Minggu, 10 Juni 2012

Cagar Budaya Kota Surabaya





Foto dibidik Rabu (6/6/12) oleh Asep.

SD Santa Maria Surabaya


Raih Adiwiyata Mandiri Nasional

Kamis lalu (7/6/12) saya ditemui oleh Guru-Guru SD Santa Maria, yakni Yunitha Ike Christyowati, S.Pd., Resdiana, S.Pd., SD, dan H. A. Endang Widayati, S.Pd. Di ruangan Kepala Satuan Pendidikan. Untuk berbincang mengenai lingkungan hidup di SD Santa Maria Surabaya. SD Santa Maria telah meraih Adiwiyata Mandiri tingkat Nasional.

SD Santa Maria Surabaya yang terletak di jalan Tumapel lingkungannya sangat sejuk dan bersih. Di kawasan sekolah yang berada dinaungan Yayasan Paratha Bhakti dipenuhi pohon yang dirindang.
Bahkan memasuki gerbang SD Santa Maria terpampang tulisan SD Santa Maria yang dikeliling tanaman hias. Dan, terlihat jelas hasil karya daur ulang dari siswa-siswinya. Itulah SD Santa Maria yang baru-baru  ini meraih Adiwiyata Mandiri tingkat Nasional. Penghargaan Adiwiyata Mandiri tingkat Nasional diberikan langsung oleh Bapak Presiden, Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara.

Untuk meraih Adiwiyata Mandiri  tingkat Nasional membutuhkan proses perjuangan yang panjang. Tahun 2008 SD Santa Maria mendapat kepercayaan dari Kepala UPTD, yakni Ibu Sumilah. Ibu Sumilah menunjuk SD Santa Maria untuk mengikuti lomba lingkungan hidup mewakili kecamatan Tegalsari tingkat kotamadya dan berhasil mencapai di tingkat kota madya. Sampai diundang oleh Walikota Surabaya dalam rangka Hari Jadi kota Surabaya.

Awal mula, kami dari SD Santa Maria hanya mengikuti lomba lingkungan hidup, tetapi Ibu Sumilah mempersiapkan dan mencalonkan SD Santa Maria ke tingkat Adiwiyata. Saat itu kami belum mengetahui apa itu Adiwiyata? Dikarenakan kami disibukkan dengan Serviam Camp. Tawaran itu kami tidak sia-siakan, kami mulai studi literatur yang disupport oleh Suster Diah, OSU. Kami bersyukur mempunyai Kepala Satuan Pendidikan baik yang dahulu maupun sekarang selalu memberikan semangat kami. Hingga kami tidak tanggung-tanggung dalam bekerja.

Setelah itu kami studi banding dengan SDK St. Theresia I yang terlebih dahulu meraih Adiwiyata atas prakarsa Bapak Joko. Tak disangka, untuk mencapai ke tingkat provinsi dan nasional kami membutuhkan waktu dan proses yang panjang, terutama dokumen-dokumennya. Dokumennya ada 4 komponen yang harus dipersiapkan. Diantaranya kebijakkan sekolah, kurikulum sekolah, partisipasi masyarakat, dan sarana prasarana.

Maksud dari kebijakkan sekolah ini, setiap melakukan kegiatan dan penunjukkan tanggung jawab harus disertakan Surat Keputusan dari Kepala Satuan Pendidikan dan disertai check list di setiap program yang akan dijalankan oleh penanggungjawabnya. Seperti contoh pengontrolan air dan mematikan kran air harus ada surat keputusan penunjukkan petugasnya. Sampai penggunaan listrik, yakni AC. AC mulai dihidup pukul 07.00 WIB sebagai gerakkan penghematan listrik. Bahkan sampai piket siswa, petugas menggiling kertas bekas dan tanggung jawab ruang diwajibkan ada surat keputusan.

Untuk kurikulum sekolah, di setiap mata pelajaran yang diajarkan diwajibkan menyertakan materi yang berkaitan dengan lingkungan hidup. Tercatat di Rancangan Proses Pembelajaran, Program Tahunan, dan Program Semester. Semisal mata pelajaran Matematika tentang materi mengukur luas kebun, mata pelajaran IPA tentang pengamatan proses pertmbuhan tanaman.

Sedangkan partisipasi masyarakat, kami merangkul PKL, warga sekitar, instansi terkait, dan petugas kebersihan. Kami mengajak PKL dan petugas kebersihan sekitar sekolah dengan membuat tong sampah dari ban bekas yang diletakkan disamping stan mereka. Dan, peka pada lingkungan melalui sosialisasi tentang lingkungan sehat. Kami juga bekerja sama bersama warga sekitar mengumpulkan sampah untuk dipilah-pilah mulai sampah basah, kertas, dan plastik. Sampah basah didaur ulang menjadi pupuk kompos, sampah kering, kertas, dan plastik menjadi daur ulang seperti vas bunga, tas, dan tempat tissue. Bahkan kami bekerja sama instansi terkait memberikan materi lingkungan hidup, seperti Tunas Hijau dan BLH Kota.

Sampai di kompenen yang keempat mengenai sarana prasarana, kami membuat dan mendesain tiga tempat sampah, yakni sampah basah, kertas, dan plastik. Kami juga mempunyai poster-poster yang dipasang di sekitar lingkungan, yakni “Mari kita tingkatkan Budaya 3R (Reuse, Reduce, and Recycle), Birunya Langitku-Hijaunya Halamanku-Putihnya Hatiku.”

Resdiana, S. Pd., SD. mengakui untuk memenuhi keempat komponen tidak mudah yang saya bayangkan. Kami membutuhkan waktu tersendiri. Kami merelakan pulang sampai sore, bahkan larut malam membuat laporan lingkungan hidup.

“Alhasil, laporan sudah selesai, tetapi setelah dicek kembali. Laporan masih ada beberapa yang salah . Sampai-sampai kami mencetak ulang lembar-lembar yang salah. Baru yang ketiga kali, benar-benar dikatakan sudah selesai dan dapat dijilid”, aku Diana.

Perjuangan kami berlanjut ke tingkat provinsi. Tahun 2009 meningkatkan diri di tingkat provinsi, kami mulai membuat Green House. Di Green House kami menanam tanaman toga, vertical culture (tanaman bertingkat), dan relief.

Kami membuat relief di belakang sekolah seperti graffiti yang bahan bakunya dari semen. Dilengkapi dengan tanaman hias. Dalam perkembangannya, Sr. Diah, OSU melihat di sekitar sekolah kami banyak lidah buaya. Kami binggung menguranginya, daripada di buang sia-sia. Tidak mencerminkan lingkungan hidup, akhirnya kami berinisiatif mengolahnya menjadi es lidya buaya.

Es lidya buaya menjadi ikon unggulan di lingkungan hidup kami. Ikon es lidya buaya berkat prakarsa Sr. Diah, OSU. SD Santa Maria Surabaya meraih  Adiwiyata Nasional. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup.

Kami mempertahankan Gelar Adiwiyata Nasional dengan mencanangkan program berlanjutan melalui keragaman hayati. Kami menumbuhkembangkan kepekaan dan kepedulian siswa-siswi kami. Setiap siswa-siswi membawa tanaman sendiri. Tidak hanya membawa tanaman, siswa-siswi dibimbing cara merawat tanamannya dengan baik. Dengan menggelar Jumat bersih setiap pukul 09.15 sampai 09.30 WIB. Dan, setelah doa malaikat Tuhan pukul 12.00 WIB siswa-siswi mengumpulkan sampah di sekitar sekolah. Membuangnya di tempatnya. Bukan hanya itu setiap hari, siswa-siswi membawa koran, kertas, dan botol bekas. Siswa-siswi menjadikannya barang berharga dan hasilnya dijual kepada orang tua.

Buku bekas, cerita, dan komik mereka kumpulkan disumbangkan di sekolah. Ada yang disewakan dan dijual kepada teman-temannya. Bahkan siswa-siswi juga diajarkan untuk mengelola keuntungannya.
Sampai salah satu siswi mewakili sekolah mengikuti lomba Eco Preuneurship tahun 2010 dan meraih juara I. Dan, sampai saat ini orang tua dan siswa-siswi lingkungan hidup menjadi bagian dari hidup mereka. Bukan kebiasaan baru bagi mereka, melainkan menjadi budaya mencintai lingkungan hidup, papar Endang. (asep)