–masing, guyub, keterbukaan, dan tidak egois. Dan, untuk membentuk keluarga yang harmonis, bapak kelahiran Ruteng Flores ini mendidik anak-anaknya agar telibat dalam pelayanan gereja dan lingkungan. Diantaranya doa lingkungan, pelajaran agama, koor, kolektan dan tatib, jelas bapak yang lahir pada tanggal 9 Januari 1956.

Lanjut, Yan Sastra menambahkan bahwa saat ini beliau mempunyai 1 putri dan 2 putra. Diantaranya Antonius Septian Brilianto, Caecilia Novarista Sastri, dan Albertus Benny Irawan). Untuk kedua putra, Yan Sastra ini menerapkan hidup pelayanan dan hidup hemat, seperti menjadi anggota misdinar dan memberikan uang saku secukupnya.

Selain mengajarkan dua pola hidup tersebut, beliau juga selalu mengamati proses belajar putra-putra dengan menanyakan hasil ujian. Dan, tidak pernah melarang putra dan putrinya untuk bermain, melainkan hanya membatasi mereka dalam bermain, tambahnya.

Di dalam hidup menggereja, Suami dari Fransiska Lasmi (52) juga ikut ambil bagian dalam kepengurusan dewan paroki. Awal kepengurusan dimulai dari lingkungan, sekarang telah menjadi Ketua I Dewan Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria. Di situlah di dalam keluarag, beliau menerapkan kepada keluarganya untuk selalu bertanggung jawab, khususnya dalam mendidik anak-anaknya untuk nenumbuhkembangkan iman Katolik, kata Bapak yang berdomisili di jalan Sedayu V/11.

”Dengan begitu diharapkan dalam berkomunikasi di keluarga harus terjalin dengan baik, sehingga apabila terjadi kesalahpahaman sebaiknya diselesaikan dengan kekeluargaan.”

Resep-resep yang diterapkan dalam keluarganya ini, mencoba berbagi kepada keluarga muda supaya turut serta berpartisipasi di dalam kegiatan yang ada di lingkungan, wilayah, dan di paroki. Dan, menerapkan Aksi Puasa Pembangunan tahun ini, bukan hanya di momen prapaskah dan paskah, tetapi tetap menerapkan selamanya, tutur Bapak yang berdomisili di lingkungan Bernadette Soubirous 2.

Pengalaman membina keluarga ini juga tidak lepas dari kegiatam-kegiatan yang telah diikut olehnya, seperti di Marriage Encounter (ME). Beliau mengatakan acara tersebut sangat bermanfaat karena para pesertanya dibekali dengan renungan, pengarahan, dan perilaku agar komunikasi di dalam keluarga dapat terbina dengan baik. Dan, itu semua yang beliau dapat berkat pelayanannya di Gereja. Sebagai umat Katolik menjadi pelayanan Tuhan, sungguh anugerah yang tak ternilai harganya. Karena upahnya besar di Surga.

Koreksi Diri, Kunci Keluarga Harmonis
Menurut Edy Joko Prasetyo, keluarga harmonis merupakan keluarga yang hidup secara harmonis tanpa ada pertengkaran dalam keluaga dan hidup rukun. Edy juga mengajarkan kepada ke dua putranya untuk saling mengasihi satu sama lain. Dan, jika jika ada pertengkaran harus saling memberikan pengertian satu dengan yang lain, seperti koreksi diri. Penyelesaiannya pada saat itu juga dan jangan sampai berlarut-larut, karena itu berbahaya sekali bagi keharmonisan keluarga kita, jelas bapak yang menikah di Santa Maria Purworejo, 1 juni 1994.

Tanggapan ini selalu dipegang teguh oleh Edy, selaku Sub Seksi Liturgi Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria. Dalam keluarga kecilnya, Edy memiliki 2 putra yang bernama Yusuf Anton Prasetyo duduk di bangku SLTP, dan Leo Agung Prasetyo duduk di bangku SD.

Bapak kelahiran Purworejo, 3 maret 1962 menjelaskan keluarga harmonis adalah keluarga yang hidup secara harmonis tanpa ada pertengkaran dan hidup rukun. Hal ini juga diterapkan dalam mengajarkan kepada kedua putranya untuk saling mengasihi. Dan, jika ada pertengkaran harus saling memberikan pengertian satu sama lain, jelasnya.

Edy dalam mendidik anaknya selalu berpakaian yang sopan, rapi pada waktu pergi ke gereja. Tidak hanya rapi, tetapi mengatur jadwal untuk kedua putranya. Diantaranya dengan melihat televisi yang sesuai dengan usia mereka, belajar sesuai waktu yang sudah ditentukan, dan bermain dengan teman yang sebaya dengan mereka, imbuhnya.

”Selain mendidik kedua anaknya, Edy (48) dalam mengatur ekonomi selalu melakukan manejemen ekonomi dimana kebutuhan pokok harus terbeli dahulu baru yang lainnya, ungkap suami dari Yustina Darmayati (42).

Beliau juga terlibat di paroki, seperti koor dan dirigen. Keaktifnya beliau juga merambah sampai di lingkungan dan kampungnya, seperti doa lingkungan dan pengurus RT 2/RW 8. Edy juga salah satu umat lingkungan Antonius Padua ini berpesan kepada keluarga muda supaya harus saling pengertian dan koreksi diri, terangnya. (jef/card)

Cermin


KESEJATIAN HIDUP DALAM KELUARGA

Apabila kita perhatikan dengan seksama, anak-anak mempunyai kesamaan atau kemiripan denagan orang tuanya. Semakin bertambah besar, ia semakin menampakkan ciri-ciri yang terdapat pada orang tuanya. Rambut, mata kulitnya dan sebagainya, juga bagaimana cara dia berbicara, makan, marah, dan memecahkan masalah. Sifat dan tingkah lakunya hampir semua meniru orang tuanya.

Orang tua adalah orang yang paling dekat dengan anak-anak, paling tidak ketika anak masih bayi. Orang tua sering mendapat julukan sebagai pendidik pertama dan utama. Dari merekalah anak-anak mulai mengalami cinta, benci, dan sedih. Sedikit demi sedikit anak-anak mempunyai gambaran diri dari orang tuanya. Anak mempunyai gambaran positif kalau diperlakukan dengan baik : “Saya dicintai, saya diperhatikan, saya diterima, saya anak yang diharapkan, saya anak yang tidak membebani orang tua dan sebagainya.”

Bila gambaran diri anak positif ia akan belajar merasa diri “Oke” dan mempunyai kepercayaan diri. Akan tetapi, tidak jarang anak-anak yang mempunyai gambaran diri seperti yang tidak dikehendaki kehadirannya. Membuat orang tua jengkel, tidak diperhatikan, tidak dicintai, lahir karena kecelakaan dan sebagainya. Anak akan mempunyai gambaran diri negatif.

Kita dapat mengetahui mereka mempunyai gambaran diri negatif dari ungkapan-ungkapannya: “Mengapa saya selalu dibanding-bandingkan dengan adik”, “Mama merasa menyesal karena melahirkan saya”, “Saya anak haram, anak yang tidak pantas dilahirkan”, dan sebagainya.
Gambaran diri yang negatif membuat anak menjadi minder, merasa diri “tidak oke”.

“Mereka mengatakan bahwa saya ini jelek, untuk apa saya dilahirkan?” seorang filsuf Jean Paul Sartre mengatakan “Orang lain adalah musuh bagiku.” Mengapa ia berpendapat demikian? Ia mempunyai gambaran diri yang jelek, maklumlah karena ia dilahirkan dan dibesarkan di dalam keluarga yang berantakan! Apalagi sebelah matanya cacat.

Kesalahan yang banyak dilakukan oleh orang tua adalah cara mendidik anak dengan sistem hukuman, dengan kata-kata kasar, bahkan kadang anak-anak sasaran pelampisan kekesalan dan kebingungan mereka. Anak yang begitu menderita secara sadar maupun tidak sadar, disebabkan oleh tindakan orang tuanya yang tidak tepat dalam memperlakukannya. Misalnya menerima dengan syarat-syarat, menghukum dengan kekerasan, bahkan tidak jarang anak dijadikan objek atau kemarahannya.

Anak-anak menerima dosa warisan orang tua mereka. Suatu saat nanti, mereka akan membawanya dalam kehidupan keluarga barunya, setelahnya mereka berkeluarga. Untuk itu, kita diajak dalam masa prapaskah dan paskah ini untuk menumbuhkembangkan kecintaan dan kebersamaan keluarga. Hal ini juga diserukan dalam tema APP 2010 secara umum : ”Kesejatian Hidup Dalam Keluarga”. Di Keuskupan Surabaya, Uskup bersama stafnya lebih mempersempitkan lagi menjadi ”Aku Cinta Keluarga”. Diharapkan dengan adanya tema keluarga dapat berkumpul, misalnya makan dan doa bersama. Dari situ akan timbul kebersamaan dan kecintaan keluarga secara utuh.

Dan, orang tua lebih memberikan kepercayaan dan kebebasan anak dengan kontrol sosial melalui kumpul keluarga minimal dalam satu bulan satu kali. Dengan begitu keluarga harmonis tercipta dengan sendiri.

Seperti illustrasi ini, ada salah seorang Frater sangat mengasihi anak-anak nakal. Mereka diterima. Mereka boleh berbuat apa saja dengan syarat tidak merugikan atau mengganggu orang lain. Dalam waktu 6 bulan, mulai terlihat perubahan-perubahan sikap dan tingkah laku anak didiknya, yang dulunya pemurung sekarang mulai ceria, yang dulunya tidak acuh sudah mulai memperlihatkan gejala-gejala interes terhadap teman-temannya dan sebagainya. Mereka mulai berubah, mereka menemukan gambaran dirinya yang sebenarnya. Setiap orang membutuhkan rasa aman, merasa diterima apa adanya. Benih membutuhkan tempat untuk tumbuh. Anak membutuhkan persemaian yaitu keluarga Allah, keluarga anda, keluarga Katolik. (L. Vicky)
foto : google.com

Kamis, 01 April 2010

Visualisasi Sengsara dan Wafat Yesus Kristus


Via Dolorosa, Jalan Kedukaan

Kamis (1/4), Umat Paroki Kelahiran St. Perawan Maria (Kelsapa), Kepanjen Surabaya mulai merayakan Triduum. Triduum merupakan Tri Hari Suci yang dimulai Minggu Palma. Minggu Palma, umat merayakannya dengan membawa daun palma untuk menyambut Yesus Kristus sebagai raja. Namun rakyat mengkhianati Yesus melalui ulah para petinggi zaman itu dengan memutarbalikkan fakta.

”Bekerja sama dengan Yudas Iskariot, para ahli Taurat, orang Farisi, dan bersama para prajurit menangkap Yesus. Saat berdoa menjelang sengsara dan wafatNya di kayu salib.”

Detik-detik penyaliban tersebut, kita renungkan dalam perayaan ekaristi Kamis Putih. Kamis Putih yang diadakan di Paroki Kelsapa dua kali, yakni pukul 18.00 dan 21.30 wib. Ratusan umat Paroki Kelsapa dengan kusuk menjalankan perayaan ekaristi. Walaupun gedung penuh sesak dipadati oleh umat. Bahkan di samping kanan kiri luar gereja juga dipadati. Di luar gereja panitia mefasilitasi dengan LCD untuk melihat alur dari perayaan ekaristi Kamis Putih. Kamis Putih dipersembahkan oleh Romo Eko, Romo Santoso, dan Romo Suparno, CM. Begitu juga dengan Fr. Yohanes Ferry CM ikut berpratisipasi dalam kekusukkan Perayaan Ekaristi.

”Kamis Putih merupakan perayaan ekaristi untuk memperingati perjamuan terakhir Yesus bersama dengan murid-muridnya.”

Perayaan Kamis Putih ditandai dengan pembasuhan kaki. Pembasuhan kaki merupakan simbolisasi dari bentuk penebusan dosa manusia. Tampak Romo Ignatius Suparno, CM membasuh kaki para rasul yang diperankan Orang Muda Katolik.

Setelah perayaan ekaristi dilanjutkan prosesi penghormatan sakramen mahakudus dan tuguran. Tuguran ini salah satu bentuk adorasi bersama Yesus sebelum sengsara dan wafatNya di kayu salib.

Kisah sengsara dan wafatNya di kayu salib ditandai dengan Via Dolorosa pada Jumat Agung, (2/4). Via Dolorosa dikemas dalam visualisasi yang diperankan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Kelsapa. OMK Paroki Kelsapa menvisualisasikan Via Dolorosa ini mulai pukul 08.00 wib di dalam gedung gereja. Untuk menggambarkan penderitaan sengsara dan Wafat Yesus Kristus.

Menurut Stefanus Agus, selaku koordinator dari Via Dolorosa ini menuturkan dengan mengangkat kisah sengsara dan wafatNya di kayi salib ingin menjalin relasi secara mendalam, bahwa Yesus begitu mencintai kita. Dia rela mengorbankan diriNya di kayu salib untuk menjadi silih atas dosa kita. Padahal kita adalah orang yang penuh dengan dosa. Akan tetapi, Dia masih tetap mencintai kita dan mau merelakan nyawaNya sendiri untuk anak-anakNya, tutur Agus, koordinator Via Dolorosa.

Selain OMK Paroki Kelsapa, OMK Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) juga mengelar Via Dolorosa di dalam gereja HKY. Via Dolorosa ini dikemas dalam teaterikal. Visualisasi drama penyaliban itu digelar di Gereja HKY. Umat pun memadati gereja untuk merenungkan penderitaan Yesus.

Semakin reflektif suasana teaterikal Via Dolorosa dengan adanya lagu-lagu dan instrument Paskah yang digaungkan oleh OMK HKY. Hingga, umat terharu melihat penderitaan Yesus sampai meneteskan air mata. Bahkan umat pun menahan nafas dan itu pun sebagai bentuk dari penyesalan mereka atas dosa-dosa yang selama ini umat perbuatan. (asep)

Rabu, 31 Maret 2010

Ulang Tahun Imamat, John Tondowidjojo CM


Sindir Cendikiawan Jarang Berdoa

Bertepatan dengan Minggu Palma dan Minggu terakhir dalam akhir bulan, Romo John Tondowidjojo, CM merayakan pesta imamat bersama bersama anggota Ikatan Sarjana Katolik (ISKA), Minggu (28/3) di gedung Fransiskus Xaverius, Universitas Katolik Widya Mandala, lantai 4.

Dalam perayaannya, Romo John Tondowidjojo ini merayakannya secara sederhana sekali dengan perayaan ekaristi. Karena menurut beliau dengan perayaan ekaristi semakin disatukan panggilan imamatnya. Dan, perayaan ekarsiti bagian dari ucapan syukur atas segala rahmat yang diterimanya dalam perjalanan imamatnya.

Dalam homilinya, Romo Tondo menjelaskan bahwa awalnya Yesus dielu-elukan sebagai raja orang Yahudi. Sampai dihadapan Pilatus dan Herodes, Yesus dikhianati oleh orang Yahudi, karena menganggap diriNya seorang raja, Ini semua ulah dari pemuka agama, ahli taurat, dan orang farisi.

“Ini salah satu bentuk dari manipulasi informasi pada zaman itu. Dan, ini juga diawali di bangsa Indonesia. Dengan memutarbalikkan kebenaran. Yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.”

Romo Tondo mengajak kepada para cendikiawan untuk jangan muda tergoda pada manipulasi informasi terutama taktik adu domba. Sebagai umat Katolik hendaknya selalu mengimani sikap Katolik kita dengan mengingat kembali komitmen kita pada janji permandian kita.

”Dan, kita sebagai para cendikiawan jangan lupa akan iman Katolik kita dan berdoa. Sediakan waktu untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Jangan sibuk pada rutinitas kita, sehingga tidak ada kata untuk berdoa bersama Tuhan.”

Hadirkan Tuhan di hati kita, terutama tahun ini merupakan tahun keluarga. Pergunakan waktu-waktu kita untuk berkumpul bersama keluarga. Keluarga salah satu anggota tubuh yang paling berharga, tambahnya.

Setelah perayaan ekaristi, Romo Tondo memberikan hadiah kepada Silvester atas komuni pertamanya. Dan, menginstruksikan kepada para undangan untuk menyebutkan angka dari 1 sampai 100. dimulai dari bangku deretan depan sampai belakang, ajak Romo Tondo.

Ternyata yang diinstruksikan tersebut menyangkutkan tanggal ulang tahun imamatnya. Ulang tahun imamat ke 47. Romo mengajak lima orang yang telah menyebutkan angka 47. Dan, ada 5 orang yang menyebutkannya. Padahal hadiahnya hanya satu berupa gambar monstran.

Dengan cara diundi, akhirnya salah satu ibu yang mendapatkannya. Untuk 100 para undangan yang hadir mendapat Oremus yang berisi doa pagi dan malam bersama keluarga disusun oleh Romo Lorenstius Iswandir, CM.

Tidak hanya membagikan Oremus, Romo Tondo juga mengajarkan cara berdoanya, yakni doa pagi cara pertama. Oremus ini juga telah mendapat Imprimatur dari Keuskupan Surabaya oleh Romo Dwi Joko pada tanggal 22 Februari 2010.

Diharapkan dengan memperolehnya Oremus, para cendekiawan semakin rajin berdoa pagi bersama keluarga. Setelah membagikan Oremus, Romo Tondo mensharing pengalaman panggilannya selama menjadi romo, misalnya setiap kali mendapat uang dari umat pasti ada yang meminta. Dan, jumlahnya pasti sama. Pengalaman panggilan itulah yang menguatkan bagi Romo Tondo.

Bagi beliau, pemberian dari umat itu bukan untuk beliau. Tetapi untuk umatnya. Romo Tondo hanya sebagai penyalur kebaikan Tuhan, sharing romo yang rajin berdoa tiga salam Maria ini.

Romo juga berpesan kepada para undangan bahwa di tahun keluarga ini, hendaknya kita memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Dan, berpikir selalu pada ”How to do duit?, tetapi How to do it? Karena segala perilaku kita akan difotokopi oleh anak kita, pesannya.

Acara dilanjutkan dengan diskusi interaktf dari arah dasar Musyawarah Pastoral tentang arah dasar prioritas pastoral Keuskupan Surabaya 2010-2019. (asep)

Keseimbangan


Tema APP Selaras Dengan MusPas

”Paskah ditandai dengan Rabu Abu, Bertobatlah dan Percayalah Pada Injil. Dengan begitu berikanlah dirimu didamaikan Allah. Karena sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan.”

Sebelum memasuki Tri Hari Suci, kita sebagai umat Katolik menjalani masa prapaskah. Prapaskah merupakan masa retret agung yang kita jalani sebelum merayakan Paskah. Retret agung kita jalani melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP). APP ini salah satu wujudnyata dari pantang puasa kita selama merefleksikan makna hidup kita sepanjang prapaskah hingga paskah.

Tema umum APP dari KWI, yakni ”Kesejatian Hidup Dalam Keluarga”. Namun di pihak Keuskupan Surabaya dirumuskan kembali menjadi tema yang sesuai kebutuhan umat Katolik Keuskupan Surabaya, yakni ”Aku Cinta Keluarga”.

Melihat dari kata AKU ini di dalam keluarga terdapat anggota. Diantaranya ayah, ibu, kakak, dan adik. Keanggotaan ini mempunyai peranan yang saling mempengaruhi dalam hidup berkeluarga. Terutama ayah dan ibu, kadang tingkah laku mereka ditirukan oleh anak-anak mereka. Ada peribahasa mengatakan bahwa buah itu tidak jauh dari pohonnya. Segala kemiripan pasti meniru dari pohonnya.

Hal ini juga sama dengan keluarga, bila ayah dan ibu mempunyai kebiasaan baik atau buruk. Mau tidak mau akan tercermin pada anak-anak mereka. Jadi, ketika sesuatu yang tidak berkenan untuk anak-anak. Janganlah melakukan hal itu dihadapan anak-anak. Karena perkembangan anak itu masih luas melalui daya tangkap atau rekamnya masih tinggi. Dan, segala tingkat laku ayah dan ibu akan ditirunya. Apalagi yang mudah ditirunya tingkah laku yang ”negatif”.

Dengan begitu tepat sekali Keuskupan Surabaya mengambil tema APP tersebut. Melalui tema itu, umat diajak untuk menjalin relasi dengan anggota keluarganya. Keluarga dapat menumbuhkembangkan relasi melalui rutinitas sehari-hari. Tetapi zaman sekarang rutinitas saat ini dijalani sendiri-sendiri. Untuk tatap muka dengan anggota keluarga potensinya kecil sekali. Untuk hal ini perlu adanya waktu, sehingga relasi dapat tercipta dengan erat. Minimal seminggu dalam keluarga ada pertemuan yang sifatnya rileks. Dengan cara makan, nonton televisi, shopping ke mall, dan doa bersama.

”Dengan begitu relasi antara keluarga menjadi harmonis. Dan, kunci paling tepat dalam hubungan keluarga, yakni keberlangsungan dalam berkomunikasi antara anggota. Memahami kebutuhan anggota dan memberikan kebebasan bereksplorasi di lingkungannya. Tetap adanya kontrol sosial melalui ayah dan ibunya.”

Seperti yang dikatakan oleh Yohanes Berchmans Yan Sastra (54), selaku Ketua I Dewan Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen bahwa keluarga harmonis itu saling memahami peran masing–masing, guyub, keterbukaan, dan tidak egois. Dan, untuk membentuk keluarga yang harmonis.

Bapak kelahiran Ruteng Flores ini mendidik anak-anaknya agar telibat dalam pelayanan gereja dan lingkungan. Diantaranya doa lingkungan, pelajaran agama, koor, kolektan dan tatib, tambahnya bapak yang lahir pada tanggal 9 Januari 1956.

Senada dengan Edy Joko Prasetyo (48), selaku ketua Seksi Liturgi Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, keluarga harmonis merupakan keluarga yang hidup secara harmonis tanpa ada pertengkaran dalam keluarga dan hidup rukun.

Edy juga mengajarkan kepada ke dua putranya untuk saling mengasihi satu sama lain. Dan, jika jika ada pertengkaran harus saling memberikan pengertian satu dengan yang lain, seperti koreksi diri. Penyelesaiannya pada saat itu juga dan jangan sampai berlarut-larut, karena itu berbahaya sekali bagi keharmonisan keluarga kita, jelas bapak yang menikah di Santa Maria Purworejo, 1 juni 1994.

Terpenting dalam diri anak memberikan kepercayaan dan tanggungjawab karena mereka sebagai generasi Gereja yang mempunyai iman kristiani yang tangguh.

Tema APP 2010 juga dikuatkan melalui hasil dari Musyawarah Pastoral (MusPas). MusPas yang telah dilaksanakan pada November tahun lalu ini menghasilkan arah dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019.

Isi dari Arah Dasar ini rumusan cita-cita bersama tentang Gereja, yakni ”Gereja Keuskupan Surabaya sebagai persekutuan muri-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner.”

”Rumusan ini juga menghasilkan prioritas program bidang pastoral, nilai-nilai hidup, dan prinsip atau semangat motivasional. Diantaranya keluarga dan orang muda.”
Di arah dasar ini, keluarga menekankan pengembangan kuantitas dan kualitas pendampingan bagi calon pasutri dan pasutri. Keluarga diharapkan adanya keterlibatan dalam pastoral keluarga, salah satunya kesaksian dengan ketulusan dalam berkomunikasi dan melayani keluarga muda atau keluarga lainnya.

Tidak hanya itu perlu adanya pemberdayaan keluarga melalui keharmonisan keluarga. Karena kehadiran setiap pribadi anggota keluarga adalah sungguh berharga. Ada saatnya kita sebagai anggota keluarga berdiam diri untuk menjalin relasi dan komunikasi antara anggota. Sehingga keluarga menjadi teladan bagi anak-anak dan mengajarkan kejujuran untuk bertindakan tanpa merugikan orang lain.

Lanjut, begitu juga dengan Orang Muda Katolik. Orang Muda Katolik saatnya diberi pembekalan melalui kepercayaan melakukan kegiatan yang sifatnya besar. Karena di situ, mereka lebih berani belajar dan tidak takut salah. Untuk melakukan sesuatu untuk Gereja.

”Orang Muda Katolik, salah satu generasi yang mempunyai potensi yang tinggi dalam menumbuhkembangkan Gereja. Dan, para orang tua juga harus berani mengkader potensi Orang Muda Katolik.”

Di tingkatan paroki, Dewan Paroki perlu adanya penyelenggaraan pelatihan kaderisasi melalui kepemimpinan tingkat dasar dan berkelanjutan. Dan, hal ini diperlukan kesediaan berbagi dan berkorban.

Dengan begitu pertumbuhan Gereja semakin pesat, seperti apa yang ditulis oleh Alm. Romo Mangunwijaya bahwa Gereja Dispora itu perlu diterapkan. Tidak lagi berbentuk piramida mengkerucut, tetapi membentuk sel-sel di mana para hirarki menjadi fasilitator.

Dan, tema APP tidak hanya sekedar momen prapaskah, tetapi menjadi komitmen bersama dalam menumbuhkembangkan keluarga yang guyub dan harmonis. Bahkan, arah dasar dari musyawarah pastoral menjadi pemicu pengembangan Gereja di tingkat paroki. Arah dasar ini akan selalu dimonitoring oleh Keuskupan Surabaya. (asep)