Selasa, 13 April 2010
Sabtu, 10 April 2010
SMA Negeri 7 Surabaya

Batalyon Pengibar Bendera SMA Negeri 7 Surabaya, Minggu (11/4) tepat di jalan Ngaglik mengelar Creativity of Paskibra (COPA 2K10). COPA 2K10 ini diikuti sejumlah sekolah menengah atas dari negeri dan kejujuran se Jawa Timur. Tempatnya di lapangan upacara SMA Negeri 7 yang dibatasi yellow line. COPA 2K10 ini digelar sejak 07.00 -18.00 WIB.
Tidak hanya itu, panitia juga mengelar Photography Competition of You NGNster (POCONGS 2K10). Puluhan fotografer sekolah menengah atas antusias membidik gerak-gerakan, formasi, yel-yel, dan betel dari peserta COPA 2K10 dengan serius. Para fotografer POCONGS 2K10 mengunakan kamera poket dan beberapa kamera profesional yang disebut SLR. Ada pula yang tidak puas dengan membawa kamera, para fotografer ini juga membawa alat bantu, yakni tripod dan tangga. Untuk menghasilkan bidikan yang terbaik.
Untuk peserta POCONGS 2K10, salah satunya dari SMA Santa Maria. SMA Santa Maria mengirimkan 3 siswanya, diantaranya Ogi, Lukas, dan Shelvy. Kesemuanya mereka tergabung dalam ekstrakurikuler Jurnalistik SMA Santa Maria.
”Sebelum pelaksanaan kompetisi POCONGS 2K10 ini, peserta diwajibkan mengirim 1 foto tentang profil sekolah. Sebelum hari Sabtu sudah terkirim dan hasilnya dipajang gedung samping kiri lapangan upacara,” jelas Ogi.
Sebagai civitas Akademika SMA Santa Maria patut berbangga hati, 3 bidikan dari siswa SMA Santa Maria mendapat apresiasi yang dhasyat dari SMA Negeri 7 dan pengunjung COPA 2K10. Karena sesuai kreteria yang diinginkan panitia dan mempunyai nilai artistik dan berkonsep. Masing-masing foto tersebut berjudul Arsitektur bidikan Lukas, Tetap Kokoh Berdiri bidikan Shelvy, dan Lorong Pelajar bidikan Ogi. Dan, SMA Santa Maria merebut juara I-Ogi dan Juara II-Lukas di POCONGS 2K10. (asep) Foto :Ogi.
MANDIRI

Berikan Service Excellent
Kamis malam lalu (8/4) sambil menyucikan sepeda motorku, secara tidak sengaja aku duduk bersama pemilik pencucian sepeda motor. Pemiliknya bernama Anugerah Ariyadi. Anugerah Ariyadi mengatakan pencucian sepeda motor ini, salah satu usaha yang pernah berjalan dengan pesat di jalan Nias. Kemudian pindah di samping klinik Pusura Yos Sudarso.
Dan, dari awal konsepnya memang untuk pencucian sepeda motor, bukan mobil. Tetapi warga Surabaya atau pelanggan menghendaki untuk mencuci mobil. Kita akan membantunya sesuai kemampuan kami. Yang jelas, petugas kami dididik untuk mencuci sepeda motor, jelas Arif.
Selain pemilik usaha jasa cuci sepeda motor, beliau juga bekerja sebagai pengacara. Tidak hanya itu, beliau aktif di dunia politik, yakni tim sukses dari Risma dan Bambang.
Pencucian sepeda motor Mandiri ini luas sekali bisa menampung belasan sepeda motor sekaligus, karena pegawainya lebih dari 12 orang. Pada malam itu pegawai yang bekerja ada 14 pegawai, diantaranya 2 kasir, 10 petugas cucinya, dan 2 pengawas.
Proses pencucian ada 4 tahap, pertama didaftarkan terlebih dahulu di kasir. Kedua, pengawas menyerahkan kepada petugasnya untuk dievakuasi hingga bersih. Ketiga, proses pengeringan dengan menggunakan kompressor dan selanjutkan proses finishing, yakni sepeda motor setelah dicuci, petugasnya melakukan proses pemolesan.
”Jasa cucian sepeda motor ini khas dengan warna merah. Seperti spanduk yang terpampang jelas warna backgroundnya merah bertulis Mandiri-cuci dan poles sepeda motor eks jl. Nias. Dan, buka setiap hari dimulai dari pukul 07.00 – 22.00 WIB”.
Jasa cucian sepeda motor Mandiri ini dilengkapi dengan musik, televsi, meja, dan kursi untuk pelanggan. Bahkan warna kursinya pun merah.
Lanjut, pelanggan pun dimanjakan dengan sajian ringan, yakni bakso solo, mie ayam Mandiri, dan minuman soft drink. Sangat rileks sekali pelanggan Mandiri karena suasana di sana sejuk dipenuhi dengan pohon rindang di sekitar Mandiri dan keindahan sungai Kali Mas.
Harga jasa cuciannya pun terjangkau oleh warga Surabaya. Standar warga Surabaya. ”Bukan harganya bung, tetapi kepuasan dan kebersihan sepeda motor Anda terjamin.” Anda penasaran silakan mencobanya. Pasti hasilnya puas dan puas! (asep) Ilustrasi foto : image.google.com
Kamis, 08 April 2010
Cita Rasa Unik
SOTO DAGINGBLAURAN POJOK
Minggu (4/4), kira-kira pukul 24.30 wib setelah nyelawat papa angkatannya temanku. Meis mengajakku makan. Entah, makan apa saja pokoknya kenyang, kata meisku di atas sepeda motor blackku. Melintasi jalan Semarang, aku berbelok kiri melewati Pasar Blauran. Sambil menunjukkan makanan, seperti tempe penyet, nasi bebek, bakmie, dan gule. Kesemuaan itu tidak selera di hatinya.
Tak pikir panjang, aku menambah kecepatan laju sepeda motor blackku menuju jalan Tunjungan ke arah Embong Malang. Kembali aku menawarkan makanan, seperti rawon, pecel, dan roti bakar. Meisku tetap tidak selera, saat itu seleranya ingin makan soto daging.
Kiri ke arah Kedungdoro banyak pedagang kaki lima berjualan makanan Sea Food, Chainese Food, dan Bakso. Akhirnya aku langsung berbelok kanan dan melihat keinginan meisku, yakni soto daging.
Kuparkirkan sepeda motor dekat rombongnya, meisku memesan dua porsi soto daging dan dua teh hangat manis. Penjual tersebut melayaninya dengan senyum manis dan ramah.
Sambil minum teh hangat, aku mulai bertanya kepada penjualnya. Siapa nama Ibu?, tanyaku. Ibu menjawab oh........, namaku Rully. Berapa lama ibu berjualan soto daging?, tanyaku kembali. Berjualan di sini sudah puluhan tahun dan waktu itu masih di depan. Karena pemkot Surabaya sedang menggalakkan tata letak kota dengan mempercantik trotoar. Trotoarnya diberi lantai keramik orange kombinasi warna hitam. Akhirnya berjualan di gang ini, keluhnya.
”Dan, soto daging asli Madura ini warisan dari bapak saya, yakni H. Sirad Juddin. Terletak di Blauran Pojok. Kalau kita dari arah Embong Malang dan Kedungdoro pasti akan spanduk yang terbentang berwarna hijau ”SOTO DAGING ASLI MADURA”, H. Sirad Juddin.”
Rully menambahkan soto daging mulai buka dari jam 20.00 sampai 04.00 WIB. Harganya pun terjangkau oleh kalangan warga Surabaya.
Tak lama kemudian, hidangan soto daging telah siap saji dihadapan kami berdua. Perlahan-lahan aku mulai makan soto daging. Rasanya gurih dan dagingnya empuk. Apalagi ada telurnya. Enak dimakan hangat-hangat dengan minum teh hangat, jelas meis. Anda penasaran........., silakan mencobanya! (asep) Foto : image.google.co.id
Selasa, 06 April 2010
In Memoriam

100 Hari, Wafatnya Gus Dur
Gus Dur mempunyai nama lengkap KH Abdurrahman Wahid meninggal dunia pada usia 69 tahun karena sakit di RSCM Jakarta, Rabu (30/12) pukul 18.40 WIB.
KH Abdurrahman Wahid menjabat Presiden RI mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Putra pertama dari enam bersaudara itu lahir di Desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur, pada 4 Agustus 1940. Gus Dur menikah dengan Shinta Nuriyah dan dikaruniai empat putri yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh (Yenni), Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari.
Kamis (8/4) memperingati 100 hari wafatnya Gus Dur akan digelar di Pondok Pesantren, Tebuireng, Jombang. Dan, diperkirakan akan dipadati puluhan ribu orang. Tidak hanya para santri, kaum Nahdliyin, dan berbagai elemen masyarakat lain di Indonesia yang akan hadir.
Seperti yang diberita di media harian pagi, sekitar 250 turis asing mancanegara akan mnghadiri 100 harinya Gus Dur. Para turis ini mengaku suka karakter Gus Dur dan sekaligus idola kepada Mantan Ketua Umum PBNU sekaligus mantan Presiden RI ke-4 ini.
Bahkan ribuan masyarakat Indonesia, terutama Surabaya nantinya yang tidak datang di Ponpes Tebuireng akan menggelar doa bersama, seperti yang terpampang jelas baliho di sudut kota Surabaya untuk ajakkan doa bersama mengenang kepergian Tokoh Bapak Bangsa yang peduli pada isu-isu pluralisme. (asep) Foto : image.google.co.id
Semarak 475 tahun Ordo Santa Ursula di Indonesia
GELAR UYC II di Sativa, Pacet
Selain pentas budaya digelar dalam menyambut semarak 475 tahun Ordo Santa Ursula di Indonesia. Ursulin juga menggelar kegiatan yang lingkupnya lebih besar, yakni Nasional. Kegiatan ini dinamakan dengan Ursuline’s Youth Camp (UYC). UYC sudah pernah diadakan oleh suster-suster dan para staf kependidikan yang berada dalam naungan Ordo Santa Ursula. Atau dikenal dengan Ursulin.
UYC ini kegiatan menyatu dengan alam yang bukan kali pertama diadakan oleh Ursulin. Melainkan kegiatan kali kedua yang akan diselenggarakan di Sativa, Pacet-Mojokerto pada tanggal 2 – 5 Agustus 2010.
Dan, Kali ini kepanitian yang berada di wilayah Jawa Timur, seperti Madiun, Malang, Pacet, Sidoarjo, dan Surabaya.
Panitia akan mengundang seluruh siswa-siswi SMP dan SMA yang berada di seluruh Indonesia. Kegiatan ini merupakan wujudnyata dari kebersamaan dan kepedulian kita dengan sesama. Kegiatan ini bagian dari implementasi dari nilai-nilai Serviam yang ditumbuhkembangkan di sekolah-sekolah Ursulin melalui semangat hidup dan pelayanan Santa Ursula dan Angela. Dan, menjiwai semangat Santa Maria yang mempunyai kelembutan hati, rendah hati, mau peduli, dan peka terhadap sesama.
Kegiatan Ursuline’s Youth Camp II ini mempunyai berbagai acara yang menarik dalam gerakan sosial kemasyarakatan dan pentas seni. Diantaranya adventure, exploration, culture stage, out bond, dan fun games. (asep)
Teater Adhi Tama

Selasa lalu (23/3) di pendopo Instituts Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS), suasananya tidak seperti biasanya di sebelah kiri pendopo di gedung B terpampang kain hitam yang dibentuk semacam lorong hitam.
Ternyata itu gedung B-14 dan 15 sengaja didesain seperti itu. Kaca dan trails pun ikut hitam dan dikombonasi dengan koran bekas. Dan, usut punya usut adanya pementasan teater Adhi Tama. Teater Adhi Tama, salah satu bagian dari Unit Kegiatan Mahasiswa di ITATS.
“Kali ini teater Adhi Tama menggelar Malam Budaya Seni dengan melakonkan Para Jahanam dan Puisi Teaterikal Bangsa Pelacur.“
Dalam gedung B-14 dan 15 berubah total dipenuhi kain hitam. Hitam merupakan warna inspirasi bagi seniman teater. Latar panggung dibuat minimalis dan pencahayaannya pun dibuat sederhana.
Sebelum pementasan teater, panitia menyajikan tari tradisional dengan judul ”Roro Minggir “, puisi spontanitas ”Rayuan”, dan perkusi Phsyco Noise dengan membawa dua komposisi, yakni selamat datang dan sampai jumpa Phsyco Noise. Permainan Phsyco Noise kompak sekali melalui perpaduan tong, perkusi, dan kayu yang di susun mirip kulintang.
“Semakin lengkap dan meriah Malam Budaya Seni dengan hadirnya puluhan mahasiswa ITATS, pemerhati seni teater, dan pembantu rektor III, yakni Bambang Setiono.”
Menurut Bambang menuturkan bahwa melalui peran seni pesan sosial kemasyarakatan tersampaikan dengan baik. Masyarakat akan lebih melek terhadap situasi dan kondisi saat ini. Dan, mengungkapkan sejarah kehidupan dunia. Beliau sendiri juga setuju dengan lagu yang dilantunkan Ahmad Akbar, yakni dunia itu panggung sandiwara.
Dengan teater, para pemain semakin peka dan peduli pada masalah sosial kemasyarakatan, terutama di Surabaya, tambah Bambang.
”Dunia sekarang tidak lagi putih dan jernih. Sekarang menjadi abu-abu atau bahkan hitam, itu karena manusia sendiri yang mengotorinya.”
Setelah berbagai sajian pembuka dan kata pengantar dari Bambang, lakon para jahanam pun digelar dengan setting panggung hanya terdapat satu meja dan kursi. Pak Tua sedang binggung mencari secarik kertas berisi puisinya.
Dan, memanggil istrinya, Tumiah. Tumiah mempunyai sifat selalu mengeluh akan hidupnya yang serba kekurangan. Setiap kali berkeluh kepada Pak Tua. Pak Tua selalu menjawab sabarlah dulu. Malahan meminta uang kepada istrinya untuk pasang lotre. Pak Tua mengantungkan hidupnya dengan lotre dan merah delima.
Begitu juga hidup keponakkannya, Ujang pun sama selalu hidup di jalan dan minum-minuman keras. Dan, berbuat mesum kepada si Janda. Tak kunjung datang rezeki dari loter, akhirnya Pak Tua gelisah dan stress. Mendapati Ujang yang lagi mabuk berat dan menyisakan minumannya.
Pak Tua langsung meminum minuman tersebut. Kembalilah tidur dan memasuki kamar sambil sempoyongan. Di dalam kamar tersebut ada keponakkan perempuannya dan istrinya yang sedang tidur. Tak sadar akibat minuman keras, Pak Tua menggauli keponakkannya dengan leluasan. Ending cerita dari Para Jahanam ini, akhirnya sang istri marah geram.
Lanjut, bangsa pelacur pun ditampilkan di malam budaya seni ini dengan mengisahkan perjalanan seorang pelacur. Penampilan teater Adhi Tama sangat ketal dengan gerak tubuh, ekspresi wajahnya, dan setting blokingnya. Bahkan olah vokalnya pun terdengar jelas. Semakin kuat karakter para pemain bangsa pelacur dengan alunan musik instrumentalia, permainan perkusi, seruling dari tim musik, permainan toya, dan tata lighting.
”Putu Wijaya mengatakan bahwa bermain teater tidak perlu membutuhkan biaya yang tinggi. Kebutuhan teater telah berada di alam, katanya.” (asep)

