Nama Peserta (12 Finalis)
|
Jurusan
|
Andy Parts Lists
|
Ilmu Komunikasi
|
Evelina Larisa
|
Ilmu Komunikasi
|
Dimitry Daniel Adventus
|
Ilmu Komunikasi
|
Feldy Albineno
|
Farmasi
|
Rully Rachel Wadja
|
FKIP Bhs Inggris
|
Anita Oktavia Haliem L
|
FTP
|
Agnes Hadi Resita
|
Bisnis
|
Sagita Oetomo
|
FKIP Bhs Inggris
|
Catharina Hetty R. A.
|
Staf UKWMS
|
Victor Jonathan
|
Bisnis
|
Gisela Mariana Manu
|
Bisnis
|
Stefany Lestari
|
Bisnis
|
Senin, 09 April 2012
Unit Kegiatan Mahasiswa 3 Unika Widya Mandala, Surubaya
Minggu, 08 April 2012
Sambut Paskah
Lomba
mewarnai telur ini diikuti 107 anggota BIAK dengan kreteria penilaian,
diantaranya memaksimalkan penggunaan bahan, kerapian, kebersihan, kerjasama. telur
ditata tegak, dan maksimal durasinya 45 menit. Tri Hari Suci
Rabu, 04 April 2012
Briket Unik dan Cantik
a memilki kadar karbon cukup tinggi dibanding arang kayu. Kadar kalorinya pun cukup tinggi, mencapai 7000 Kcal. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil analisa laboratorium. Misa Acies

Ingatkan Kembali Janji Legioner
Ratusan legioner dari 18 presidium di beberapa paroki memenuhi halaman Gereja Paroki Redemptor Mundi. 18 presidium yang tergabung dalam Kuria Mater Salvatoris dalam rangka menggelar Misa Acies 2012.
Acies merupakan acara akbar legio yang diadakan sekali dalam setahun. Biasanya Acies dirayakan setiap tanggal 25 Maret atau tanggal yang berdekatan. Acies sendiri berarti pasukan yang siap bertempur.
Kata yang berasal dari bahasa latin ini tepat digunakan untuk upacara di mana legioner sebagai suatu badan berkumpul untuk memperbaharui janji kepada Maria, ratu Legio, selain itu juga untuk menerima kekuatan dan berkat dari Maria sebagai bekal untuk pertempuran selama satu tahun yang akan datang dalam melawan kekuasaan setan.
Misa Acies kali ini mengusung tema “Per Mariam Ad Jesum”, Jumat (23/3) didahului perarakkan para legioner dengan membawa panji-panji presidium yang didominasi merah.
Usai perarakkan, perwakilan pembawa panji meletakkannya panji-panji presidium dan panji kuria dari Surabaya Barat, tongkat kebesaran dari legioner, dan Bunda Pelindung Legioner-Bunda Maria yang dihiasi kain putih dan bunga. Menggambarkan keagungan Bunda Pelindung, para Legioner.
Misa Acies pun dimulai oleh selebran utama Rm. Antonius Adrian Adiredjo, OP didampingi RD. Yustinus. Setelah berkat pembuka, Romo Adrian mengajak legioner. Untuk berdoa Rosario dipimpin oleh salah satu panitia dengan peristiwa sedih.
Legioner tampak khusuk dan hening berdoa doa Rosario Usai doa Rosario, Romo Adrian mengajak legioner untuk merayakan perayaan ekaristi.
Romo Andrian di homilinya menegaskan, sebagai legioner, kita berada di komunitas. Komunitas merupakan perayaan untuk mewujudnyatakan visi dan misi yang sehati dan sejiwa.
Untuk menumbuhkembangkan komunitas yang ramah dengan penuh persaudaraan dan kerukunan sangatlah sulit. Seperti yang kita dengar di bacaan I Kebijaksanaan 2:1a.12-22 bahwa kita harus sehati sejiwa bersamaNya. Ikut merasakan sukacitaNya. Hal ini telah diberikan kepada kita melalui teladan Bunda Maria. Mari meneladani dan belajar dari Bunda kita.
Untuk selalu hidup bersama, satu komunitas, satu saudara yang selalu menghargai dan mencintai. Janganlah kita meminta selalu dihargai dan dicintai, sebelum kita belajar menghargai dan mencintai saudara di komunitas kita, pesan Romo Adrian.
“Dan, itu salah satu prinsip yang mendasar, yakni kalau Anda ingin dicintai, buatlah diri Anda untuk mudah dicintai.”
Misa berlanjut dengan Aku Percaya dan pengulangan janji legio secara pribadi. Diawali oleh Romo, lektor, dan prodiakon, kemudian legioner maju berdua-dua, berlutut di depan veksilum besar, dengan tangan memegang bola dunia pada veksilum, lalu bersuara mantap mengucapkan janji kepada Bunda Maria: “Segala milikku adalah milikmu, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu, ya Ratu dan Bundaku”.
Setelah legioner maju, giliran pengulangan janji secara bersama-sama. Cukup berdiri di tempat masing-masing, dengan dipimpin Romo, kembali legioner mengucapkan janji penyerahan diri kepada Bunda Maria dengan format yang lebih panjang. Setelah itu semua selesai, misa kembali berlanjut seperti biasa.
“Sadarkah kita akan arti kata-kata tersebut? Jangan sampai kata-kata tersebut menjadi sekedar kata yang harus diulang tiap tahunnya.” (asep)
UKWMS


Sambut RUA-PTIK KE-29
di Unika Widya Mandala Surabaya
Terakhir kalinya Rapat Umum Anggota Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (RUA-APTIK) ke-28 diselenggarakan di Semarang. Kali ini RUA-APTIK ke-29 diselenggarakan di kota Pahlawan, Surabaya. Anggota APTIK mempercayakan kepada Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) sebagai tuan rumah, Senin-Kamis, 12-15 Maret 2012 di Bangkok Room, Hotel Mercure – Grand Mirama Surabaya.
RUA-APTIK mengusung tema “Peningkatan Kualitas Perguruan Tingkat Katolik melalui Manajemen dan Tata Kelola Keuangan”. Tema ini diambil untuk mengupayakan pengelolaan perguruan tinggi secara otonom, akuntabel, dan transparan. Dengan begitu membuka peluang bagi penyelenggara perguruan tinggi. Untuk dapat melakukan berbagai langkah terobosan yang inovatif dan kreatif.
Selain membahas permasalahan di atas, RUA-APTIK juga membahas agenda internal organisasi dengan narasumber, yakni Romo Paulinus M. Simbolon, OFM.Cap dan Michael T. Tjoajadi dari salah satu lembaga yang mengelola keuangan dan Lembaga manajer yang mengelola reksadana tersebar di Indonesia, jabar Anastasia humas UKWMS.
Sebelum RUA-APTIK dimulai, Humas UKWMS menggelar konferensi pers (12/3) di hotel Mercure dengan narasumber Ricahrdus Djokopranoto, Ketua APTIK, Penulis Buku “Wealth Management untuk Penyelenggaraan Perguruan Tinggi”. Ricahrdus pernah bekerja di industri perminyakkan dengan karir terakhir Kepala Divisi Logistik Pertamina. Dan, Prof Bernadette Setiadi, Sekretaris APTIK. Moderatornya Kuncoro Foe, Ph.D., Ketua Panitia Penyelenggara RUA-APTIK 2012, Wakil Rektor I UKWMS.
Usai konferensi pers, Panitia mengawalinya perayaan ekaristi di Gereja Hati Kudus Yesus dengan selebran Mgr. V. Sutikno Wicaksono didampingi Mgr. Aloysius Sudarso, Ketua Komisi Pendidikan KWI dengan RD. Jelantik, Pastor Paroki Santa Maria Tak Bercela, Ngagel. Tampak pula dengan khusuk mengikuti perayaan ekaristi di altar Duta Besar dari Vatikan, Nunsio Apostolik Mgr. Antonio Guido Filipazzi.
Semakin meriah pula, Reog Ponorogo menyambut para anggota RU-APTIK di halaman depan UKWMS dengan berbagai antraksi dan tarian Kuda Lumping. Satu per satu dua anggota dari APTIK diangkat naik di atas kepala Reog, yakni Romo Antonius Subiyanto, OSC dan Almeteus Setyamarsudi, Se.Ak. menuju pintu masuk.
Tak hanya Reog Ponorogo, berbagai hiburan, yakni musik tradisional Angklung, Kulintang, dan tari parade nusantara memeriahkan RUA-APTIK tahun ini. Dan, secara resmi RUA-APTIK dibuka pemukulan gong Nunsio Apostolik Mgr. Almeteus didampingi bapak Uskup Surabaya, Ketua Komisi Pendidikan KWI, Perwakilan dari Yayasan UKWMS, dan Ketua APTIK di auditorium Benediktus. (asep)
Anton Ferry Kurniawan Mutter

Di Tangan Sang Dirigen, Raih Segudang Prestasi
Sambil asyik duduk di Café Petra Toga Mas, Anton menceritakan kisah menjadi Dirigen. Keasyikkan blogger berbincang bersama Anton semakin seru dengan ditemani secangkir minum yang menyegarkan sampai pukul 17.00 WIB.
Nama Anton Ferry Kurniawan Mutter didengar bagi komunitas paduan suara di Keuskupan Surabaya tidaklah asing, terutama Orang Muda Katolik.
Pria yang lahir di kota Pahlawan, menuturkan, kegemaran mendengarkan musik gerejawi dan nyanyian klasik, semisal lagu inkulturasi daerah. Awal mula ketertarikkan Anton memulai belajar paduan suara dan menekuni dunia olah vokal. Tahun 1998, Anton aktif tergabung di paduan suara Orang Muda Katolik Santa Caecilia di Gereja Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, akunya.
Berbekal dari ketekunannya Anton memberanikan diri dan semakin belajar notasi angka dan balok. Talenta Anton semakin berkembang dengan belajar dari pengalaman melalui Kak Kiem. Melihat perkembangan Anton, Kak Kiem menunjuk Anton menjadi dirigen. Pertama kalinya di tahun 2001, Anton memimpin paduaan suara Santa Caecilia Perayaan Ekaristi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, tutur pria yang lahir 16 Mei 1983.
Keberanian menjadi dirigen ini membuahkan hasil dan mulai bergabung di kelompok paduan suara di Surabaya, diantaranya Ubaya Choir, KPMG, dan Eliata, tambahnya.
Berlanjut sampai tahun 2003, anggota paduan suara Santa Caecilia mempercayai sepenuhnya kepada Anton sebagai ketua. Keterkejutan ini membuat dirinya tidak patah semangat dalam belajar olah vokal. Melainkan menjadi pemicu tersendiri untuk semakin tertantang mendalaminya.
Berangkat dari rasa tantangan di dunia olah vokal. Anton menuturkan, mengajar di SDK Santa Clara, Ngagel sesuatu hal yang menarik baginya. Karena, bagian dari tujuan Anton untuk melayani Tuhan, menumbuhkembangkan bakat minat anak-anak setingkat sekolah dasar, dan lebih mudah melatih mereka. Selain itu, memerlukan kesabaran dan ketelatenan dalam mengajari mereka. Anton mengaku sebagai pelatih paduan suara anak-anak mau tidak mau jiwa kreatifitas lebih ditonjolkan dan memberikan arasemen yang sederhana, tuturnya.
Alhasil, berkat ketelatenannya, Anton membawa Paduan Suara SDK St. Clara meraih juara II di festival Paduan Suara tingkat Nasional dan Juara I di Gramedia Ayo Menyanyi,” jabar anak ke-4 dari 4 bersaudara pasutri F. Ferry Dinanto dan Theresia Paidjah.
Buah kemenangannya, Anton melebarkan sayapnya melatih di beberapa paroki. Diantaranya Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen (wilayah Gabriel), Stasi Santo Agustinus-wilayah 14 (Santa Katarina), Paroki Santo Marinus Yohanes (Rekat dan BIAK), Paroki Yohanes Pemandi (BIAK), Xinzhong Laguna, dan Paroki Redemptor Mundi (Santo Gabriel). Bahkan di tahun 2008, dia juga mengajar di TK Santa Maria.
Tidak hanya melebarkan sayapnya dengan melatih, mengajar, dan sharing antar dirigen. Anton membekali diri ikut pelatihan di Yogyakarta, yakni Pusat Musik Liturgi (PML) yang diasuh oleh Karl-Edmund Prier, SJ dan Paul Widyawan. Dan, dia juga mengikuti pelatihan di Bandung Choral Society.
Skill itulah yang sampai saat ini dipegang dalam melatih kelompok-kelompok paduan suara di Surabaya. Di tahun 2008 pula, dia bersama teman-temannya mendirikan kelompok paduan suara Angeli Vox Choir dengan melihat keprihatinan koor manten yang serba minim dan dilaksanakan pada jam kerja. Padahal momen ini sekali seumur hidup, sambung alumni Ubaya, jurusan Teknik Informatika. (asep)
Foto : dokumen Anton


