Rabu, 31 Maret 2010

Ulang Tahun Imamat, John Tondowidjojo CM


Sindir Cendikiawan Jarang Berdoa

Bertepatan dengan Minggu Palma dan Minggu terakhir dalam akhir bulan, Romo John Tondowidjojo, CM merayakan pesta imamat bersama bersama anggota Ikatan Sarjana Katolik (ISKA), Minggu (28/3) di gedung Fransiskus Xaverius, Universitas Katolik Widya Mandala, lantai 4.

Dalam perayaannya, Romo John Tondowidjojo ini merayakannya secara sederhana sekali dengan perayaan ekaristi. Karena menurut beliau dengan perayaan ekaristi semakin disatukan panggilan imamatnya. Dan, perayaan ekarsiti bagian dari ucapan syukur atas segala rahmat yang diterimanya dalam perjalanan imamatnya.

Dalam homilinya, Romo Tondo menjelaskan bahwa awalnya Yesus dielu-elukan sebagai raja orang Yahudi. Sampai dihadapan Pilatus dan Herodes, Yesus dikhianati oleh orang Yahudi, karena menganggap diriNya seorang raja, Ini semua ulah dari pemuka agama, ahli taurat, dan orang farisi.

“Ini salah satu bentuk dari manipulasi informasi pada zaman itu. Dan, ini juga diawali di bangsa Indonesia. Dengan memutarbalikkan kebenaran. Yang benar menjadi salah, yang salah menjadi benar.”

Romo Tondo mengajak kepada para cendikiawan untuk jangan muda tergoda pada manipulasi informasi terutama taktik adu domba. Sebagai umat Katolik hendaknya selalu mengimani sikap Katolik kita dengan mengingat kembali komitmen kita pada janji permandian kita.

”Dan, kita sebagai para cendikiawan jangan lupa akan iman Katolik kita dan berdoa. Sediakan waktu untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Jangan sibuk pada rutinitas kita, sehingga tidak ada kata untuk berdoa bersama Tuhan.”

Hadirkan Tuhan di hati kita, terutama tahun ini merupakan tahun keluarga. Pergunakan waktu-waktu kita untuk berkumpul bersama keluarga. Keluarga salah satu anggota tubuh yang paling berharga, tambahnya.

Setelah perayaan ekaristi, Romo Tondo memberikan hadiah kepada Silvester atas komuni pertamanya. Dan, menginstruksikan kepada para undangan untuk menyebutkan angka dari 1 sampai 100. dimulai dari bangku deretan depan sampai belakang, ajak Romo Tondo.

Ternyata yang diinstruksikan tersebut menyangkutkan tanggal ulang tahun imamatnya. Ulang tahun imamat ke 47. Romo mengajak lima orang yang telah menyebutkan angka 47. Dan, ada 5 orang yang menyebutkannya. Padahal hadiahnya hanya satu berupa gambar monstran.

Dengan cara diundi, akhirnya salah satu ibu yang mendapatkannya. Untuk 100 para undangan yang hadir mendapat Oremus yang berisi doa pagi dan malam bersama keluarga disusun oleh Romo Lorenstius Iswandir, CM.

Tidak hanya membagikan Oremus, Romo Tondo juga mengajarkan cara berdoanya, yakni doa pagi cara pertama. Oremus ini juga telah mendapat Imprimatur dari Keuskupan Surabaya oleh Romo Dwi Joko pada tanggal 22 Februari 2010.

Diharapkan dengan memperolehnya Oremus, para cendekiawan semakin rajin berdoa pagi bersama keluarga. Setelah membagikan Oremus, Romo Tondo mensharing pengalaman panggilannya selama menjadi romo, misalnya setiap kali mendapat uang dari umat pasti ada yang meminta. Dan, jumlahnya pasti sama. Pengalaman panggilan itulah yang menguatkan bagi Romo Tondo.

Bagi beliau, pemberian dari umat itu bukan untuk beliau. Tetapi untuk umatnya. Romo Tondo hanya sebagai penyalur kebaikan Tuhan, sharing romo yang rajin berdoa tiga salam Maria ini.

Romo juga berpesan kepada para undangan bahwa di tahun keluarga ini, hendaknya kita memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Dan, berpikir selalu pada ”How to do duit?, tetapi How to do it? Karena segala perilaku kita akan difotokopi oleh anak kita, pesannya.

Acara dilanjutkan dengan diskusi interaktf dari arah dasar Musyawarah Pastoral tentang arah dasar prioritas pastoral Keuskupan Surabaya 2010-2019. (asep)

Tidak ada komentar: