Sabtu, 12 September 2009

Komunitas Jurnalistik Santa Maria


Rutin Bikin Koran Tiap Minggu


“Menulis itu mengasyikkan”, itulah acuan dasar bagi para siswa-siswi SMA Santa Maria Surabaya dalam menggeluti ekstrakurikuler jurnalistik. Secara umum, peserta yang tergabung dalam komunitas jurnalistik SMA Santa Maria ini mendapat beragam materi tulis-menulis. Diantaranya bagaimana membuat berita, bagaimana menulis hard news dan soft news, feature, mengenal prinsip dasar wawancara, fotografi, dan mendesain tata letak koran sampai majalah.

“Membudayatuliskan siswa-siswi sejak dini dengan aplikasi langsung membuat majalah, koran, dan buletin serta untuk mengenal lebih dekat bagaimana menjalani profesi seorang jurnalis atau reporter dan pewarta foto di sebuah media massa bagi para siswa-siswi,” kata FX. Rudy Prasetya, S.S. Selaku pembina ekstrakurikuler Jurnalistik SanMar SMA Santa Maria.

Terkait pembuatan koran, dalam pengerjaannya para siswa-siswi terbagi dalam kelompok. Satu kelompok terdiri 4-5 anak. Mereka diminta membuat rancangan dasar sebuah koran. Ada yang dipilih menjadi pemimpin redaksi, sekretaris, fotografer, hingga desainer. Dan design di media massa terdiri dari desain grafis dan tata letak.

Mereka wajib menyelesaikannya dalam membuat satu lembar halaman koran. Setelah jadi, lalu koran dipasang di kaca-kaca mading sekolah. Uniknya, pembuatan koran ini dikerjakan oleh seluruh siswa-siswi kelas X, XI, dan XII yang telah disusun jadwalnya bergantian setiap Minggunya.

“Wah, ternyata membuat koran itu sangat seru. Ada tantangan tersendiri. Apalagi saat mencari berita yang tergres dan orisinal. Sekarang saya baru sadar, ternyata mencari berita itu nggak mudah. Yang jelas, perlu komitmen tinggi dan pengorbanan serta semangat pantang menyerah,” beber Dindra, siswi kelas XI yang tergabung sebagai anggota komunitas jurnalistik SanMar.

Lanjut, berbicara soal prestasi, ekstrakurikuler jurnalistik SanMar memang dibilang benar-benar sarat prestasi. Dari level Se-Surabaya hingga tingkat Nasional telah acapkali diraih. Sejak berdiri hingga kini ini, kira-kira ada 54 prestasi telah digenggam. Yang paling gres adalah di akhir bulan Agustus 2009 lalu, saat meraih Juara I Lomba Jurnalis dan best photografer Se-jatim di ajang kompetisi Jurnalis Honda DBL 2009 yang diselenggarakan oleh media harian ternama di Surabaya.

Bahkan saat ini, eksistensi ektrakurikuler jurnalistik SanMar dalam rangka persiapan gawe ultahnya yang akan menginjak satu dekade atau 10 tahun di tanggal 12 Januari 2011 nanti. Itu artinya, ekstrakurikuler jurnalistik SanMar telah berdiri sejak 12 Januari 2001. “Ya, kami mempunyai rencana besar di ultah kami yang kesepuluh nanti seperti, adanya launching buku jurnalistik, workshop jurnalistik, bedah buku, pameran buku, pameran foto, sumbang buku, sampai adanya rencana pemecahan Museum Rekor Indonesia (MURI). Pokoknya, acaranya seru dan spektakuler. Dinanti saja,” jelas Pras panggilan akrab Rudy Prasetya.
(Humas, SMA Santa Maria)
Caption : BUKTI otentik karya siswa-siswi SMA Santa Maria - Jurnalistik Memang Mengasyikkan.

Kamis, 10 September 2009

Toleransi Antar Umat Beragama

Berbuka Puasa Bersama
di Halaman Keuskupan Surabaya


Seperti yang dikatakan Romo Yosep Eko Budi Susilo, acara berbuka puasa bersama selalu diadakan setiap tahun sekali. Dan, ini yang tahun ke-10 setelah diadakan berbuka puasa bersama di Wisma Mojopahit Hati Kudus Yesus, lantai 4 bertajuk “Dialog Antara Agama menurut Perspektif Gereja Katolik yang diselanggarakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) kota Surabaya, Senin lalu (31/8). Dialog ini ditutup dengan takjil dan berbuka puasa bersama.

Berbuka puasa bersama ini berlanjut sampai di Keuskupan Surabaya. Keuskupan Surabaya bersama Paguyuban Warung Broto mengelar acara berbuka puasa bersama di halaman depan Keuskupan Surabaya, Kamis (10/9).

Sekitar pukul 16.45 wib, rombongan Ibu Dra. Hj. Sinta Nuriah A. Wahid, M.Hum datang disampai halaman Keuskupan Surabaya. Panitia Keuskupan Surabaya bersama Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono didampingi Romo Yosef Eko Budi Susilo menyambut Ibu Sinta.

Salah satu Bina Iman Anak Katolik memberikan bunga kepada istri Presiden RI ke-4. Selanjutnya rombonngan Ibu Sinta menuju tempat yang telah disediakan oleh panitia.

Berbuka puasa bersama mengusung tema ”Dengan Berpuasa Kita Nyalakan Lentera Kemanusiaan yang Bersih dari Kerakusan dan Kedholiman”. Dihadiri oleh Ibu Lurah Keputran Etty Minarti, SH, MM, Kapolsek Tegalsari Surabaya AKP Totok, dan Romo Harjanto Ketua Komisi Hubungan Antar Kepercayaan (HAK) Keuskupan Surabaya.

Romo mengatakan buka puasa wujud dari toleransi umat beragama. Untuk memulai sesuatu yang baru dengan persaudaraan dan pengharapan. Hal ini juga senada yang disampaikan oleh Ibu Sinta dalam ceramahnya menjelang berbuka puasa yang didengarkan oleh kaum dhuafa sekitar Gereja Katolik Paroki Hati Kudus Yesus. Dan, anggota paguyuban warung Broto.

”Kita sebagai warga Indonesia harus mengetahui bahwa negara kita adalah negara demokratis dan humanis. Dengan kebhinekaan kita sebagai warga negara dari berbagai suku untuk saling menghormati dan bertoleransi antar umat beragama, jelas Ibu Sinta.”

Sebelum menikmati takjil, mereka berdoa terlebih dahulu. Takjil yang disediakan panitia, yakni es cao. Dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama di samping kantor Keuskupan Surabaya. Dan, bagi mereka yang ingin sholat Magrib disediakan tempat di Balai Paroki Hati Kudus Yesus, lantai 2.

Menjelang akhir dari berbuka puasa bersama, anggota Paguyuban Warung Broto menerima parsel Idul Fitri. Dan, Satuni menerima hadiah atas 99 kali makan di Warung Broto selama setahun. Begitu juga Rasiman menerima hadiah atas sisa tabungannya dalam setahun, sebesar 1 juta rupiah. (asep /Komunitas Jurnalis Muda Keuskupan Surabaya)

FOTO ANTARA/Eric Ireng/ed/pd/09

Minggu, 23 Agustus 2009


Hidup adalah Perjuangan
Oleh: Ev. Manati I Zega*

Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apapun juga penyakitnya. (Yohanes 5:4).

Salah satu tema yang tidak pernah berhenti dibicarakan semasa manusia hidup adalah tentang hidup itu sendiri. Karena itu, setiap orang harus mengerti makna dari kehidupan tersebut agar pemahamannya tentang hidup tidaklah terlalu sekuler. Sebab, dalam dunia ini terlalu banyak filosfi hidup yang dibangun tidak berdasarkan firman Tuhan. Sebut saja, filosofi yang mengatakan masa kecil ditimang-timang, masa muda foya-foya, masa tua kaya raya dan mati masuk surga.

Dalam bacaan firman Tuhan ini, Alkitab memberi perspektif yang berbeda tentang makna dari sebuah kehidupan. Di Yerusalem, dekat pintu gerbang domba ada sebuah kolam yang namanya Betesda. Dan, Betesda itu memiliki lima serambi. Di serambi-serambi itu, berbaring sejumlah besar orang sakit, orang-orang buta, orang-orang timpang dan orang-orang lumpuh. Di sana mereka menantikan goncangan air kolam tersebut. Alkitab berkata, Allah membuat aturan main yang luar biasa dan akal manusia yang terbatas sulit memahaminya. Aturan itu adalah barang siapa terdahulu masuk di dalamnya, itulah yang mendapatkan kesembuhan. Aturan ini membuat kita bertanya, kalau hal itu diberlakukan bagi orang sehat tidak masalah. Tapi, hal ini diberlakukan bagi orang-orang sakit suatu hal yang sukar dipahami. Namun itulah aturan mainnya.

Satu prinsip yang sangat menonjol kita lihat di sini bahwa hidup itu sebuah perjuangan. Manusia harus berjuang sedemikian rupa agar memperoleh berkat yang sudah disediakan-Nya, yakni kesembuhan. Jika hanya berdiam diri dan tidak pernah mencoba bertarung, maka seumur hidup tidak pernah menyaksikan dan mengalami pertolongan Tuhan. Sakit, bukanlah alasan untuk berdiam diri. Keterbatasan bukan pula alasan untuk berkata inilah nasib saya. Tuhan mau, kita berjuang dari keterbatasan yang ada, agar kuasa-Nya makin nyata bagi kita. Inilah prinsip firman Tuhan. (ilustrasi-image.google.co.id)

“Walau terbatas, tetaplah berjuang agar kuasa-Nya menjadi nyata”.

____________* Penulis, seorang rohaniwan dan Jurnalis. Tinggal di Yogyakarta.

Jumat, 21 Agustus 2009

Bulan Ramadhan

(diambil dari image.google.co.id)


Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Bulan Ramadhan


Bulan Penuh Pengendalian Diri

Saat aku dengan istriku pulang dari Darmo Trade Center, tepatnya di jalan Wonokromo, jalan menuju Ngagel penuh sesak dipadati mobil dan sepeda motor. Istriku pun ikut bicara, tadi pagi di jalan Ngagel menuju Menur pun dipadati mobil dan sepeda motor.

“Ternyata para pengguna jalan ini sedang nyekar sanak-saudara yang telah meninggal dunia. Ternyata bulan ini, bulan yang penuh suci, bulan Ramadhan.”

Bulan ini merupakan bulan puasa untuk umat Islam sebelum merayakan Hari Raya Idul Fitri. Sebelum menjalankan puasa, umat Islam mempunyai tradisi untuk nyekar. Seperti yang terlihat di jalan Pegirian, Wonokusumo, Rangkah, Ngagel, Jumat (21/8).

“Setelah nyekar, umat Islam mengawalinya dengan Shalat Tarawih. Shalat Tarawih, terkadang disebut teraweh atau taraweh.” Shalat Tarawih merupakan shalat sunnat yang dilakukan khusus hanya pada bulan ramadhan. Tarawih yang diartikan sebagai "waktu sesaat untuk istirahat". Waktu pelaksanaan shalat sunnat ini adalah selepas isya', biasanya dilakukan secara berjama'ah di masjid. Fakta menarik tentang shalat ini ialah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam hanya pernah melakukannya secara berjama'ah dalam 3 kali kesempatan.

Usai menjalankan shalat Tarawih, umat Islam menjalankan puasa dengan diawali sahur, yakni Sabtu (22/8). Umat Islam memulai sahur dari jam tiga pagi sampai sebelum shalat Shubuh atau disebut Imsak.

Puasa dalam agama Islam artinya menahan diri dari makan dan minum dan dari segala perbuatan yang boleh membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183.

Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Terdapat puasa wajib dan puasa sunnah, namun tata caranya tetap sama, sumber dari id.wikipedia.org. (asep.)

Sabtu, 08 Agustus 2009

Komisi Kerawam


Hidupkan Kaderisasi OMK

Mempersiapkan kemampuan dasar orang muda Katolik untuk memasuki poros pasar, poros pemerintah, dan poros masyarakat, menjadi tujuan utama dalam kegiatan kaderisasi yang diselenggarakan oleh Komisi Kerawam Keuskupan Surabaya.

Sebanyak 45 orang muda Katolik dari dari 10 paroki di kevikepan di Surabaya mengikuti kegiatan ini. Kegiatan tersebut berlangsung di Sasana Krida Jatijejer tanggal 10-12 Juli. Kesepuluh paroki itu, diantaranya Paroki St. Maria Anunntiata Sidoarjo, Paroki St. Paulus Djuanda, Paroki Salib Suci Tropodo, Paroki Gembala yang Baik, Paroki St. Yohanes Pemandi, Paroki St. Yusup Karangpilang, Paroki Redemptor Mundi, Paroki Ratu Pencinta Damai Pogot, Paroki St. Maria Tak Bercela Ngagel, Paroki St. Perawan Maria Gresik.

Kegiatan ini merupakan yang kedua diselenggarakan oleh Kerawam, sebelumnya pada tahun 2008 dilaksanakan di SMA St. Hendrikus, yang diikuti OMK se-Keuskupan Surabaya. Pada kaderisasi kali ini Kerawam dibantu oleh Komisi kepemudaan sebagai panitia yang bermarkas di jalan Bengawan.

Rm. Eko Budi Susilo, Ketua Komisi Kerawam membuka kegiatan ini. Dan, beberapa materi yang digodok oleh panitia yang relevan dengan keberadaan OMK saat ini. Petama, tentang kepemudaan berupa aspek kepribadian untuk mengenal, menerima, mengembangkan diri, dan bagaimana hidup bersama dengan orang lain.

Kedua tentang kekatolikan yaitu tentang kepemimpinan kristiani, posisi Gereja dalam Negara, public speaking dan Ajaran Sosial Gereja. Materi ketiga tentang keIndonesiaan, peserta diajak untuk melihat kondisi kemasyarakatan saat ini dilihat dari aspek ideology, politik serta keamanan dan dampak globalisasi bagi Negara. Sebagai materi penutup tentang entrepreunership sebagai suatu peluang untuk menjawab tantangan penetrasi pasar global saat ini, jelas Ketua Komisi Kerawam.

Komisi Kerawan dan Komisi Kepemudaan mendatangkan narasumber yang kompeten, yakni Tommy Basuki. Tommy membawakan materi tentang kepribadian yang disertai dengan permainan. Permainan ini membantu mereka untuk bisa percaya diri, tentang siapa mereka sebenarnya.

Materi kedua dibawakan oleh Domnina Rani dosen Psikologi Unika Widya Mandala tentang manajemen dan kepemimpinan. Hari kedua dengan materi posisi gereja dalam Negara oleh Rm. Eko Budi Susilo, Kepemimpinan Kristiani oleh Rm. Tri Kuncoro Yekti, public speaking oleh Erol Jonathans, Ajaran Sosial Gereja oleh Rm. Eko Wiyono, dan malam harinya dengan materi Analisis Sosial oleh Yudith Chipardian.

Hari Minggu, Joko Susanto dosen Fisip Universitas Airlangga memberikan materi tentang politik. Materi yang diberikan tentang politik dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang terjadi di sekitar kita yang bersinggungan dengan kehidupan banyak orang. Politik bukan dalam arti realita sebenarnya seperti partai politik, parlemen, papar Joko.

Sebagai jawaban terhadap masalah persoalan pasar diberi materi tentang kewirahusahaan yang diberikan oleh Ferry Yusuf, Ketua Pukat Keuskupan Surabaya. Dunia usaha yang sekarang lagi berkembang membutuhkan para wirausahawan muda yang tangguh. Oleh karena itu OMK perlu diberi bekal untuk melihat dunia usaha sebagai suatu alternative dalam mengatasi pengangguran saat ini, ungkapnya.

“Materi yang diberikan oleh para praktisi bisnis ini dapat memberikan gambaran tentang dunia usaha yang sebenarnya.”

Kegiatan kaderisasi ini menjadi lengkap dan mengkuatkan OMK dalam berjuang mengarungi perziarahan hidup. Dengan perayaan ekaristi dipimpin oleh Rm. Eko Budi Susilo dan pemberian sertifikat kepada peserta.

Dalam pesannya Rm. Eko mengharapkan agar peserta kaderisasi mampu memberikan warna dalam kehidupan di paroki masing-masing. Kegiatan ini memberikan makna bahwa kita sebagai orang muda untuk selalu siap dalam menghadapi berbagai tantangan global saat ini. (silvester woru)

Caption foto: Peserta kaderisasi OMK serius menerima perintah dari Pemateri.