Selasa, 08 Maret 2011

Oase


















Kekerasan: Agama atau Tindakkan
Oleh Suhartoyo Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Widya Mandala Surabaya

Bangsa Indonesia dihantam lagi permasalah kekerasan terhadap kerukunan umat beragama. Kasus penganiayaan yang dialami Gereja Huria Kristen Batak Protestan(HKBP) meninggalkan kenangan yang memilukan. Kemudian pada 6 Februari 2011, media melaporkan lagi bahwa Jemaat Ahmadiyah telah dianiaya, sehingga tiga nyawa pun melayang. Kekerasan berdasarkan agama pun terjadi lagi di Temanggung dengan pembakaran dan pengerusakan tiga gereja berkaitan dengan kasus penodaan agama Kompas 11 Februari 2011).

Kehidupan bangsa Indonesia yang multireligius telah tergoncang. Perbedaan agama dengan mudahnya disulut api pertikaian dan konflik, bahkan menjadi opini publik.

Agama tidak lagi menjadi muara ketenangan dan menemukkan makna hidup bagi manusia. Wadah untuk membangun kualitas hidup. Akan tetapi, agama melahirkan pengalaman pahit bagi pemeluk umat beragama, karena berbeda pandangan dan keyakinan. Akibatnya, nyawa seseorang terancam dan melayang.

Maka, agama memberikan pengalaman positif tentang ajaran kebahagiaan dan kedamaian hidup dalam hal moralitas. Di sisi lain, agama juga melahirkan kisah tragis. Akhirnya, agama justru melahirkan perpecahan dan perselisihan kita sebagai satu saudara.


Kartini: Agama dan Tindak Kekerasan

Raden Adjeng Kartini (1879-1904) mengajak kita untuk menimbang secara kritis terhadap kekerasan umat beragama yang terjadi. Apakah agama yang menyebabkannya?

Permasalahan kekerasan dalam kehidupan beragama telah menjadi masalah klasik di Indonesia. Dalam suratnya kepada Zeehandelaar 18 Agustus 1899, Kartini mengatakan: “Agama harus menjaga kita dari pada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu!”(1997: 39).

Menurut Kartini, agama adalah penyatu sebagai saudara terhadap sesama. Apabila terjadi kekerasan atas nama agama, hal ini diakibatkan oleh adanya topeng. “…karena banyak kami lihat orang memakai topeng agama berkelakuan yang tidak menaruh kasihan (tidak bertindak cinta). Lambat laun barulah kami tahu, bukanlah agama itu yang tiada menaruh kasihan, melainkan manusia jugalah yang memperburuk segala sesuatu yang semulanya bagus suci itu.” (Suratnya kepada Nyonya Abendanon 12 Desember 1902)

Berdasarkan pemikiran Kartini, ada pun hal yang patut dikecam bukan tentang agama, melainkan tindakan kekerasan yang mengatasnamakan agama. Atau tindakan kekerasan tersebutlah yang perlu dikecam. Tindakan yang tidak berdasarkan cinta.

Agama tidak menyebabkan kerkerasan. Justru agama menjadi topeng kekerasan yang sangat empuk. Bagaikan api yang mudah disulut. Akibatnya, tindakan brutal atas nama agama telah menghakimi orang lain sangat tragis. Sampai pada penganiayaan dan pembunuhan yang dilakukan terhadap sesama manusia.

Tindakan Cinta

Tindak kekerasan yang berselubung agama menjadi sangat bombastis. Hal ini dapat kita lihat pada jemaat HKBP, Ahmadyah, dan perusakan gereja. Ada kepentingan atau ”selubung hitam” yang tersembunyi atau kepentingan tertentu.

Dalam hal ini, kita dapat melihat dan mengecam tindakan kekerasan itu sendiri. Bagi Kartini, kekerasan itu terjadi karena orang tidak bertindak berdasarkan cinta. Apakah itu ”tindakan cinta”?

Dalam surat 4 September 1901, kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengatakan cinta itu mahakuasa yang melenyapkan sifat yang membeda-bedakan. Tindakan cinta yang dimaksud adalah tindakan yang menepiskan sifat pembedaan terhadap orang lain atau menerima perbedaan.

Tindakan cinta adalah bertindak dengan mengubur sikap arogansi yang selalu membenarkan diri dalam pandangan dan ideologinya. Orang membuka dirinya terhadap keyakinan, kepentingan dan pandangan orang lain. Orang lain tidak menjadi asing, melainkan saudara, sesama manusia. Untuk arti saudara ini, Kartini merujuk pada pengertian bahwa adanya suatu ikatan yang mendalam dengan orang lain. Ikatan yang membentuk kesatuan hakiki antara aku dan diri orang lain.

Maka, agama tidak membawa kekerasan. Agama menjadi media atau ”selubung hitam” atas terjadinya kekerasan tersebut. Ada kepentingan tertentu, entah itu politis, sosial dan ekonomi. Akan tetapi, kekerasan itu disebabkan oleh manusia yang bertindak tidak berdasarkan ”tindakan cinta”. Tindakan yang menerima perbedaan dan melenyapkan pembedaan di antara sesama manusia. Namun, orang lebih meninggikan diri dalam ideologi, keyakinan, dan pandangannya. (*)

Pesta St. Angela

Gelar Tablo di Aula SanMar

Sabtu (19/2) TK Santa Maria juga merayakan pesta St. Angela. Pesta Angela diselenggarakan di aula lantai 4. Pesta diawali dengan gerak dan lagu dari TK A, Puisi Bunda Angela berbahasa Inggris yang dibacakan tiga anak, dan Lagu dari TK B dengan menyanyikan lagu Bersatu dalam Doa yang dipimpin oleh Kak Anton.

Menurut Kepala TK Santa Maria Sr. Susana Ernawati OSU, St. Angela adalah wanita kudus yang sederhana, tangguh, dan mempunyai semangat juang yang tinggi. Begitu juga seorang ibu dan pendidik yang luar biasa.

Dengan merayakan St. Angela, kita diharapkan tidak bersikap dingin dalam hidup kita. Tetapi mengisi hidup ini dengan hal-hal yang berguna.(sep)

Meneladani Santa Angela


Komunitas OSU Rayakan Pesta St. Angela

Bagi komunitas suster-suster Ordo Santa Ursula (OSU) Surabaya dan Pacet, 27 Januari menjadi tanggal istimewa. Hari itu merupakan hari penuh kebahagiaan di mata hati mereka, karena pesta Bunda Angela.

Angela dilahirkan dari keluarga Yohannes Merici dan Biancon de Salo. Namun, sejak kecil Angela telah ditinggal oleh orang tuanya dan diasuh oleh pamannya. Pamannya sangat sayang pada Angela. Begitu juga Angela sayang pada paman. Angela rajin membantu di rumah pamannya. Setelah selesai Angela mengumpulkan anak-anak kampung dan mengajak mereka untuk bermain dan belajar.

Tidak hanya itu. Angela juga mengajarkan agama dan perbuatan baik kepada mereka dengan sabar dan menarik hati. Dari itu situlah benih-benih pelayanan Angela tumbuh dan mempunyai cita-cita. Untuk bertapa bersama saudarinya. Tetapi dengan bijaksana pamannya mencegahnya. Setelah meninggalnya barulah Angela dizinkan masuk biara Ordo III Fransiskanes.

Berangkat dari situlah, benih-benih panggilan Angela semakin tumbuh. Sekitar tahun 1945 Angela pulang ke Desenzano menjenguk makam pamannya. Dan, melihat penampakan bahwa Angela sedang memberi pelajaran agama kepada anak-anak putri dengan karya cinta kasih dan membukalah sekolah bagi anak-anak putri pada tahun 1516 di Brescia. Banyak wanita mendukung Angela. Angela menghimpun para pendukungnya dan mengornisir secara baik serta memberikan peraturan sederhana.

Dari situlah, awal mulanya Ordo Santa Ursula berdiri. Secara resmi dan atas pengesahan dari Tahta Suci di bawah perlindungan Santa Ursula tahun 1522. Santa Ursula sangat dihormati sebagai teladan martir dan keperawanan Kristen.
Karya-karya Bunda Angela bersama putri-putrinya sungguh berkembang pesat di bidang pendidikan. Dan, pimpinan gereja barulah mengizinkan biara itu hidup sungguh-sungguh seperti biara lainnya. Sesuai cita-cita Bunda Angela, yakni ”Hiduplah di tengah-tengah dunia, tetapi bukan dari dunia.”

Setelah memegang pimpinan selama tiga tahun, pada 1540 Bunda Angela meninggal dunia dengan tenang. Paus VI dan VII menyatakannya sebagai orang kudus. Biara Ordo Santa Ursula semakin berkembang dalam jumlah dan mutu hingga tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Masuknya Ordo Santa Ursula berkat suster-suster dari Belanda yang singgah dan berkarya di Surabaya dengan menggunakan kapal. Dan, berlabu di Kalimas.

Pesta Santa Angela

Kali ini Pesta Santa Angela diperingati di Komunitas Pacet, tepat di Wisma Bintang Kejora, Kamis Kliwon (27/1). Sebelum mengadakan pesta komunitas Surabaya dan Pacet yang terdiri dari suster, guru, staf administrasi, dan karyawan-karyawati. Menggelar perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh Romo Bruno.

Dalam pesta ini, tema yang diambil adalah Ketekunan Santa Angela sebagai Teladan Kita.” Melalui teladan Santa Angela, kita dijak untuk selalu bertekun mendidik, mengajar, dan melatih anak didik dengan cinta kasih. Hal ini ditegaskan pula oleh Romo Bruno bahwa berkarya di dunia pendidikan ini sungguh-sungguh mulia.

Berbahagialah Anda yang bertekun dan meneladani Santa Angela. Karena Santa Angela merupakan sosok bunda yang penuh kasih setia dalam berkarya di duni pendidikan. Dan, tampak dari kesetiaan yang Anda berikan dan abdikan di Yayasan Paratha Bhakti ini.
”Ini sungguh-sungguh menekuni panggilan yang luar biasa. Menumbuhkembangkan manusia muda yang penuh dedikasi tinggi.”

Setelah homili, romo yang mendampingi para frater tahun rohani memberkati cincin 25 tahun pengabdian. 25 tahun ini merupakan pesta perak pengabdian bagi guru, staf administrasi, dan karyawan yang telah mengabdikan diri di Yayasan Paratha Bhakti. Di antaranya drg. Sonny Hartanto (SD Santa Maria Surabaya), HA Endang Widayati (SD Santa Maria Surabaya), A.F. Yoke Aprilliana W. (SMA Santa Maria Surabaya), Teguh Rahayu (Nasaret Surabaya), J. Bambang Edi Poernomo (SMP Santo Yusuf Pacet), dan Theresia Puji Astutik (SMP Santo Yusuf Pacet).

Pada kesempatan ini, Muder Lidwina secara istimewa memberikan cincin 25 tahun beserta piagam penghargaan kepada mereka yang mengabdikan diri.
Usai perayaan ekaristi, panitia dari SMP Santo Yusuf Pacet mengajak seluruh komunitas Surabaya dan Pacet untuk ramah-tamah di aula SMP Santo Yusuf. Berbagai hidangan disajikan di pesta Santa Angela ini, di antaranya jagung, ketela, ubi, dan kacang rebus. Kemudian semua menikmati makan siang yang sederhana. Dan, hiburan Band dari SMP Santo Yusuf. Tidak mau kalah, di masing-masing unit mempersembahkan keunikkan, yakni modern dance, tari topeng Gayus, gerak lagu, dan puisi Bunda. Keesokkan harinya, SMA Santa Maria mengadakan perayaan ekaristi di Gereja Hati Kudus Yesus yang dipimpin oleh Romo Sairin.(sep)

Konser Tur AVC Surabaya ke Bali


Mendampingi OMK dan Panti Asuhan

Komunitas ini terbentuk tahun 2007. Awalnya Angelii Vox Choir (AVC) merupakan paduan suara kecil (small choir) yang beranggotakan kurang lebih 8-12 orang.
Nama Angelii Vox sendiri diberikan oleh romo pembimbing komunitas ini, yaitu Romo Andreas Andri Noertjahja EW.

Sebenarnya, secara gramatikal bahasa Latin seharusnya Vox Angelii, tetapi di samping karena nama tersebut sudah banyak dipakai, di satu sisi Romo A’an, panggilan akrab Romo Andri ingin agar kelompok ini tidak saja melulu mengedepankan suara saja (VOX), tetapi lebih pada pengembangan spritualitas dan devosi kepada tiga malaikat agung pelindung paduan suara ini, yakni Santo Mikael, Santo Raphael, dan Santo Gabriel (ANGELII).

Dalam perkembangannya AVC tidak hanya melakukan latihan olah vokal saja, tetapi juga melatih diri secara spiritual dengan devosi dan berdoa doa litani para malaikat. Terakhir, AVC mengadakan tur selama tiga hari di Bali. Rangkaian kegiatan yang bertajuk To Serve with Love II-Bali berlangsung pada 12-14 Pebruari 2011 di Gereja Katolik Roh Kudus Paroki Babakan, Canggu, Bali dan di Panti Asuhan Sidhi Astu.
Rombongan AVC sengaja menginap di Panti Asuhan ini yang juga menyediakan tempat. Untuk menginap agar dapat melakukan pelayanan pula bagi adik–adik di panti asuhan tersebut. "Sekali dayung dua pulau terlampaui," kata Lucia Setyawati, Project Leader.
Sabtu (12/2), pelatihan paduan suara bersama Orang Muda Katolik (OMK). Kemudian, mempersiapkan diri untuk pelayanan misa Minggu pagi, di mana AVC bergabung dengan Paduan Suara OMK St. Don Bosco. “Saya baru tahu kalau latihan koor itu juga perlu pemanasan," ujar salah satu OMK Don Bosco.

Minggu (13/2) pagi, selesai misa bersama, diadakan acara sarasehan dan ramah-tamah yang men-sharing-kan mengenai musik liturgi, pemilihan lagu-lagu liturgi, pelatihan pemazmur, serta pelatihan paduan suara paroki. Pada sarasehan tersebut hadir pula Kepala Paroki Babakan Romo Lucius Nyoman Purnawan, yang menyambut positif terselenggaranya acara tersebut.

Menurut Lucia, di luar misa pun kita dapat berkarya dan meningkatkan kemampuan, misalnya dengan menyelenggarakan konser mini. Lagu-lagunya bisa lebih variatif, sehingga apabila kita ingin “unjuk gigi” tidak dilakukan pada saat misa.
Nah, konser mini ini mendapat tanggapan yang antusias dari umat Paroki Babakan. Tidak hanya AVC yang tampil, Koor OMK St. Don Bosco dan Koor Paroki yang baru terbentuk menunjukkan penampilan mereka. Antusiasisme mereka diungkapkan dengan penyajian lagu-lagu rancak, penuh semangat, dan diakhiri dengan menyanyikan lagu If You’re Happy bersama-sama.

Senin (14/2), acara beralih dari kegiatan parokial di gereja ke kegiatan sosial di Panti Asuhan Sidhi Astu, tempat AVC menginap selama tiga hari. Acara Hari Valentine bersama anak-anak panti. Kor bernyanyi bersama, membuat games-games lucu, dan berbagi hadiah kecil untuk semua anak, karyawan, dan suster-suster.

Bahkan, dua personel AVC rela berdandan aneh demi terciptanya suasana yang lebih semarak dengan menjadi tokoh Peri Cinta yang memberi nasihat pada anak-anak. Kegiatan ini sengaja diselenggarakan di bulan Februari karena bertepatan dengan suasana hari kasih sayang. Pelayanan ini berangkat dari kepedulian AVC terhadap perkembangan musik gereja dan musik liturgi di daerah-daerah terpencil atau paroki-paroki di daerah. Sebab, di paroki–paroki kecil atau daerah sering kurang mendapatkan informasi mengenai perkembangan terbaru baik koleksi lagu–lagu maupun teknik pelatihan vokal dan paduan suara.

Pembimbing OMK Paroki Babakan FX Ketut Wiryanto mengatakan, Paroki Babakan mempunyai keunikan tersendiri di Pulau Dewata. Sebab, hampir 90% warga desa Babakan beragama Katolik. Umat Katolik di paroki ini juga merupakan cikal bakal perkembangan iman Katolik sejak tahun 1930-an sama seperti di Paroki Tuka (bersebelahan dengan Paroki Babakan) dan Paroki Palasari yang sangat terkenal itu.(sep)

Minggu, 23 Januari 2011

SMA Santa Maria

Damai, KasihMu Selalu Bergema dan Hidup di Hatiku

Gema Natal telah usai di hati umat Katolik dan natal telah berganti masa biasa. Namun hal ini lain yang dirasakan oleh keluarga besar civitas SMA Santa Maria. Karena natal bagi SMA Santa Maria merupakan kedamaian yang hidup di hati mereka selama-lamanya. Tidak hanya di masa Adven dan Natal.

Bersamaan dengan pesta pembaptisan Tuhan Yesus Kristus, keluarga besar SMA Santa Maria mengadakan pesta Natal. Pesta Natal diadakan di Pendopo Santa Maria, Minggu (16/1).

Pesta Natal ini diawali dengan perayaan ekaristi kudus di Kapel Biara Ursulin, Komunitas Raya Darmo. Dipersembahkan oleh Romo Yohannes dari serikat Jesuit. Romo Yohannes ini berdomisili di Jogyakarta.

Dalam perayaan ekaristi, romo Yohannes mengatakan tanda kedamaian awal mula diperlihatkan melalui kelahiran Yesus Kristus. Namun kejelasannya peristiwa kedamaian tersebut dimulai dari pembaptisan Tuhan Yesus Kristus. Yohannes Pembaptis membaptis Yesus dengan air. Tetapi perlu diketahui bahwa Yesus Kristus membaptis dengan roh kudus, kata romo Yohannes.

Melalui relasi inilah kita sebagai umatNya selalu diingatkan kembali. Bahwa kita telah dibaptis dengan roh kudus. Dan, menjadi anggota tubuh Gereja yang ikuti ambil bagian dalam pewartaanNya dan menjadi terang dunia.

Relasi inilah yang selalu diwujudnyatakan oleh keluarga besar civitas SMA Santa Maria untuk menjalin keutuhan sebagai muridNya. Dengan relasiNya, kita sebagai staf kependidikan dan non kependidikan semakin diingatkan untuk membangun sinergi antara yang lainnya. Membangun keutuhan pondasi SMA Santa Maria di tengah-tengah jaman ini.

Melalui relasi ini, keluarga besar kita semakin hidup dalam namaNya dan karya kita ini merupakan panggilan yang istemewa karena menumbuhkembangkan generasi bangsa. Karena di SMA Santa Maria tidak hanya menumbukembangkan intelektual, tetapi juga ikut bertanggungjawab menumbukembangkan karakter pribadi mereka. Dalam mempersiapkan generasi muda di tantangan jaman ini, seperti kegiatan Live in, Serviam Project, dan Respect and Serve Others, pesan pastor serikat Jesuit.

“Itulah ciri khas pendidikan SMA Santa Maria yang selalu mengingatkan siswa-siswi akan kepekaan dan kepedulian terhadap sesama.” Karena saat ini generasi muda mulai tergerus oleh godaan pada dunia modernisasi. Namun siswa-siswi tetap berteguh pada SERVIAM, yakni kami siap mengabdi kepadaMu. Dan, ini menjadi bagian dari jiwa siswa-siswi SMA Santa Maria yang peka, peduli, dan ramah terhadap sesama. Dan, ini dirasakan oleh masyarakat sekitar Santa Maria. Bahkan dipegang penuh dan menjadi bagian pastoral diri mereka serta motto hidup siswa-siswi sampai menjadi alumni SMA Santa Maria, terang Kris Sujendro.

Selepas perayaan ekaristi, keluarga besar civitas SMA Santa Maria melanjutkan ramah tamah dengan menikmati hidangan ala Java Style. Sepertinya gudeg, eseng-eseng daun pepaya, gurami goreng, nasi pecel, dan es kopyor. Dan, anak-anak diajak bermain bola untuk anak laki-laki dan lari untuk anak perempuan.

Untuk meramaikan suasana pemenang bola mendapatkan hadiah kaos bola tim nasional, Garuda di dadaku. Semua anak juga mendapatkan bingkasan natal. Tidak puas ikut pertandingan bola di bangsal, anak-anak masih melanjutkan bola mania ala SMA Santa Maria di halaman Santa Maria. Begitu puasnya memasukan bola di gawang lawan, salah satu anak menirukan gaya pemain bola favoritnya, yakni Gonzales, terang Bagus Novianto. (asep)

Sabtu, 22 Januari 2011

Majalah Sekolah KRISAN Raih Rekor MURI

Majalah sekolah yang tetap eksis menerbitkan segala aktifitas sekolah dan meraih berbagai prestasi ini di tingkat Jawa Timur maupun Nasional. Akhirnya menuai berkat dan memecahkan rekor MURI.

Konsisten Terbit 6 Bulan Sekali

Memperingati 10 Tahun atau 1 Dekade usia majalah sekolah KRISAN SMA Santa Maria Surabaya. KRISAN kali pertama terbit pada tanggal 12 Januari 2001 dengan format A4.

Untuk memperingati momen bersejarah ini, FX. Rudy Prasetya, S.S. selaku pendiri dan pemimpin umum majalah sekolah KRISAN mengelar Seminar dan Pelatihan : “Pers Sekolah : Kini dan Masa Datang” yang diadakan di aula Santa Maria, lantai 4, Sabtu lalu(15/1). Kemeriahan 1 Dekade ini bagian dari rangkaian kegiatan 60 tahun SMA Santa Maria. Kehadiran SMA Santa Maria di Raya Darmo No 49 ini sejak 16 Juli 1951, kata Rudy guru Bahasa Indonesia.

Guru Bahasa Indonesia ini menambahkan bahwa Seminar dan Pelatihan mendatangkan narasumber yang kompeten di bidang Jurnalistik Azrul Ananda (Direktur Jawa Pos), Errol Jonathans (Direktur Operasional Suara Surabaya Media), dan Sr. Agatha Linda Chandra, MBA., OSU, tambahnya.

Azrul Ananda di Seminar ini mengupas bagaimana mengelola media pers sekolah yang kreatif, menarik, dan inovatif. Untuk Errol Jonathans membahas bagaimana meliput dan menulis berita untuk media on line, sedangkan Sr. Agatha menyampaikan pers sekolah di mataku.

Seminar dan pelatihan dihadiri oleh 400 pelajar SMP & SMA, Guru Swasta & Negeri, Umum se Jawa Timur, dibuka dengan kilas balik terbitnya majalah Krisan. Ditayangkan melalui multimedia dengan 2 layar LCD. Kemudian dibentangkan tiga spanduk foto diri narasumber dengan dimeriahkan confety.

Tak lama kemudian, moderator Yenny Sampurno memanggil narasumber pertama untuk menyampaikan materi hingga narasumber kedua. Di sela-sela istirahat peserta seminar dan pelatihan dimanjakan dengan hiburan karawitan kontemporer asuhan Pambuko Kristian, modern dance, dan fashion show. Semua pengisi acara ini serba sepuluh karena bagian dari memperingati 1 dekade KRISAN, jelas pemimpin umum.

Pemimpin umum juga mengutarakan bahwa di saat itu juga dilauching logo baru Krisan dan maskot baru, yakni semacam macan tutul yang membawa kamera. Dan, mengganti tagline dari Membuka Cakrawala Baru menjadi Detak Nurani Siswa. Bahkan tahun X KRISAN edisi kesembilan belas ini terbit full colour.

Ada ungkapan bijak mengatakan “We are no angels”. Itu artinya semangat perubahan KRISAN dan merupakn wujud konkrit dari upaya perbaikan. Sekaligus inovasi agar KRISAN semakin akrab, enak dibaca , dan nyaman dilihat, jabarnya.

Lanjut, yang ditunggu-tunggu oleh KRISANIS dan keluarga besar SMA Santa Maria, Lauching pemecahan rekor MURI secara langsung diberikan kepada Kepala Satuan Pendidikan, Dra. Sr. C. Fitri Murniati, OSU., M,Pd. Pemecahan rekor MURI berkat buah karya dari para anggota ekstrakurikuler jurnalistik dalam mengharumkan nama SMA Santa Maria dengan meraih prestasi terbanyak di Indonesia di bidang Jurnalistik. Sekaligus hadiah untuk 60 tahun SMA Santa Maria. Setelah penerimaan Piagam MURI, salah satu guru meletak piagam MURI tersebut di tengah-tengah piala dan piagam Jurnalistik lainnya.

Tidak hanya MURI yang dipersembahkan oleh anggota redaksi KRISAN. Para anggota redaksi KRISAN juga membuat buku. Buku ini menampilkan kisah perjalanan KRISAN lewat kiprah jurnalis-jurnalisnya. Dan, buku ini merupakan buku laporan Jurnalistik Sekolah pertama di Jawa Timur, ungkap Rudy.
Usai, penyerahan rekor MURI. Seminar dan pelatihan dilanjutkan Azrul Ananda sebagai narasumber ketiga. Azrul Ananda menyaringkan pengalamannya menjadi jurnalis tulis dan foto di sekolahnya. Di akhir sharingnya Azrul Ananda mengajak peserta bermain deskripsi. Permainan deskripsi ini menjelaskan ciri khas seseorang secara fakta yang dilihatnya, jelas Azrul. (Asep)

Siswa SMP Santa Maria II, Sidoarjo

Asah Soft Skill

Meraih prestasi di bidang akademik tidaklah cukup, siswa-siswi juga perlu dibekali ketrampilan yang lebih di bidang soft skill. Ketrampilan ini melatih siswa-siswi berinteraksi dengan masyarakat, terutama di lingkup sekolahnya.

Ibu Indri, selaku Wakil Kepala Satuan Pendidikan mengatakan bahwa pemberian ketrampilan ini dikemas dalam Class Meeting. Diantaranya Workshop Robotik, Daur Ulang, Paper Clay, dan Jurnalistik SMP Santa Maria II, Sidoarjo. Class Meeting ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi. Masing-masing siswa-siswi dibebaskan memilih keempat workshop, kata Indri.

Untuk workshop Jurnalistik di SMP Santa Maria II, 15 – 17 Desember 2010, diikuti oleh 30 siswa-siswi dari kelas VII sampai IX. Workshop Jurnalistik ini diadakan di ruang multimedia. Dengan mendatangkan narasumber dari SMA dan Alumni Santa Maria Surabaya. Diantaranya FX. Rudy Prasetya, S.S. (Pengajar dan Konsultan Media), A. Sepanca Naryanto (Praktisi Media Cetak), dan Benedictus Leonardo (Fotografer).

Siswa-siswi ini dibekali materi menarik, seperti tulis menulis (soft dan hard news), fotografi, dan layout. Setelah itu, hari kedua siswa-siswi mulai mencari data, wawancara, memotret, dan melayout dalam bentuk koran selembar.

Pembuatan koran selembar ini harus selesai jam 10.00 dan harus ditempel di papan yang telah disediakan panitia. Untuk dilombakan dan terpasang 6 koran selembar, yakni Jurnal Pos, Perdana Pos, Warta Pos, Lensa Pos, Buletin Mimpi, dan Senyum Pos.

Sr. Lestari, OSU selaku Kepala Satuan Pendidikan menjabarkan dengan adanya workshop ini, siswa-siswi dapat implementasikan kemampuannya dalam membuat koran dan menulis berita. Dengan adanya ketiga narasumber, siswa-siswi dapat semakin memberanikan diri. Untuk berani tampil beda dalam menuangkan gagasannya dalam tulisannya. Terbukti adanya artikel-artikel tentang sekilas sekolah tercinta ini, jabarnya. (asep)