Rabu, 16 Mei 2012

ERROL JONATHANS


Jurnalis Sejati di Media RADIO

Lahir di Jakarta, 27 April 1958, lulusan Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya. Karier awalnya sebagai Jurnalis koran Pos Kota Jakarta, selanjutnya fokus di Radio Suara Surabaya sejak 1983 hingga mencapai posisi Direktur Utama Suara Surabaya Media (terdiri dari: Radio Suara Surabaya FM 100, Radio Maja FM Mojokerto, News Portal www.suarasurabaya.net, Mossaik Communication). Saat ini juga sebagai Direktur Utama SHE Radio FM 99.6. 

Di lingkup Gereja, saat ini aktif sebagai Ketua Seksi Komsos Paroki Santo Yakobus dan Pemimpin Umum Tabloid “Efata” terbitan Gereja Santo Yakobus. Aktivis Kelompok Kategorial  ME (Marriage Encounter) dan Choice. Mantan anggota Dewan Pastoral Keuskupan Surabaya (2009-2012).

Di organisasi aktif sebagai Koordinator Dewan Kehormatan Standar Profesional Radio Siaran PRSSNI (Persatuan Radio Siaran Swasta Nasional Indonesia) Jatim, Penasehat Pengurus Pusat Aliansi Wartawan Radio Indonesia (Alwari), Dewan Penasehat Indonesian Radio Awards (IRA) .

Menjadi fasilitator keradioan dan komunikasi untuk pelatihan PRSSNI, The Ford Foundation, Friedrich Naumann Stiftung, Unifem, Unesco, Internews, Tifa Foundation, Signis Unda Osic, RRI, Komsos Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Radio Nederland Siaran Indonesia, Forum Indonesian Mediation Leiden University, dan Perguruan Tinggi Komunikasi di Indonesia.

Mengikuti pelatihan keradioan dan manajemen dari International Visitors Program-USIA, Radio Voice of America, Radio France Internationale, Forum komunikasi global Salzburg Seminar Austria, Radio Bayerischen Rundfunk, Radio Deutsche Welle, Radio WOUB Ohio University, Western Kentucky University, Broadcast Asia Conference, Radio Corporation of Singapore dan Radio Asia Seminar Singapore.

Menerima penghargaan Jurnalis Terbaik Persatuan Wartawan Indonesia Jatim tahun 1982. Menerbitkan buku “Politik dan Radio”, “Radio dan Pemilu 2004”, “Socrates di Radio-Esai Esai Jagad Keradioan” dan panduan Public Speaking, Keradioan dan Komunikasi.

Dosen tamu di Universitas Kristen Petra, Universitas Katolik Widya Mandala, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, Universitas Katolik Atmajaya Yogyakarta, Universitas Ciputra, Multi Media Training Centre Yogyakarta, Program Studi Komunikasi Universitas Airlangga, Sekolah Tinggi Komunikasi Surabaya (Stikosa-AWS), Fakultas Komunikasi Universitas Brawijaya Malang, Fakultas Komunikasi Universitas Negeri Sebelas Maret Solo.

Menyusun modul pelatihan dan kurikulum keradioan untuk program D-3 Broadcasting Universitas Pajajaran Bandung, UK Petra Surabaya dan Tifa Foundation.

Diskusi Terbuka


MENGEMBANGKAN IMAN MELALUI KOMUNIKASI DAN MEDIA 
YANG EFEKTIF
(PENDEKATAN STRATEGI 5W+1H)

oleh: Errol Jonathans

GAGASAN
Keluhan tentang ketidaklancaran komunikasi merupakan problem laten organisasi apapun dan di manapun. Realita itulah (setidaknya yang dirasakan) yang mendorong stakeholder di beberapa paroki berusaha keluar dari hambatan tersebut, melalui acara Dialog Terbuka dengan topik: “Komunikasi Yang Efektif Dalam Mengembangkan Iman Melalui Media”.

Terdapat 3 makna kunci setelah menelaah topik tersebut. Kunci pertama adalah “Kesadaran tentang komunikasi yang efektif”. Kunci kedua tentang “Pemanfaatan media”, dan kunci ketiga “Tujuan mengembangkan iman” berlandaskan kunci pertama dan kedua. Apakah penyelenggara menyadari bahwa topik ini adalah sebuah gagasan besar. Mau dibilang topik ini idealistik tidak juga, karena itulah makna Gereja (dengan “G” besar). Tetapi dikatakan topik yang sederhana juga bukan, karena implementasinya membutuhkan strategi yang terencana dan konsisten dalam rancangan waktu (time frame) yang detil.

Untuk membahasnya, saya menggunakan pendekatan rumusan “5W+1H”. Rumusan ini populer di dunia media massa sebagai strategi terjitu untuk menyajikan informasi yang lengkap, komprehensif dan kredibel. 5W merupakan ringkasan dari: What (Apa), Who (Siapa), When (Bila), Where (Di mana), Why (Mengapa). Sedangkan 1H adalah How (Bagaimana). Hanya saja analisa ini tidak sampai ke implementasi operasional dan aksi yang detil. Makalah ini hanya memaparkan kerangka panduan yang mestinya dapat ditindaklanjuti umat Paroki Kelsapa secara mandiri. Penjelasan tentang pendekatan 5W+1H, maknanya sebagai berikut;

1) WHAT:
Unsur “What” mempertanyakan apa maksud komunikasi yang efektif? Definisinya adalah: “Proses spesifik pergerakan dan pertukaran informasi di Paroki antar Stakeholder”. Komunikasi sesungguhnya sebuah proses dan bukan tujuan akhir. Disebut sebagai proses yang spesifik, karena pesan-pesan yang hendak disampaikan komunikator diproses dengan memperhatikan siapa sasaran komunikasinya (segmentasi), dan melalui cara apa (kemasan), serta dampak apa yang diharapkan komunikator dari sasaran komunikasi (feedback atau respon). Dengan demikian segenap insan Paroki Kelsapa yang melaksanakan komunikasi, wajib mengetahui teknik berkomunikasi yang baik agar pesan yang disampaikan efektif hasilnya. Filosofinya: “Komunikasi yang efektif bukan tentang apa yang anda perkatakan kepada pendengar, tetapi apakah persepsi pendengar sesuai dengan yang anda maksudkan“.

Para komunikator Gereja Kelsapa juga wajib memahami, bahwa komunikasi intinya meliputi: 1) Alur Komunikasi dan 2) Tingkatan Komunikasi. Alur komunikasi terdiri dari 3 gerak prinsip, yaitu komunikasi yang bersifat: 1) Downward: yaitu komunikasi dari atas ke bawah atau lazim disebut komunikasi hirarkial. 2) Upward: yaitu komunikasi yang inisiatifnya datang dari bawah dan menuju ke atas, yang lazim disebut komunikasi partisipatif. 3) Lateral: yaitu komunikasi yang geraknya melulu ke samping kiri dan kanan saja. Model komunikasi ini bergerak di tataran yang sama, dan sederajad antara komunikator dengan khalayak target komunikasinya.      

Mengenai pengertian "Tingkatan Komunikasi" adalah level komunikasi. Yaitu komunikasi yang dilakukan dalam rumpun yang sama. Misalnya komunikasi antara pengurus DPP secara internal, juga antar sesama pengurus BGKP, atau sesama anggota Kategorial tertentu, dan dalam level Lingkungan atau Wilayah. Seharusnya komunikasi dalam kelompok terbatas ini lebih akrab dan cair, karena lebih sering bertemu. Situasinya pasti berbeda ketika komunikasi dilakukan antar kelompok, karena membutuhkan frekuensi yang lebih sering untuk lebih akrab.    

2) WHO:
Unsur “Who” mengidentifikasi siapakah pelaku komunikasi dan siapa sasaran komunikasi. Pelaku komunikasi Gereja Kelsapa adalah stakeholder Paroki Kelsapa. Siapakah mereka sesungguhnya? Elemen-elemen stakeholder Gereja adalah: Pastor Paroki, Pastor rekan, pengurus BGKP (Badan Gereja Katolik Paroki), pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), penggerak Kelompok Kategorial, pelaksana Wilayah dan Lingkungan, serta kelompok mayoritas yang dominan yaitu segenap umat Gereja Kelsapa. Sementara itu pihak eksternal juga dapat dimasukkan sebagai bagian, karena faktanya Gereja Kelsapa juga harus berhubungan dengan pihak-pihak lain, seperti Keuskupan, paroki lain se Kevikepan dan Gereja lainnya.

Yang wajib disadari oleh segenap unsur Gereja Kelsapa, pada saat tertentu mereka berfungsi sebagai komunikator. Tetapi di saat yang lain posisi mereka dapat berubah sebagai sasaran komunikasi. Jadi setiap insan Paroki Kelsapa adalah komunikator sekaligus target komunikasi. Maka segenap umat Gereja Kelsapa dituntut mahir bertindak dan tahu detil kedudukannya sebagai komunikator, dan kapan sebagai sasaran komunikasi. Bila satu saat mereka dituntut mahir berbicara dan menulis, maka di saat lain dituntut mahir mendengarkan dan membaca.

3) WHERE:
Aspek “Where” menjelaskan di ranah mana saja komunikasi akan terjadi. Terkait dengan penjelasan tentang stakeholder Gereja, maka komunikasi sudah pasti terjadi di sektor-sektor struktural Paroki Kelsapa. Yaitu Pastor Paroki, BGKP, DPP, Kategorial, Wilayah, Lingkungan dan Umat.

4) WHEN:
Makna "When" bukanlah pengertian tentang kapan dalam konteks waktu. Tetapi diperluas dalam makna "manakala" dan "apabila". Jadi, komunikasi dikategorikan lancar manakala syarat-syarat utamanya terpenuhi. Yaitu: Paroki Kelsapa memiliki kebijakan (policy) yang jelas tentang tata cara dan alur komunikasi. Kongkritnya, diperlukan sistem sebagai kelengkapan organisasi paroki. Implementasinya menyangkut kejelasan prosedur, yang ditopang kelengkapan sarana komunikasi yang memadai. Untuk dapat menciptakannya maka kompetensi para pelaksana komunikasi Paroki Kelsapa haruslah memadai, dan merupakan orang-orang yang mumpuni ketrampilannya di sektor komunikasi. Meski pada umumnya umat berkarya di Gereja bukan untuk mencari nafkah, tetapi kesuksesan alur komunikasi wajib didukung ketersediaan dana yang memadai, karena menyangkut pengadaan alat komunikasi termasuk operasional kegiatannya.

5) WHY:
Kajian “Why” menyangkut pertanyaan mengapa komunikasi di Paroki Kelsapa harus lancar? ketidaklancaran komunikasi berarti kesenjangan komunikasi. Sudah tentu dampak komunikasi yang buntu adalah: ketidakjelasan informasi, makna dan persepsi yang keliru, bias komunikasi, kesalahpahaman, bahkan kesenjangan informasi (information gap). Yang sangat tidak diharapkan akibat ketidak efektifan komunikasi adalah peredaran desas-desus yang sudah pasti mengganggu keharmonisan seluruh elemen Paroki Kelsapa. Karenanya, demi produktivitas dan perkembangan Paroki Kelsapa ke arah yang dicita-citakan, kuncinya hanya terletak pada komunikasi yang efektif dan berdampak positif. Perhatikan: Ketidaklancaran komunikasi potensial menimbulkan apatisme umat kepada Gereja sendiri.


6) HOW:
"How" membahas cara dan strategi yang seharusnya dilakukan untuk mencapai komunikasi yang efektif. Untuk memperoleh fakta-fakta yang obyektif, Paroki Kelsapa sebaiknya mengadakan pemetaan kondisi dan situasi komunikasinya. Langkah berikutnya menganalisa situasi dan kondisi tersebut, sebelum memutuskan target pengembangan komunikasi yang hendak dilakukan. Untuk mencapai target tersebut perlu disusun strategi sekaligus parameter keberhasilan komunikasi yang dilaksanakan. Seluruh proses analisa dan perencanaan ini pada akhirnya sangat tergantung pada rancangan langkah operasional sebagai realisasi setiap rencana. Saat mengaplikasikan langkah operasional, perhatikan rekomendasi-rekomendasi yang disarankan.  

POTENSI KOMUNIKASI
Dunia telekomunikasi dewasa ini sangat kaya dengan sarana dan cara untuk berkomunikasi. Uniknya, cara dan sarana yang konvensional ternyata masih efektif digunakan, meski dunia saat ini telah kebanjiran teknologi telekomunikasi digital yang canggih dan mudah.

Sarana dan cara komunikasi konvensional ragamnya antara lain: 1)Komunikasi Verbal/tuturan, misal: dialog, rapat, diskusi, homili. Juga tersedia 2)Komunikasi Teks seperti: surat, pengumuman, lembar informasi. 3)Telekomunikasi, meliputi: telpon, SMS, email. 4)Media Massa konvensional terdiri dari: media cetak, radio dan televisi.

Pertumbuhan sarana dan cara komunikasi digital menghasilkan beragam sistem, seperti: Konvergensi (persilangan media massa konvensional dengan teknologi informasi), Media Online, Multi Media dan Media Sosial. Berbagai sistem ini menurunkan ragam model media komunikasi baru, baik yang bersifat personal maupun massa. 1)Dalam rumpun Media Online hadir: Website, Blog, Streaming media, On demand. 2)Di rumpun Media Sosial bertumbuhan: Friendster, Face Book, Twitter, You Tube. 3)Di Multi Media lahir: Electronic Book, CD-Rom, Game dan sejenisnya.   

REKOMENDASI
Terkait dengan tujuan pengembangan iman umat Paroki Kelsapa melalui komunikasi dan media, -juga usaha mendinamisasi komunikasi di Paroki Kelsapa-, metode dan sarana apa yang secara realistis dapat digunakan? Beberapa rekomendasi berikut dapat menjadi rencana aksi .

1. Komunikasi Verbal:
Meski tergolong paling konvensional, komunikasi verbal tetap efektif untuk digunakan. Terutama bentuk: Rapat, Konsultasi, Homili, Diskusi dan Pengajaran.

2.Komunikasi Teks:
Meski juga tergolong konvensional, efektivitasnya juga tidak meragukan, khususnya bentuk: Surat, Edaran, Lembaran dan Pengumuman.

3.Telekomunikasi:
Meski tergolong sederhana, Telpon, SMS, Email dan BBM direkomendasikan untuk digunakan.

4.Media Massa:
Dianjurkan berkonsentrasi pada media cetak, seperti: Tabloid, Majalah, Buletin dan Warta Paroki. 

REKOMENDASI KHUSUS:
Selain 4 Rekomendasi ini adalah menghidupkan peran dan fungsi seksi Komunikasi Sosial (Komsos). Lembaga struktural Paroki ini, ternyata sering tidak diberdayakan dan difungsikan sebagai konseptor dan motor komunikasi Gereja. Status dan fungsinya sering hanya sebatas pelaksana terbitan media massa. Tetapi Komsos jarang diperankan lebih strategis. Misalnya mendesain pola komunikasi Gereja, atau menjadi ujung tombak sektor komunikasi internal dan eksternal Paroki. Yang paling sering terjadi, Komsos tidak tahu harus melakukan apa, dan memahami tugas kewajibannya bagi Paroki dan Gereja. Untuk itu peran Pastor Paroki, BGKP dan DPP sangat diharapkan secara kebijakan maupun implementif, dengan menjadikan Komsos sebagai entitas komunikasi yang strategis.

Semoga Tuhan mengabulkan usaha-usaha baik kita demi penyempurnaan komunikasi dan media di Paroki Keuskupan Surabaya, sehingga pertumbuhan iman umat menjadi lebih subur karenanya. Amin.

Senin, 09 April 2012

Unit Kegiatan Mahasiswa 3 Unika Widya Mandala, Surubaya


Gelar Widya Mandala Super Star 2012

Beberapa minggu ini, Unit Kegiatan Mahasiswa 3 Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) disibukkan dengan kegiatan yang besar. Kegiatan ini disebut Widya Mandala Super Star 2012. Widya Mandala Super Star dikemas layaknya Indosesia Idol yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta nasional.

Widya Mandala Super Star diikuti kurang lebih 70 peserta. Peserta ini berasal dari civitas akademika mulai dari mahasiswa sampai staf pun boleh mengikuti ajang pencarian bakat ini, terang Jefry, ketua panitia.

Panitia mengawalinya dengan audisi. Di audisi ini, peserta dibebaskan memilih lagu sendiri sesuai kemampuan vokal mereka. Audisi telah berlalu, panitia telah memutuskan 12 peserta masuk semi final. Diantaranya sebagai berikut :
Nama Peserta (12 Finalis)
Jurusan
Andy Parts Lists
Ilmu Komunikasi
Evelina Larisa
Ilmu Komunikasi
Dimitry Daniel Adventus
Ilmu Komunikasi
Feldy Albineno
Farmasi
Rully Rachel Wadja
FKIP Bhs Inggris
Anita Oktavia Haliem L
FTP
Agnes Hadi Resita
Bisnis
Sagita Oetomo
FKIP Bhs Inggris
Catharina Hetty R. A.
Staf UKWMS
Victor Jonathan
Bisnis
Gisela Mariana Manu
Bisnis
Stefany Lestari
Bisnis

Untuk mempersiapkan semi final, panitia mengundang 12 finalis untuk technical meeting, Senin lalu (2/4/12) di ruang C 206 Kampus Dinoyo dengan mengumpulkan biodata lengkap beserta foto terbaik ukuran apa saja dalam bentuk soft file, foto kopi kartu identitas bagi karyawan dan kartu mahasiswa Bagi mahasiswa wajib mengumpulkan jadwal perkuliahan KRS atau jadwal kegiatan harian yang lain, tambah ketua panitia.

Pada tahap babak semi final Widya Mandala Superstar, panitia telah meninformasikan kepada finalis. Untuk menyiapkan satu buah lagu dengan tempo musik yang telah ditentukan oleh finalis.

Untuk kepentingan babak semi final, panitia memberikan poin-poin tertentu kepada finalis. Diantaranya mengingat nomor registrasi tercantum, kartu identitas diri (KTM dan KTP baik asli mapun foto kopi sesuai data registrasi), foto 4x6, dan foto close up untuk promosi beserta soft copynya.
Ketua panitia menjelaskan, mengawali semi final panitia menggelar promo di Plaza UKWMS mulai 3-4 April 2012 lalu dimulai pukul 09.00-14.00 WIB. Dan, finalis menyiapkan satu lagu, baik minus one atau pun dengan iringan musik seperti piano.

Selain promo, panitia juga mengadakan pengambilan gambar profil finalis. Dengan tujuan untuk menunjang acara semi final. Finalis juga diberi jadwal latihan mulai 11-13 April 2012 menjelang semi final hari Sabtu mendatang (14/4/12) di auditorium Benediktus UKWMS, jelasnya.

Widya Mandala Super Star ini sistem penilaian semi finalnya, 60 persen dari penilaian juri dan 40 persen penilaian dari polling. Untuk polling, panitia telah menyediakan kupon polling di Plaza UKWMS. (asep)

Minggu, 08 April 2012

Sambut Paskah


Gelar Lomba Mewarnai Telur Paskah

Minggu (8/4/12), Blogger diberi informasi oleh kawan lama. Bahwa BIAK Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen-Surabaya menggelar lomba mewarnai telur dan estafet telur di Gedung SDK Santa Angela. Lomba ini digelar atas keinginan adik-adik kami yang ingin mencari telur paskah. Kegiatan ini tidak memungkinkan dilaksanakan karena masih ada perayaan ekaristi Paskah yang ketiga. Akhirnya kakak-kakak pembina menggelar lomba tersebut, terang Hendrikus Yogi Chandra selaku ketua panitia.

Lomba mewarnai telur ini diikuti 107 anggota BIAK dengan kreteria penilaian, diantaranya memaksimalkan penggunaan bahan, kerapian, kebersihan, kerjasama. telur ditata tegak, dan maksimal durasinya 45 menit.

Panitia memperbolehkan orang tua mendampinginya, tetapi hanya perwakilan atau satu orang saja. Seperti dua tahun sebelum dengan lomba biskuit cinta. orang tua diperbolehkan mendampingi satu anak, satu perwakilan. Dan, uang pendaftarannya hanya 5.000 rupiah dipergunakan sebagai konsumsi. Semua hadiahnya dibiayai oleh paroki, tambah Yogi.

Sepertinya yang dituturkan Laurensia, dia mendampingi anak untuk memotivasi anaknya supaya berani tampil dan mencintai makna Paskah, tuturnya. (asep)

Tri Hari Suci


Memaknai Injil Kehidupan Melalui KebangkitanNya

Memasuki Paskah, Umat Katolik Keuskupan Surabaya mengawalinya dengan Minggu Palma. Seperti yang diamati oleh blogger di beberapa paroki. Blogger mengikuti Minggu Palma (1/4/12) di Gereja Paroki Ratu Pecinta Damai, Pogot. Di halaman gereja, ratusan umat Pogot mengikuti perarakkan Minggu Palma. Umat mengeluk-elukkan Yesus sebagai raja. Namun pada saat bacaan Injil, umat mulai berubah pendirian menjadi ikut-ikutan menolak Yesus sebagai raja.

Untuk merenungkan segala dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Romo Emanuel Prasetyono, CM selaku Pastor Pembantu dalam memberikan peneguhan dalam homilinya. Romo Pras mengatakan, kisah sengsara Yesus yang baru telah kita dengarkan. Bukan hanya kisah yang mengandalkan kekuatan fisik, tetapi Yesus menjalaninya dengan kekuatan pribadinya. Sikap pribadiNya yang mengalir menguatkan kita sebagai umatNya dengan berdiam diri. Berdiam diri, bukan berarti kalah, kata Romo Pras.

“Berdiam diri di sini mengakui bahwa pengadilan jaman itu sesat. Prosedur hukum tidak dijalankan sebagaimana mestinya Melalui tuduhan-tuduhan yang tidak benar.”

Melalui inilah, Yesus mengajarkan kita untuk mensyukuri rahmat keagungan Bapa, yakni pemberian kekuatan yang dipimpin oleh kebenaran. Bukan kepalsuan yang mendasari kekuatan Yesus, jabar Romo Pras.

Sebelum memasuki pekan suci, hendaklah kita meneladan kekuatan pribadi Yesus dengan kebenaranNya. Hingga dalam merenungkan Tri Hari Suci semakin disucikan iman kita sebagai umatNya.

Tri Hari Suci, diawali dengan Kamis Putih. Blogger mengikuti Kamis Putih (5/4/12) di Gereja Paroki Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. Sebelum Kamis Putih dimulai, Panitia mengawalinya nonton film sengsara Yesus melalui layar LCD dan televisi. Paroki Santa Maria Tak Bercela juga dipadati umat. Di Kamis Putih, Rd. Budi Hermanto menyampaikan pesan, melalui tahun 2012-Tahun Ekaristi dan Remaja ini diajak untuk semakin mengimani pribadi Yesus. Melalui pengorbanan Yesus yang dilambangkan Tubuh Darah Kristus dengan komuni kudus.

Sebelum menerima komuni kudus, hendaknya kita membersihkan diri. Untuk kesiapan diri menjalin relasi diri bersamaNya. Disimbolkan dalam upacara pembasuhan kaki kepada keduabelas rasul.

Kekhusukkan umat semakin mendalam dengan mengikuti Jumat Agung. Jumat Agung (6/7/12) yang dirayakan di Stasi Agustinus, tepatnya di SMA K Santo Hendrikus, Arief Rachman Hakim  ini terdapat dalam beberapa bagian, yakni ibadat sabda, penghormatan salib, dan penerimaan komuni. Romo yang bertugas di stasi tersebut menegaskan, Jumat Agung merupakan ibadat sabda dan penghormatan sengsara dan wafatNya. Tidak ada perayaan ekaristi dan kolekte, tegasnya.

“Kolekte diganti dengan uang duka cita atau istilah di Gereja Paroki Pogot, yakni uang silih dengan menyediakan kotak silih. Uang tersebut telah diberikan pada saat Kamis Putih atau sebelum Jumat Agung yang diletakkan pada titik-titik tertentu atau pintu masuk.”

Sehari kemudian, blogger mengikuti pekan suci di Gereja Paroki Hati Kudus  Yesus, Polisi Istimewa. Ratusan umat memadati gereja dalam mengikuti perayaan Sabtu suci. Sabtu suci (7/4/12) dirayakan  sebelum perayaan Paskah. Di Sabtu suci, Uskup merenungkan malam tirakatan ini dengan berani mati atas dosa-dosa kita. Bukan menghindari kematian. Kalau kematian dalam arti bahasa Suroboyoan, yakni Matek. Matek di sini berarti ketidakjujuran atas tindakkan kita, seperti para koruptor saat ini.

Untuk berani mati bersamaNya, Mgr. Vincentius Sutikno Wicaksono berpesan kepada umatnya. Hendaknya kita berani menerima kematian atas dosa-dosa kita. Hidup baru bersama kebangkitanNya dengan mengimani ajarannya melalui cinta kasih bersama BapaNya. Seperti Alm. Paus Yohannes Paulus II, yakni Injil Kehidupan. Injil Kehidupan lebih dikenal dengan sebutan dalam bahasa Latin yaitu Evangelium Vitæ atau dalam bahasa Inggris disebut "The Gospel of Life" adalah merupakan judul dari Ensiklik yang ditulis oleh Paus Yohannes Paulus II yang merupakan sikap Gereja Katolik terhadap nilai-nilai kehidupan manusia yang tidak dapat diganggu gugat, pesan Bapak Uskup Surabaya. (asep)

Foto kedua : antarajatim.com

Rabu, 04 April 2012

Briket Unik dan Cantik

dari Hulu sampai ke Hilir

"Pemberdayaan sumber alam menjadi produk unggulan dan memilki nilai jual lebih dalam menciptakan usaha baru”

Pepatah Jawa mengatakan, Jagemah ripah loh jinawi. Pepatah ini tidaklah sekedar slogan dan isapan jempol belaka. Tetapi menumbuhkan alam ini menjadi subur makmur, seperti alam Indonesia.
Indonesia merupakan negara agraris yang mempunyai 2(dua) iklim, yakni musim penghujan dan musim kemarau yang berada dibawa garis khatulistiwa. Hingga sinar matahari begitu menyinari alam Indonesia. Faktor tersebut begitu berpengaruh terhadap hasil perkebunan maupun pertanian di Indonesia. Ibarat tongkat pun menjadi tanaman.
Alhasil, hasil produk turunan pertanian dan perkebunan saat ini masih banyak yang belum diolah dan dimanfaatkan oleh petani. Baru sekitar tahun 2000 poduk turunan hasil pertanian dan perkebunan dilirik para investor. Namun sisa-sisanya dianggap sebagai produk turunan atau sampah yang tidak menghasilkan bagi para investor. Produk turunan ini semula hanya sebagai limbah yang tidak dapat dimanfaatkan. Namun setelah dikaji dan diteliti kembali oleh tangan-tangan yang peka dan peduli menjadi sesuatu yang unik dan menghasilkan produk unggulan.
Di sebagian wilayah Indonesia masih banyak produk turunan mungkin boleh disebut limbah pertanian belum diolah mereka. Produk tersebut jika diolah akan mempunyai nilai tambah dan nilai jual. Produk turunan dari limbah hasil pertanian diantaranya : tempurung kelapa-coconutshell, cangkang sawit-palmkernelshell, cangkang kemiri-candlenutshell, sekam padi-husk, dan serbuk gergaji-sawdust, serta masih banyak lagilimbah hasil pertanian.

Tempurung Kelapa, Limbah Pengolahan Perkebunan Kelapa
 
Selama ini petani tidak pernah mengolah limbah ini. Setelah diambil daging buahnya, petani membuang tempurung begitu saja. Penggunaannya hanya terbatas sebagai kayu bakar. Hanya berakhir diliang tungku untuk menanak nasi.
Limbah tempurung bisa mencapai 2 (dua) ton setiap panen per petani yang memiliki kurang lebih 400-500 pohon kelapa. Pohon kelapa tidak memiliki musim panen, berbuah secara terus menerus. Bahkan sebelum dipanen pohon kelapa sudah menumbuhkan calon buah muda. Bedanya hanya ketika musim kemarau hasil buah yang dihasilkan lebih kecil, dibanding musim penghujan.
Ada beberapa kalangan masyarakat memanfaatkan tempurung kelapa sebagai arang. namun kapasitasnya tidak begitu banyak. Pemanfaatannya pun sekedar untuk membakar sate atau mengasap ikan supaya awet.
Arang tempurung kelapa memilki kadar karbon cukup tinggi dibanding arang kayu. Kadar kalorinya pun cukup tinggi, mencapai 7000 Kcal. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil analisa laboratorium.
Hal ini membuat pengelola berminat mengolah menjadi arang dan briket arang tempurung. Minat terhadap briket arang tempurung cukup tinggi, sehingga permintaan ekspor arang tempurung cukup tinggi dari tahun ke tahun. Jika mengekspor arang tempurung tidak memberikan lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja Indonesia. Tidak mungkin karena hasil cukup mengiurkan dan menjadi mata pencarian yang dapat dihandalkan di dunia bisnis pertanian kelapa. Dibilang sebagai limbah dari hasil perkebunan kelapa oleh para petani kelapa.
Alasan ini membuat pengelola berpikir kritis dan berusaha membangun pabrik pengolahan limbah buah kelapa untuk menjadikan arang kemudian kami proses menjadi briket. Berikut pengolahannya.
 
Prose Pembuatan Arang Tempurung Kelapa secara Tradisional

“Pirolisis sebutan lain dari proses pembakaran yang tidak sempurna menghasilkan karbon (arang).”

Arang tempurung masih melalui beberapa tahap sampai menjadi briket yakni digiling di mixing kemudian dipress dengan menggunakan mesin press.
Setelah melalui proses penggilingan, mixing, kemudian pengepressan arang tempurung bisa dicetak sesuai permintaan produk.
Hasil tes analisa laboratorium dari BRIKET, sebagai berikut :
Total Moisture-7.38
Ash content-.71
Volatille Matter-14.74
Fixs Carbon-.17
Sulfur- 0.10
Gross Calorie Value-7027
Hardgrove Grandibility Index- 48
Permintaan ekspor yang begitu besar bisa mencapai 5000 ton/bulan, membuat kami ingin memproduksi briket arang tempurung yang nantinya kami pasarkan ke pasar ekspor.

Kami sudah memiliki banyak calon pembeli produk kami. ANDA tertarik dan pesan di PT. CAHAYA BUDI atas nama Stefanus Agus Setyono-Mobile : 081 334 812 678, 081 9385 04038.
Foto : dokumen PT. CAHAYA BUDI dan www.google.com/images

Misa Acies

Ingatkan Kembali Janji Legioner

Ratusan legioner dari 18 presidium di beberapa paroki memenuhi halaman Gereja Paroki Redemptor Mundi. 18 presidium yang tergabung dalam Kuria Mater Salvatoris dalam rangka menggelar Misa Acies 2012.

Acies merupakan acara akbar legio yang diadakan sekali dalam setahun. Biasanya Acies dirayakan setiap tanggal 25 Maret atau tanggal yang berdekatan. Acies sendiri berarti pasukan yang siap bertempur.

Kata yang berasal dari bahasa latin ini tepat digunakan untuk upacara di mana legioner sebagai suatu badan berkumpul untuk memperbaharui janji kepada Maria, ratu Legio, selain itu juga untuk menerima kekuatan dan berkat dari Maria sebagai bekal untuk pertempuran selama satu tahun yang akan datang dalam melawan kekuasaan setan.

Misa Acies kali ini mengusung tema “Per Mariam Ad Jesum”, Jumat (23/3) didahului perarakkan para legioner dengan membawa panji-panji presidium yang didominasi merah.

Usai perarakkan, perwakilan pembawa panji meletakkannya panji-panji presidium dan panji kuria dari Surabaya Barat, tongkat kebesaran dari legioner, dan Bunda Pelindung Legioner-Bunda Maria yang dihiasi kain putih dan bunga. Menggambarkan keagungan Bunda Pelindung, para Legioner.

Misa Acies pun dimulai oleh selebran utama Rm. Antonius Adrian Adiredjo, OP didampingi RD. Yustinus. Setelah berkat pembuka, Romo Adrian mengajak legioner. Untuk berdoa Rosario dipimpin oleh salah satu panitia dengan peristiwa sedih.

Legioner tampak khusuk dan hening berdoa doa Rosario Usai doa Rosario, Romo Adrian mengajak legioner untuk merayakan perayaan ekaristi.

Romo Andrian di homilinya menegaskan, sebagai legioner, kita berada di komunitas. Komunitas merupakan perayaan untuk mewujudnyatakan visi dan misi yang sehati dan sejiwa.

Untuk menumbuhkembangkan komunitas yang ramah dengan penuh persaudaraan dan kerukunan sangatlah sulit. Seperti yang kita dengar di bacaan I Kebijaksanaan 2:1a.12-22 bahwa kita harus sehati sejiwa bersamaNya. Ikut merasakan sukacitaNya. Hal ini telah diberikan kepada kita melalui teladan Bunda Maria. Mari meneladani dan belajar dari Bunda kita.

Untuk selalu hidup bersama, satu komunitas, satu saudara yang selalu menghargai dan mencintai. Janganlah kita meminta selalu dihargai dan dicintai, sebelum kita belajar menghargai dan mencintai saudara di komunitas kita, pesan Romo Adrian.

“Dan, itu salah satu prinsip yang mendasar, yakni kalau Anda ingin dicintai, buatlah diri Anda untuk mudah dicintai.”

Misa berlanjut dengan Aku Percaya dan pengulangan janji legio secara pribadi. Diawali oleh Romo, lektor, dan prodiakon, kemudian legioner maju berdua-dua, berlutut di depan veksilum besar, dengan tangan memegang bola dunia pada veksilum, lalu bersuara mantap mengucapkan janji kepada Bunda Maria: “Segala milikku adalah milikmu, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu, ya Ratu dan Bundaku”.

Setelah legioner maju, giliran pengulangan janji secara bersama-sama. Cukup berdiri di tempat masing-masing, dengan dipimpin Romo, kembali legioner mengucapkan janji penyerahan diri kepada Bunda Maria dengan format yang lebih panjang. Setelah itu semua selesai, misa kembali berlanjut seperti biasa.

“Sadarkah kita akan arti kata-kata tersebut? Jangan sampai kata-kata tersebut menjadi sekedar kata yang harus diulang tiap tahunnya.” (asep)