Jumat, 09 Oktober 2009

Oase

Mendengarkan Cinta

Manusia memang makhluk rumit. Dan suka aneh sendiri. Hal-hal yang pingin kita omongin,
atau yang harus kita bilang, justru malah nggak pernah kita ungkap.
Parahnya lagi, kita terbiasa pake simbol-simbol atau kata-kata lain buat nunjukin arti sebenernya, seringnya maksud kita itu jadi nggak terkomunikasikan dan bikin orang lain ngerasa bete, nggak disayang, nggak dihargai.

Iya sih, ada saat-saat kita ngerasa nggak nyaman mengekspresikan cinta yang kita rasa. Karena takut mempermalukan orang lain, atau diri kita sendiri, kita ragu buat bilang, "I love you". Jadinya, kita menyampaikan perasaan itu lewat kata-kata yang lain; "jaga diri baik-baik", "belajar yang bener","hati-hati di jalan", "jangan ngebut", "jangan lupa makan".

Tapi sebenernya, itu cuma opsi-opsi lain dari perkataan yang sesungguhnya; "saya sayang kamu", "saya peduli sama kamu", "kamu sangat berarti buat saya", "saya nggak mau kamu terluka".

So, nggak ada salahnya kita coba MENDENGARKAN CINTA lewat kalimat-kalimat yang dikatakan orang lain. Ungkapan eksplisit itu penting, tapi bagaimana kita mengungkapkannya bisa jadi jauh lebih penting. Setiap pelukan bermakna cinta meski kata-kata yang keluar sangat berbeda. Setiap perhatian yang diberikan orang lain menyimpan cinta walau bentuknya kaku, atau mungkin kasar. Yang pasti, kita harus mencari dan mendengar cinta yang ada di baliknya.

Seorang ibu bisa ngomelin anaknya karena nilai rapot atau kamar yang berantakan. Si anak mungkin hanya mendengar omelannya. Tapi kalo dia bener-bener MENDENGAR, dia bakal mendapatkan cinta di sana. Kepedulian dan cinta ibunya muncul dalam bentuk omelan. Tapi gimana pun juga, itu adalah cinta.

Seorang gadis pulang larut malam, dan akhirnya dapet kuliah gratis dari bokapnya. Gadis itu cuma nangkep kemarahan sang bokap. Tapi kalo dia mencoba untuk MENDENGARKAN CINTA, dia bakal menemukannya. "Kamu gimana sih, Papa jadi khawatir sama kamu," kata bokapnya. Tau nggak, itu sama aja dengan "Papa sayang dan peduli sama kamu. Kamu sangat berarti buat Papa" yang sayangnya, nggak tersampaikan dengan lisan.

Kita mengungkapkan cinta dalam banyak cara - hadiah ulang tahun, pesan-pesan kecil, dengan senyuman, dengan air mata. Cinta nggak hanya ada dalam kata-kata, tapi juga dalam diam. Dan seringkali kita menunjukkan cinta dengan memaafkan orang yang nggak mau mendengar cinta yang kita sampaikan.

Masalah dalam "mendengarkan cinta" adalah kesulitan dan keterbatasan kita untuk mengerti bahasa cinta yang dipakai orang lain. Yang kerap terjadi, kita jarang mendengarkan orang lain. Kita mendengar kata-kata, tapi kita nggak mempertimbangkan ekspresi atau tindakan-tindakan yang mengiringi kata-kata itu. Sering juga kita cuma bisa mendengar hal-hal negatif, penolakan, kesalahpahaman, dan mengabaikan cinta yang menjadi dasarnya.

Dengerin deh, cinta-cinta yang ada di sekitar kita. Kalo kita bener-bener berusaha mendengarkan, kita bakal temui bahwa kita sebenarnya memang dicintai. Mendengarkan cinta bisa membuat kita sadar bahwa dunia ini adalah tempat yang begitu indah.

Dan yang paling penting, membuat kita hidup.Bukanlah kehadiran atau ketidakhadiran yang penting; kita nggak perlu merasa kesepian meski kita sedang sendiri. Sendiri itu perlu, lho. Dan itu jangan sampe membuat kita jadi kesepian. Yang jadi masalah bukan berada bersama seseorang, tetapi berada untuk seseorang.

Jangan pernah ragu nyatakan cinta. Jujurlah dengan apa yang kita rasa dan katakan. Nggak ada ruginya mengekspresikan diri. Ambil kesempatan untuk mengungkapkan pada seseorang betapa pentingnya dia buat kita. Lakukan, buat perubahan, hindari penyesalan.

Satu lagi, tetaplah dekat dengan kawan dan keluarga, karena mereka udah berjasa membangun diri kita yang sekarang. Cinta memang ada untuk ditebarkan. Dan saat cinta yang kita berikan diterima, atau dibalas, itulah saat hidup menjadi penuh makna. (artikel ini dikirim oleh temanku "Lanny Septiana" star5lan@yahoo.com)


Senin, 28 September 2009

Seminari Menengah St. Vincentius a Paulo-Garum



MENULIS DAN MEWARTAKAN

(Sebuah Pembelajaran untuk Calon Pewarta)
Oleh IL Parsudi


Dalam rangka menghidupi tema tahunan “Seminaris Insan Pembelajar”, Sabtu (19/9), Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menyelenggarakan seminar dengan tema “Budaya Menulis dan Meneliti: Apa dan bagaimana Menulis Opini?” Kegiatan ini berawal dari keprihatinan bahwa di era informasi ini masih dijumpai banyak calon imam yang kemampuan menulisnya masih rendah. Lebih lagi, bila kemampuan tersebut dipandang dari sudut pewartaan.

Oleh karena itu, tidak berlebihan bila Seminari Menengah St. Vincentius A Paulo Garum menangkap dan memperhatikan adanya kebutuhan meningkatkan kemampuan menulis para siswanya itu. Hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, yaitu Bapak St. Kartono, guru SMA Kolese De Brito, Yogyakarta. Berikut pembelajaran yang dapat dipetik dari kegiatan seminar tersebut.

“Mengapa menulis?”

Demikian St. Kartono membuka seminar. Pertanyaan ini menggugah para peserta untuk menyadari makna kegiatan menulis. Sekian jawaban dapat segera dilontarkan. Ada yang menulis karena ingin terkenal. Ingin mencari nafkah tambahan. Ingin berkembang intelektualnya. Ingin mendiskusikan saja. Ingin ini itu dan sebagainya. Lebih dari itu semua, menulis karena ingin mengubah dunia.

Menurut penulis dan juga dosen itu, menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak. Ide yang sudah tertuang dalam tulisan, kelak memiliki kekuatan untuk menembus ruang dan waktu sehingga keberadaan ide atau gagasan tersebut akan abadi. Lain kata, proses menulis adalah satu upaya untuk mewariskan dan meneruskan ide atau gagasan kepada generasi selanjutnya agar ide tersebut terpelihara dan tetap “hidup”. Dalam kerangka pandang tugas manusia, dapat dikatakan “Menulis itu mewartakan”.

Menulis membutuhkan keberanian karena tulisan harus membawa pencerahan. Berani menyatakan pendapat meski mungkin berseberangan dengan arus utama. Inilah spirit yang membangun keberanian baru yang membawa pencerahan untuk masyarakat dan sesama.

Pintu masuk untuk menulis dan pencerahan adalah dengan membaca realitas dan teks dengan mata, telinga, dan hati dengan kritis. Ide-ide segar dilatih dengan bertanya. “Mengapa begini? Mengapa begitu? Bagaimana seharusnya? Bagaimana kenyataannya? Solusi apa yang bisa ditawarkan? Inilah pintu menuju penemuan pengetahuan.

Memahami Konteks

Konteks adalah situasi atau lingkungan yang berhubungan dengan suatu kejadian atau kegiatan. Dalam menulis, konteks akan memberikan bobot makna dan pengaruh/efek sebuah tulisan. Tanpa konteks, sebuah tulisan akan menjadi kering, tidak membumi dan tidak mempunyai kekuatan mengubah. Oleh karena itu, memahami konteks adalah perlu. Konteks yang dimaksud adalah sebagai berikut.

Pertama, konteks penulis. Siapa pun ia penulis (pewarta) perlu menyadari siapa dirinya, di mana ia berada, sebagai apa ia di sana, dan bagaimana ia melibatkan diri di sana. Dalam dinamika reflektif, ia perlu berusaha memahami dan mengenal konteks latar belakang diri sendiri dan orang lain, peristiwa, atau tempat yang dihadapinya. Misalnya, seorang guru atau imam yang menulis (mewartakan) perlu mencoba mengenal konteks topik yang akan ditulisnya: lingkungan, kebiasaan, budaya, latar ekonomi, nilai-nilai tradisi yang dihidupi di tempat tertentu. Berusaha mengerti keprihatinan, masalah dan tantangan-tantangan yang dihadapi masyarakat yang menjadi perhatiannya. Dengan demikian, penulis dapat menentukan dengan tepat apa yang harus dan dapat dikembangkan mengenai sebuah masyakarat atau komunitas.

Kedua, konteks wacana nilai. Konteks untuk menyampaikan tulisan adalah wacana tentang nilai-nilai (values) yang ingin dikembangkan. Maksudnya agar pembaca menyadari nilai-nilai kemanusiaan yang ingin diperjuangkan. Nilai-nilai yang mestinya diperjuangkan seperti: persaudaraan, solidaritas, penghargaan terhadap sesama, tanggung jawab, kerja keras, kasih sayang, ugahari, ketaatan, kerja sama, kepentingan bersama, cinta lingkungan hidup.

Ketiga, konteks lingkungan masyarakat. Lingkungan masyarakat yang mengusahakan suasana yang menghargai setiap orang, ditunjukkan kebaikannya, ditantang untuk melakukan yang benar, yang baik, dan yang indah. Idealnya, masyarakat sebagai bentuk kehidupan bersama merupakan tempat orang dipuji dan dihormati, tempat saling membantu, bekerja sama dengan semangat dan murah hati untuk menyatakan secara konkret melalui perkataan dan perbuatan idealisme bersama.

Menemukan Bentuk

Suatu gagasan akan menjadi konkret dan dapat dipahami bila diberi bentuk dan dikemas dengan baik. Gagasan sebuah tulisan akan jelas bila ada bentuknya misalnya berita, feature, opini, kolom, atau bentuk tulisan yang lain. Bentuk itu bermacam-macam tetapi roh yang menggerakkan sama, yaitu gagasan atau ide tulisan.

Kadang bentuk merupakan kekhasan seseorang. Seseorang bisa mewujudkan kekuatan pada kolom, dan yang lain pada opini, artikel, atau berita. Ini berarti seseorang dapat menemukan dan mengembangkan ciri khasnya untuk menjadikannya kekuatan yang mampu mengubah dunia melalui sebuah karya tulis.

Lebih daripada bentuk, cara memberi-bentuk (baca: membahasakan) sebuah gagasan dapat menjadi cermin jiwa seorang penulis. Ada ungkapan: bahasa adalah pikiran. Bahasa adalah jiwa. Adanya manusia dapat dipahami melalui bahasa. Hal ini dapat kita lihat pada contoh kasus berikut. Ketika ada kecelakan pesawat jatuh, muncul ungkapan yang berbeda-beda bergantung siapa yang mengungkapkan itu. Seseorang yang perhatiannya pada hal-hal yang tragis akan mengungkapkan, misalnya “Pesawat Jatuh, 15 Tewas Mengenaskan”. Akan tetapi, ada pula yang mengungkapkan, “Pesawat Jatuh, 2 Anak Selamat”. Dua ungkapan tersebut menunjukkan betapa rasa kemanusiaan berbeda satu dengan yang lain. Tentu, menjadi penulis akan berhadapan dengan belajar mencari bentuk yang sesuai dengan ketajaman kemanusiaannya. Begitu juga dengan bahasa gambar. Gambar yang ditampilkan sebagai bentuk ungkap suatu peristiwa mempunyai kadar kulitas daya-ungkap yang berbeda-beda.

Pencarian berbagai bentuk wacana amat penting untuk mengasah kepekaan rasa dan budi seorang penulis. Maka dapat dikatakan pula, menulis berarti mengasah kepekaan rasa dan kemanusiaan yang menjadi dasar pewartaan.

Mengubah

Menulis itu mencerahkan, menggugah, dan mengubah bila dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh kekuatannya. Menulis dapat mengantar seseorang pada penemuan yang terdalam akan diri, sesama dan dunia semesta. Untuk itu, “Menulislah, sebelum engkau ditulis orang!” -amdg-

Jumat, 25 September 2009

Gereja Katolik Paroki Ratu Pencinta Damai (RPD), Pogot-Surabaya


Rayakan Hari Jadi Paroki


Gedung gereja sendiri berdiri tanggal 25 Januari 1981, jadi usianya sudah 28 tahun. Gereja yang terletak di pesisir pantai telah menjadi paroki yang ke-38 di Keuskupan Surabaya.

Gereja Katolik RPD mempunyai perjuangan tersendiri untuk berani memutuskan menjadi paroki. Menjadi segalanya tidak lagi disubsidi oleh gereja lain. Melainkan gereja sendiri harus berani mengelola segala aset yang dipunyai oleh gereja.

”Tanpa banyak kata, sejak tanggal 25 Januari 2004 Paroki mengambil keputusan untuk menjadi gereja mandiri, Gereja Katolik Paroki RPD. Pada waktu itu dibawah pimpinan para gembala, yakni Romo Y. Gani Sukarsono, CM dan Rm. Th. Tandyasukmana CM.

Tahun 2009, akhirnya Paroki Ratu Pecinta Damai telah genap 5 tahun atau disebut Lustrum I. Alm. Romo Y. Haryanto CM selaku Administrator Keuskupan Surabaya meresmikan Paroki Ratu Pencinta Damai dengan menandatangani prasasti yang diletakkan di depan gereja.

Menyambut hari jadi paroki ini, ketua panitia-R. FX. Budi Satriawan mengungkapkan bahwa tema Lustrum I paroki ini, yakni ”Menumbuhkembangkan Iman Umat dan Persaudaraan Sejati”. Hari jadi paroki ini juga digelar beberapa kegiatan.

”Diantaranya lomba jasmani dan rohani, pertandingan olah raga, bazaar, serta bakti sosial dengan pengobatan gratis”, ungkap Budi.

Sesuai temanya, Rm. Th. Tandyasukmana CM, Pastor mengharapkan dengan HUT ini, umat kita semakin dewasa, pengurus lebih kompak. Umat kita lebih bersatu dengan semangat persaudaraan dalam memajukan paroki kita tercinta ini.

Begitu juga, Orang Muda Katolik (BIAK, REKAT, dan MUDIKA) harus selalu meningkatkan kemampuannya untuk dapat ambil bagian dalam pengembangan paroki, harap Pastor Kepala Paroki.

“Usia paroki kita masih muda. Untuk dapat berkembang dengan baik perlu meningkatkan kerja sama yang sudah ada, dedikasi yang tinggi, dan pengorbanan yang tulus ikhlas,” ungkap Tandya.
(asep)

Misdinar Paroki RPD

Misdinar Santo Tarsisius, Raih Prestasi

Kiprah Misdinar Santo Tarsisius Paroki Ratu Pecinta Damai, Pogot-Surabaya, semakin maju terbukti dengan banyaknya piala yang diraih. Di antaranya, Juara I Temu Krida dan JuaraIII Sepak Bola di Misdinar Cup. Dengan kiprah ini, Misdinar St. Tarsisius semakin mengembangkan sayapnya dengan membuat program pelatihan misdinar selama dua bulan untuk pendalaman materi. Dan, tetap konsisten dalam pelayanan di altar. Karena tugas utama menjadi laskar Kristus.
Jaimito Salvador S, ketua Misdinar St. Tarsisius Paroki Ratu Pecinta Damai, mengatakan bahwa pendalaman materi juga menanggapi atas usulan dari Pastor Paroki Romo Th. Tandyasukmana CM agar misdinar perlu mengerti seluk-beluk pakaian misdinar, perlengkapan misa, dan buku-buku pedoman misa. Misdinar St. Tarsisius Paroki Ratu Pecinta Damai juga menpunyai Putri Sakristi (PS) dan Putra Altar (PA). PS bertugas membantu misdinar dalam pelayanan umat dan romo, seperti mendampingi asisten imam pada saat pemberian komuni, pengantar persembahan, dan membentuk formasi pada saat Doa Syukur Agung, terutama hari raya besar. Seperti Paskah, HUT, dan Natal. Sedangkan PA atau misdinar bertugas melayani romo di atas altar.

“Pada era Konsili Vatikan I, PS tidak boleh naik di altar dikarenakan hanya putra saja yang boleh naik di altar. Gereja pada Dokumen Konsili Vatikan I masih “kolot”. Putra dianggap lebih layak daripada putri karena putra dipersiapkan untuk menjadi calon-calon imam,” jelas Jaimito.

Sejak Konsili Vatikan II (1965 sampai sekarang), Gereja Katolik mulai membuka diri terhadapsituasi dan perkembangan zaman. Kini, anggota misdinar lebih banyak putri (70 persen) daripada putra. Mereka berasal dari Mudika maupun Rekat. Karena itu, PS diperbolehkan naik di altar, sama dengan misdinar laki-laki.

Dengan perubahan kebijakkan. Kini, Misdinar Santo Tarsisius terus mencari dan merangkul para peminatnya untuk bergabung di PS dan PA. Mereka juga mengadakan program penyegaran rohani dan jasmani seperti doa rutin, Bible Camp, sepak bola, dan sebagainya. (asep)

Kamis, 24 September 2009

Gereja Katolik Paroki Kelahiran St. Perawan Maria

Gereja tertua di Kota Surabaya

Bentuk bangunan gereja Katolik Kelahiran St. yang artistik dan bergaya geothic merupakan perpaduan arsitektur yang sangat menarik dan unik dikalangan arsitektur bangunan.

Gereja Katolik
yang tepat di jalan Kepanjen ini merupakan salah satu monumen arsitektural yang berusia lebih dari 1 abad. Gedung yang terbuat dari batu bata sebagai komponen strukturalnya itu kini mengalami kerusakan di beberapa bagian akibat usianya yang cukup tua dan cuaca.

Bentuk bangunannya yang artistik dan bergaya geothic merupakan perpaduan arsitektur yang sangat menarik dan unik dikalangan arsitektur bangunan. Gereja Katolik kelahiran Santa Perawan Maria merupakan gereja yang cukup tua di kota Surabaya. Dan, menjadi aset pemerintah kota Surabaya, karena termasuk dalam bangunan yang dilindungi oleh pemerintah kota Surbaya. Termasuk dalam cagar budaya yang wajib dan harus kita lestarikan.

Sebelum dibangunnya Gereja Katolik kelahiran Santa Perawan Maria ini, sudah dibangun sebuah Gereja Katolik pertama di Surabaya bergaya Eropa yang terletak dipojok jalan Kepanjen dan Kebonrojo.

Pada awalnya dua orang pastor pada tanggal 12 Juli 1810, Hendricus Waanders dan Phillipus Wedding datang dari Belanda dengan kapal ke Surabaya. Yang kemudian Pastor Wedding pergi ke Batavia. Dan Pastor Waanders menetap di Surabaya.

Pastor Waanders sering mengadakan misa untuk umat Katolik di Surabaya. Yang kemudian dari hari ke hari jumlah umat Katolik semakin bertambah yang kemudian membuat umat Katolik berencana membangun sebuah gereja Katolik.

Dan, baru pada tahun 1822, umat Katolik dapat merealisasikan membangun sebuah gereja pertama dipojok Roomsche Kerkstraat/ Komedie weg (Kepanjen/Kebonrojo). Namun belakangan gereja Katholik pertama ini dipindah ke gedung baru di sebelah utaranya, tepatnya di jalan Kepanjen 4-6 Kelurahan Krembangan Selatan di wilayah Surabaya Utara.

Gelar Hari Jadi Paroki Kelahiran St. Perawan Maria

Akhirnya, dari tahun ke tahun perkembangan gereja Katolik kelahiran Santa Perawan Maria semakin pesat. Kegiatan umat semakin bervariasi, tidak hanya berkutat di liturgi dan rohani saja. Seperti pelayanan kepada sesama yang membutuhkan dan dikoordinir oleh Serikat Santo Vincentius (SSV). SSV, salah satu bentuk karya kerasulan yang dicetuskan oleh pastor-pastor tarekat Vinsensian atau lebih dikenal dengan CM.

Tidak hanya itu, ada beberapa organisasi interen yang mendukung perkembangan gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, yakni Bina Iman Anak Katolik, Remaja Katolik, Mudika, dan Wanita Katolik Republik Indonesia.

Organisasi ini mempunyai peranan penting di dalam pengembangan gereja Katolik Kelahiran St. Perawan Maria. Bahkan tak terasa usia sudah mencapai hampir dua abad, yakni 194 tahun. Berdiri kokoh dijalan Kepanjen 4-6.

Amadius Fredy Sidarta-staf sekretariat mengatakan Selasa lalu memperingati hari ulang tahun Paroki Kelahiran St. Perawan Maria. Hari jadi Paroki diambil dari nama pelindung pada Pesta Santa Maria, tanggal 8 September. Dan, tahunnya diambil dari berdirinya gereja Katolik di jalan Kepanjen, yakni tahun 1815.

Memperingati hari ulangan tahun itu, Panitia membuat serangkaian kegiatan untuk merayakan ulangan tahun. Diantaranya Bakti Sosial, Jalan Sehat, Bazar, Seminar Ajaran Sosial Gereja, dan check up murah, kata staf sekretariat Gereja Katolik Kelahiran St. Perawan Maria.

Bakti sosial ini secara langsung dibagi kepada para tukang angkut sampah di sekitar wilayah dan lingkungan Paroki Kelahiran St. Perawan Maria. Untuk jalan sehat, panitia mengadakannya pada hari Minggu (6/9). Rute dari jalan sehat mulai dari depan gereja melintasi masjid Kemayoran, Indrapura, Rajawali, dan menuju Kapolwil. Berbagai doorprize disediakan panitia untuk memeriahkan hari ulang tahun.

Tidak hanya kegiatan serimonial saja digelar dalam rangka menyambut HUT Paroki Kelahiran St. Perawan Maria. Panitia pun memberikan kegiatan yang sifatnya memberikan wawasan tentang ajaran Katolik. Pemberian wawasan ini dikemas dalam Seminar tentang Ajaran Sosial Gereja (ASG), jelas Fredy.

ASG adalah kumpulan dokumen-dokumen resmi Gereja Katolik, seputar perhatiannya kepada masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya. Gereja sedari dulu tidak ingin menjadi menara gading yang berdiri kokoh, namun lingkungan sekitarnya terabaikan dan tertindas.Baiklah kiranya jika kita lebih mengenal sedikit saja tentang ajaran-ajaran itu; sehingga dapat menjadi inspirasi dalam kehidupan nyata kita sekarang. Di dalam ASG terdapat 13 dokumen.

Diantaranya Rerum Novarum-tentang buruh, Mater et Magistra-"Kekristenan dan Kemajuan Sosial”, Gaudium et Spes-"Konstitusi Pastoral tentang Gereja di Dunia Modern", Dignitatis Humanae-"Deklarasi tentang Kebebasan Beragama", Populorum Progressio-"Tentang Kemajuan Bangsa", Laborem Excersens, "Tentang Kerja Manusia", dan Solicitudo rei socialis, "Tentang Keprihatinan Sosial".

Pria yang berusia 60 tahun ini menambahkan bahwa narasumber dalam seminar ASG ini, yakni Romo Agus Setyono CM. Seminar ini luar biasa, karena diikut oleh tiga ratus umat. Dan, walaupun dokumen-dokumen ini sudah lama, tetapi masih relevan untuk menjadi bahwa diskusi.

Lanjut, karena tanggal 8 September ini hari efektif. Jadi puncak dari kegiatan ini ditutup pada hari Minggu (13/9) melalui perayaan ekaristi. Perayan ekaristi dipersembahkan oleh selebran Romo Antonius Sapta W. CM dengan didampingi tiga konfraternya. Diantaranya Romo Kukuh CM, Romo Suparmono CM, dan Romo Rahmat CM.

Usai perayaan ekaristi, HUT ini semakin lengkap dengan adanya pemotongan tumpeng dan pentas seni di halaman gereja dengan menu jajan pasar. Dan, makanan yang telah disediakan oleh Ibu-ibu Wanita Katolik Republik Indonesia, jelas Fredy. (asep)


Ilustrasi diambil dari images.google.co.id

Dirgahayu Paroki Santa Maria yang ke-33

Meneladani Semangat Bunda Pelindung Kita

Minggu (6/9) umat Paroki Santa Maria Blitar bersyukur atas perjuangan kita selama ini dalam membangun sarana pelayanan yang melahirkan anggota gereja begitu banyak yang diberkati oleh Santa Pelindung kita.

Untuk merayakan hari kelahiran paroki kita ini, panitia mengusung “Bersama Maria Kita Bangun Paroki Santa Maria Yang damai Sejahtera dan Menawan”. Serangkaian kegiatan dilaksanakan dan dimaksudkan untuk meningkatkan jalinan dan persatuan Umat Allah se-Paroki Santa Maria Blitar, persaudaraan, dan keakraban serta solidaritas Kristiani yang luhur.

”Serangkaian kegiatan HUT Paroki diawali dengan Novena Medali wasiat yang dimulai Jumat (28/8) dan dibuka oleh Rm. L. Karsiyanto CM-Pastor Kepala Paroki di Sendangrejo-stasi Ngadirejo.”

Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan berbagai lomba yang diikuti oleh seluruh umat Paroki St. Maria mulai dari anak-anak sampai umat yang dewasa baik di lingkup lingkungan maupun stasi. Diantaranya lomba cerdas cermat, mewarnai, dan melukis.

Keesokan harinya, Minggu pagi (6/9) pukul 06.00 wib, panitia menggelar jalan-jalan santai, stratnya dimulai dari halaman gereja Paroki Santa Maria Blitar kemudian berkeliling dan kembali ke halaman gereja. Kegiatan ini dilanjutkan dengan adanya pasar murah serta pembagian doorprize.

Puncak acara ditandai dengan misa syukur dipimpin oleh Pastor Kepala Paroki St. Maria Blitar yaitu Romo L. Karsiyanto CM didampingi Rm. Pariyanto CM. Hadir pula dan ikut mempersembahkan misa yaitu Romo Paroki St. Maria Tak Bercela Tulungagung- Rm. Suyatno, Romo Paroki St. Petrus dan Paulus Wlingi, Rm. Suwarno, Romo-Romo Seminari Garum, Rm. Senti Fernandes, Rm. G. Tri Wardoyo CM, Rm. Yulius CM, dan Rm. Roni.

Misa syukur berlangsung meriah ini dihadiri sekitar 800 umat. Diantaranya frater, suster-suster S.Sps, Suster-susuter Puteri Kasih serta umat dari berbagai stasi dan lingkungan Paroki Santa Maria Blitar.

Usai, misa diadakan pesta umat dan disuguhkan berbagai makanan dari lingkungan maupun stasi berupa tumpeng dan makanan lainnya. Selama pesta berlangsung juga diumumkan pemenang lomba cerdas cermat, mewarnai, melukis, dan lomba tumpeng. Lomba cerdas cermat dimenangkan oleh Lingkungan Sanankulon sebagai juara I, Juara II Pendamping BIAK, Juara III Karangsari, Juara IV stasi Bacem. Lomba mewarnai dan melukis diboyong oleh TKK St. Maria dan TKK Yos Sudarso.

Selain Hari Paroki, Romo L. Karsiyanto juga membuka Bulan Kitab Suci Nasional, Minggu (6/9) dengan tema “YAKUB: BERGUMUL DENGAN ALLAH DAN MANUSIA”.

Romo Karsi mengajak kepada umatnya untuk memahami dan mengamalkan Kitab Suci yang aktual yang sesuai dengan situasi dan kondisi kehidupan nyata pada saat ini. Dan, Kitab Suci merupakan Santapan rohani Umat Beriman Kristiani, ajak Pastor Kepala Paroki. (rina/asep)