Rabu, 31 Maret 2010

Keseimbangan


Tema APP Selaras Dengan MusPas

”Paskah ditandai dengan Rabu Abu, Bertobatlah dan Percayalah Pada Injil. Dengan begitu berikanlah dirimu didamaikan Allah. Karena sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan.”

Sebelum memasuki Tri Hari Suci, kita sebagai umat Katolik menjalani masa prapaskah. Prapaskah merupakan masa retret agung yang kita jalani sebelum merayakan Paskah. Retret agung kita jalani melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP). APP ini salah satu wujudnyata dari pantang puasa kita selama merefleksikan makna hidup kita sepanjang prapaskah hingga paskah.

Tema umum APP dari KWI, yakni ”Kesejatian Hidup Dalam Keluarga”. Namun di pihak Keuskupan Surabaya dirumuskan kembali menjadi tema yang sesuai kebutuhan umat Katolik Keuskupan Surabaya, yakni ”Aku Cinta Keluarga”.

Melihat dari kata AKU ini di dalam keluarga terdapat anggota. Diantaranya ayah, ibu, kakak, dan adik. Keanggotaan ini mempunyai peranan yang saling mempengaruhi dalam hidup berkeluarga. Terutama ayah dan ibu, kadang tingkah laku mereka ditirukan oleh anak-anak mereka. Ada peribahasa mengatakan bahwa buah itu tidak jauh dari pohonnya. Segala kemiripan pasti meniru dari pohonnya.

Hal ini juga sama dengan keluarga, bila ayah dan ibu mempunyai kebiasaan baik atau buruk. Mau tidak mau akan tercermin pada anak-anak mereka. Jadi, ketika sesuatu yang tidak berkenan untuk anak-anak. Janganlah melakukan hal itu dihadapan anak-anak. Karena perkembangan anak itu masih luas melalui daya tangkap atau rekamnya masih tinggi. Dan, segala tingkat laku ayah dan ibu akan ditirunya. Apalagi yang mudah ditirunya tingkah laku yang ”negatif”.

Dengan begitu tepat sekali Keuskupan Surabaya mengambil tema APP tersebut. Melalui tema itu, umat diajak untuk menjalin relasi dengan anggota keluarganya. Keluarga dapat menumbuhkembangkan relasi melalui rutinitas sehari-hari. Tetapi zaman sekarang rutinitas saat ini dijalani sendiri-sendiri. Untuk tatap muka dengan anggota keluarga potensinya kecil sekali. Untuk hal ini perlu adanya waktu, sehingga relasi dapat tercipta dengan erat. Minimal seminggu dalam keluarga ada pertemuan yang sifatnya rileks. Dengan cara makan, nonton televisi, shopping ke mall, dan doa bersama.

”Dengan begitu relasi antara keluarga menjadi harmonis. Dan, kunci paling tepat dalam hubungan keluarga, yakni keberlangsungan dalam berkomunikasi antara anggota. Memahami kebutuhan anggota dan memberikan kebebasan bereksplorasi di lingkungannya. Tetap adanya kontrol sosial melalui ayah dan ibunya.”

Seperti yang dikatakan oleh Yohanes Berchmans Yan Sastra (54), selaku Ketua I Dewan Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen bahwa keluarga harmonis itu saling memahami peran masing–masing, guyub, keterbukaan, dan tidak egois. Dan, untuk membentuk keluarga yang harmonis.

Bapak kelahiran Ruteng Flores ini mendidik anak-anaknya agar telibat dalam pelayanan gereja dan lingkungan. Diantaranya doa lingkungan, pelajaran agama, koor, kolektan dan tatib, tambahnya bapak yang lahir pada tanggal 9 Januari 1956.

Senada dengan Edy Joko Prasetyo (48), selaku ketua Seksi Liturgi Paroki Kelahiran Santa Perawan Maria, Kepanjen, keluarga harmonis merupakan keluarga yang hidup secara harmonis tanpa ada pertengkaran dalam keluarga dan hidup rukun.

Edy juga mengajarkan kepada ke dua putranya untuk saling mengasihi satu sama lain. Dan, jika jika ada pertengkaran harus saling memberikan pengertian satu dengan yang lain, seperti koreksi diri. Penyelesaiannya pada saat itu juga dan jangan sampai berlarut-larut, karena itu berbahaya sekali bagi keharmonisan keluarga kita, jelas bapak yang menikah di Santa Maria Purworejo, 1 juni 1994.

Terpenting dalam diri anak memberikan kepercayaan dan tanggungjawab karena mereka sebagai generasi Gereja yang mempunyai iman kristiani yang tangguh.

Tema APP 2010 juga dikuatkan melalui hasil dari Musyawarah Pastoral (MusPas). MusPas yang telah dilaksanakan pada November tahun lalu ini menghasilkan arah dasar Keuskupan Surabaya 2010-2019.

Isi dari Arah Dasar ini rumusan cita-cita bersama tentang Gereja, yakni ”Gereja Keuskupan Surabaya sebagai persekutuan muri-murid Kristus yang semakin dewasa dalam iman, guyub, penuh pelayanan dan misioner.”

”Rumusan ini juga menghasilkan prioritas program bidang pastoral, nilai-nilai hidup, dan prinsip atau semangat motivasional. Diantaranya keluarga dan orang muda.”
Di arah dasar ini, keluarga menekankan pengembangan kuantitas dan kualitas pendampingan bagi calon pasutri dan pasutri. Keluarga diharapkan adanya keterlibatan dalam pastoral keluarga, salah satunya kesaksian dengan ketulusan dalam berkomunikasi dan melayani keluarga muda atau keluarga lainnya.

Tidak hanya itu perlu adanya pemberdayaan keluarga melalui keharmonisan keluarga. Karena kehadiran setiap pribadi anggota keluarga adalah sungguh berharga. Ada saatnya kita sebagai anggota keluarga berdiam diri untuk menjalin relasi dan komunikasi antara anggota. Sehingga keluarga menjadi teladan bagi anak-anak dan mengajarkan kejujuran untuk bertindakan tanpa merugikan orang lain.

Lanjut, begitu juga dengan Orang Muda Katolik. Orang Muda Katolik saatnya diberi pembekalan melalui kepercayaan melakukan kegiatan yang sifatnya besar. Karena di situ, mereka lebih berani belajar dan tidak takut salah. Untuk melakukan sesuatu untuk Gereja.

”Orang Muda Katolik, salah satu generasi yang mempunyai potensi yang tinggi dalam menumbuhkembangkan Gereja. Dan, para orang tua juga harus berani mengkader potensi Orang Muda Katolik.”

Di tingkatan paroki, Dewan Paroki perlu adanya penyelenggaraan pelatihan kaderisasi melalui kepemimpinan tingkat dasar dan berkelanjutan. Dan, hal ini diperlukan kesediaan berbagi dan berkorban.

Dengan begitu pertumbuhan Gereja semakin pesat, seperti apa yang ditulis oleh Alm. Romo Mangunwijaya bahwa Gereja Dispora itu perlu diterapkan. Tidak lagi berbentuk piramida mengkerucut, tetapi membentuk sel-sel di mana para hirarki menjadi fasilitator.

Dan, tema APP tidak hanya sekedar momen prapaskah, tetapi menjadi komitmen bersama dalam menumbuhkembangkan keluarga yang guyub dan harmonis. Bahkan, arah dasar dari musyawarah pastoral menjadi pemicu pengembangan Gereja di tingkat paroki. Arah dasar ini akan selalu dimonitoring oleh Keuskupan Surabaya. (asep)

Tidak ada komentar: